Dinamika Politik & Perubahan Sosial

Oleh Khairul Ahmadi*)

Dewasa ini sikap sinisme politik semakin pekat menyelimuti kehidupan perpolitikan. Dinamika yang berkembang pesat menyebabkan pro kontra yang sangat signifikan, yang menyebabkan sikap anti-politik dan cinta akan politik menjadi rivalitas yang begitu menohok dalam dunia perpolitikan.

Kehidupan Politik sebenarnya sebagai proses perwujudan perubahan yang cepat. Bagaimana tidak, politik adalah senjata yang tepat untuk menghancurkan kemiskinan dan ketimpangan. Seperti yang dinyatakan oleh Ambrose Bierce, politik sendiri melibatkan suatu pertemuan antara kepentingan-kepentingan dan asas-asas yang berkonflik. Kelompok-kelompok terorganisir tawar-menawar berkompromi untuk mewujudkan kepentingan-kepentingan mereka. Digerakkan oleh keinginan pragmatik untuk sukses, para politisi bisa melanggar asas-asas moral dalam pengejaran kepentingan-kepentingan mereka. Oleh karenanya, menurut Ambrose Bierce sendiri, semakin banyak kelompok yang berkonflik dalam hal meraih kepentingan kelompok, maka semakin banyak keuntungan yang didapat. Karena konflik tersebut akan melahirkan kesepakatan-kepakatan yang saling menguntungkan masing-masing kelompok dan juga masyarakat.

Melansir dinamika politik yang ada di Amerika Serikat dan Eropa, politik ditandai dengan adanya pemilihan. Konflik yang berkepanjangan melibatkan beberapa organisasi partai dalam proses merebut kekuasan, dijadikan sebagai bahan tolok ukur untuk menandakan bahwa politik saat itu sedang di puncaknya atau tidak diminati sama sekali. Timbulnya konflik dalam medan peperangan disebabkan oleh adanya tujuan-tujuan dan kepentingan kelompok yang berbeda. Kekuasaan yang diraih tentu akan memberikan dampak yang sangat menguntungkan bagi pemenang, mengingat kekayaan sumber daya alam yang melimpah, proyek-proyek pembangunan, dan juga bantuan-bantuan sosial terhadap masyarakat berada di tangan sang pemilik kekuasaan. Oleh karenanya, tidak heran jika dalam prosesnya hal-hal menyimpang kerap dilakukan demi kekuasaan, politik yang didalihkan sebagai “win win solution” menjadi politik yang menghalakan segala cara. Walaupun setelah mendapatkan kekuasaan kepentingan rakyat tetap diutamakan. Namun, politik sehat, cerdas dan berintegritas merupakan hal yang harus diterapkan oleh para politisi, karena sesuatu hal di mulai dengan cara yang baik, akan mengahasilkan hal-hal yang baik jua. (Thommas Hobbes 1588-1956)

Kehidupan politik sendiri terbagi atas beberapa sub-sub yang di dalamnya tersirat kiat untuk menciptakan perubahan sosial dengan skala yang cepat berdasarkan pembangunan, pengalokasian anggaran yang tepat sasaran. Politik sendiri bukan hanya berkaitan dengan kepentingan pribadi dan kekuasaan, melainkan asas-asas moral dengan nilai-nilai yang abstrack seperti kepentingan nasional, kesejahteraan umum, kemaslahatan bersama, kehendak umum, dan kehormatan sosial. Proses loby dan perdebatan kesepakatan merupakan langkah untuk terciptanya kemaslahatan bersama, dan celakanya hal ini dikatakan sebagai kepentingan pribadi oleh publik. Namun bukan kesalahan juga jika banyaknya pernyataan-pernyataan buruk tentang semua kegiatan politik. Bagi politisi hal itu merupakan bahagian dari strategi untuk mendapatkan kesepakatan yang sesuai dengan yang diharapkan, proses perdebatan menyebabkan para politisi harus pandai berdalih dan memainkan logika yang dicampuri dengan pernyataan yang terkadang bertolak belakang dengan fakta, hanya untuk tercapainya tujuan utama. Karena dengan begitu, harapan-harapan yang sudah terpeta dalam benak fikiran terkait Kepentingan Publik, akan terwujud jika kekuasaan sudah di tangan. Oleh karenanya, kecerdasan dan kemantapan talenta politisi dibutuhkan dalam hal ini.

