Profesor Dari Austria Berkunjung ke Kantor KKR Aceh

ACEHTREND.CO, Banda Aceh – Sebanyak 24 mahasiswa dan 3 profesor dari Departemant of Geography and Regional Research, Faculty of Earth Sciense, University Wien, Vienna, Austria berkunjung ke Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) Aceh di Kuta Alam Banda Aceh, Selasa (29/8/2017).

Rombongan yang dipimpin oleh Asisten Profesor, Dr. Gunnar Stange itu akan berada di Aceh selama enam hari dalam rangka meninjau proses rehabilitasi dan rekonsiliasi pasca konflik dan stunami di Aceh dan akan melakukan studi perbandingan dengan Thailand.

Kepada wartawan, Gunnar mengatakan, kehadiran mereka ke Aceh diundang oleh Komisioner KKR Aceh Fajran Zein yang terdiri 24 orang mahasiswa dari S1, S2 dan mahasiswa yang sedang dalam pelatihan perguruan geografi, karena geografi telah menjadi mata kuliah di sekolah.

Dia sangat berharap, dengan berkunjung langsung ke Aceh mereka dapat menambah pengetahuan tentang proses perdamaian di Aceh. Karena rekonsiliasi, rehabilitasi dan kebenaran adalah suatu bagian yang sangat penting dari proses perdamian di Aceh.

“Kami ke Aceh dulu, kemudian tahap selanjutnya kami akan ke Thailand dan kita ingin mengerti mengenai proses rehab rekon pasca stunami apa kelebihan, apa kekurangan apa yang harus diperbaiki serta apakah tujuan itu benar-benar sudah tercapai atau tidak,” katanya.

Untuk itu, baik selama di Aceh mereka akan menjumpai beberapa pihak yang terkait dengan proses rehab-rekon baik para korban konflik dan korban tsunami ataupun dari pemerintah seperti Badan Rehab Rekon (BRR).

Sebab katanya, jika ingin mengetahui tentang proses rekonsiliasi pasca stunami di Aceh maka harus terlebih dahulu mempelajari bagaimana proses perdamaian, karena itu sangat terkait satu sama lain. Dia juga mengungkapkan, alasan mereka memilih Aceh karena Aceh dinilai memiliki dampak tsunami terbesar dan terparah.

“Apalagi biografi saya sendiri sangat terkait dengan Aceh, saya datang ke Aceh pertama kali pada Maret 2005 paska tsunami, saat itu kami buat LSM kecil dengan teman-teman,” katanya.

Kemudian, dengan LSM itu mereka mengumpulkan uang di Jerman untuk mendukung seratus anak SMP dan SMA di Meulaboh agar mereka tidak kehilangan sekolah.

“Karena kita tahu, mereka sudah kehilangan bapak, sudah kehilangan ibu, berbahaya sekali untuk anak-anak jika tidak sekolah untuk itu berikan beasiswa waktu itu,” katanya.

Menurut Gunnar, dirinya sudah berpengalaman di Aceh, dia mengaku pernah ditugaskan dalam program kerjasama Indonesia-Jerman untuk bertugas dalam konteks rehab rekon di Aceh, dari tahun 2005 hingga 2007, kemudian dia juga mengaku tertarik dengan sejarah Aceh, sejarah konflik di Aceh serta perdamaian di Aceh, bahkan dia menulis desertasi doktornya tentang roses transformasi pasca konflik di Aceh.

“Jadi memang saya sering di Aceh dan saya punya jaringan di Aceh, saya sangat berterima kasih bisa datang kemari membahwa mahasiswa dan dan mahasiswi untuk memperkenalkan Aceh kepada mereka,” jelasnya.[]