Lagi-lagi Amerika menjadi contoh yang praktis menyikapi kehidupan politik sebagai proses terciptanya perubahan sosial dengan cepat. Politik bagi banyak orang di Amerika, merupakan persaingan asas yang berganti menjadi persaingan yang abstrak, setiap individu berupaya untuk mencerdaskan diri dalam bidang politik, bersaing dengan kompetitif dan sportif merupakan hal konkret yang dilakukan oleh setiap individual-individual di negara itu. Karena bagi banyak orang di sana mempercayai bahwa kehidupan politik termasuk hal final yang akan menetukan baik buruknya kehidupan di masa yang akan datang, dan dunia politik harus di penuhi oleh orang-orang yang cerdas dan berintegritas. Karena dalam prosesnya dinamika politik akan berdampak baik jika politisi tersebut dibekali dengan hal-hal seperti pandai dalam berbicara, sigap dan tanggap dalam kondisi yang memprihatinkan, peka terhadap lingkungan sosial, bijak dalam mengambil keputusan, memiliki strategi yang melimpah untuk pembangunan, serta menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran, kegigihan, dan keadilan. Begitu juga dengan sebaliknya, jika kehidupan politik dipenuhi oleh orang-orang yang tidak dibekali secara mendasar dengan ilmu-ilmu perpolitikan, maka bersiaplah menjadi publik yang mengidamkan pembangunan hanya sebatas angan-angan, bagaikan marmut yang berlari di roda yang berputar, merasa sudah berlari dengan sangat jauh, padahal masih di tempat yang sama. (Amerika Walt Whitman, 1856)

Lalu apa yang sebenarnya yang menyebabkan ada masyarakat dengan perasaan anti-politik? Dan kenapa politik selalu dianggap buruk oleh masyarakat? Bahkan Sebaik apapun kegiatan politik, tetap buruk di mata masyarakat.

Berkaitan dengan hal di atas, tahun 1972 silam menjadi pedoman untuk menjawab teka-teki tersebut. Berdasarkan hasil survey pada saat itu hanya sebanyak 28% populasi Amerika yang percaya terhadap pemimpin kekuasaan. Selebihnya mengkategorikan kehidupan politik bagaikan kehidupan penjual mobil bekas karena tidak kompeten, kurang jujur, dan kurang altruis (perhatian pada kepentingan umum) atas dasar cerita historys peristiwa yang lalu, bukan sepenuhnya dialami oleh setiap individu atau kelompok. Celakanya, opini tersebut sudah menjadi budaya dan secara turun temurun akan diwarisi kepada setiap garis keturunan, jadi tidak heran jika banya ditemukan individu/kelompok yang mengatakan kehidupan politik selalu berkaitan hal-hal yang tidak baik, tanpa mempelajari dan mengamati dahulu secara menadalam.

Penulis beranggapan, bahwa terjadinya sikap apatis politik masyarakat disebabkan oleh ketidakpahaman masyarakat akan politik. Informasi yang diterima kerap menimbulkan kebencian karena tanpa proses penyaringan yang baik. Pada akhirnya, masyarakat enggan peka politik karena beberapa indokator. Selain karena kekecewaan terhadap individu yang berhasil memangku jabatan, juga terpedaya akan isu buruk terkait politik yang sering dikatakan kotor dan politic is cruel, maka pemikiran masyarakat akan politik akan terus seperti itu.

Sebagai “Human Society” sudah sepatutnya kita lebih pandai dalam memilah segala sesuatu yang di dengarkan, penulis merekomendasi untuk mempelajari terlebih dahulu tentang kehidupan politik secara mendalam, sebelum menaburkan benih-benih kebencian yang begitu besar terhadap kehidupan politik. Karena hanya kerugian yang besar yang diterima jika masyarakat dalam lingkungan daerah ataupun pemerintahan suatu negara tidak peka terhadap politik, ataupun apatis dalam hal kehidupan politik. Bahaya Apatis dalam politik tentunya hal yang sangat merugikan, kita terus menuntut perubahan. Kita terus menuntut pembangunan, kita terus menuntut keadilan, kita terus menuntut upaya mengatasi kemiskinan, dan kita terus menuntut kesejahteraan. Namun jika kita apatis terhadap kehidupan politik apa yang didapatkan? Tentunya kita hanya berangan-angan bukan?

Pola pikir yang merugikan sudah saatnya kita tinggalkan. Berpatisipasi dalam dunia politik tidak mesti melibatkan kita secara langsung untuk terjun ke dunia politik atau ikut bertarung dalam pesta demokrasi. Namun, peka terhadap politik yang penulis maksudkan adalah pengetahuan kita tentang memilih (Pemimpin Politik), turut menggiring pemerintahan dalam pembangunan, dan sebagai control pemerintahan untuk pembangunan. Bagaimana kita bisa relevan dengan pemerintahan jika memilih calon pemimpin yang benar saja kita tidak bisa, bagaimana pemerintahan bisa tahu apa yang dibutuhkan masyarakat jika kita tidak mau menyuarakan aspirasi kita dengan pertemuan-pertemuan resmi (Bukan demo), dan bagaimana bisa program yang kita tuntut bisa terealisasi dengan baik jika kita apatis terhadap kehidupan politik yang pada akhirnya lembaga pemerintahan bekerja tanpa pengawasan masyarakat.

Machiavelli turut memberikan pendapat terkait hal ini, gagalnya penyelesaian masalah politik dan terhambatnya perubahan sosial dalam lingkungan masyarakat, disebabkan karena sikap masyarakat yang apatis. Bahkan sikap apatis sendiri dikategorikan orang-orang yang mengidap penyakit tertentu. Peneliti dari Oxford misalnya, pada tahun 2009 silam sebuah penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat (AS), dan hasilnya apatis yang dialami seseorang merupakan gejala dari setidaknya 33 penyakit. Selain penyakit jantung, parkinson, penyakit Lyme, dan sindrom kelelahan kronis. Tak hanya itu, sikap apatis juga menjadi tanda kekurangan vitamin B12 dan testosteron.

Lalu apakabar dengan Indonesia? Political Cultural masyarakat Indonesia sendiri masih tergolong dalam kategori yang parochial/apatis. Apakah sebahagian besar masyarakat Indonesia tergolong dalam orang-orang sakit? Jika tidak, sudah saatnya kita menjadi masyarakat yang cerdas dan berintegritas pula. Mari peka terhadap politik agar tidak merasa di khianati wakil rakyat. Ayo peka politik agar tidak merasa dibodoh-bodohi oleh para stakeholder, dan mari peka politik untuk terciptanya stabilitas politik di negara ini, disusul dengan perubahan sosial, maka cita-cita mendambakan kesejahteraan akan terwujud.

Dan bersyukurlah Anda para mahasiswa ilmu politik, selain terlepas dari kategori masyarakat yang berpenyakit karena apatis dalam politik, juga sebagai bentuk yang menandakan bahwa negeri ini akan segera berbenah.
Pastikan pileg 2019 kita benar-benar sudah menjadi pemilih cerdas dan berintegritas.

*) Penulis adalah mahasiswa FISIP Universitas Islam Ar-Raniry, Banda Aceh.