Adat Meukupi

Annisa dan segelas arabica Pantan Cuaca. Foto: Aan.

Oleh Yassir Arafat

Generasi Aceh terdahulu menjadikan Meulasah (Meunasah) sebagai tempat bertemu, bertatap muka, bermusyawarah, berdiskusi, maupun membahas isu-isu penting sesama warga demi kemaslahatan masyarakat suatu Gampong atau Kuta, selain juga sebagai tempat ber’ubudiyah kepada Allah. Baik itu dilakukan secara formil dengan melibatkan unsur perangkat gampong, maupun secara non formil yang dilakukan secara berkelompok-kelompok tanpa terstruktur dan terencana.

Seiring perkembangan zaman, budaya tersebut telah bergeser dengan setting yang berbeda. Masyarakat Aceh sekarang cenderung menjadikan keude kupi (warung kopi) sebagai tempat melakukan hal-hal tersebut di atas terkecuali ibadah kepada Allah, meskipun hal tersebut memungkinkan dilakukan namun dalam skala kecil pada mushalla-mushalla yang disediakan pemilik keude kupi tersebut. Meski tidak dapat dipungkiri juga bahwasanya istilah duk bak keude kupi (minum kopi di warung kopi) telah ada beberapa dekade silam, namun tidak secara masif dan tidak ada istilah han leukang punggoeng (baca: betah berlama-lama) ketika berada di keude kupi tersebut. Karena masyarakat Aceh terdahulu, hanya duk siat (minum kopi sebentar) di keude kupi sekedar menikmati caffeinnya kopi, kemudian kembali menjalani rutinitasnya sehari-hari.

Mulai keude kupi yang sederhana sampai yang eksklusif layaknya taraf hotel berbintang. Mulai dari kupi itam (kopi hitam) biasa, sampai kupi dipajoh le musang (kopi luwak). Dengan menu makanan beragam dengan harga variatif, dan limpahan jaringan internet via wireless firework (baca: wi-fi), menjadikan pengunjung han leukang punggoeng di keude kupi pilihannya. Ditambah lagi para ahli hisap (perokok) bebas ber-euforia menghembuskan asapnya kemana saja layaknya alat fogging nyamuk, meskipun hal tersebut tidak diinginkan oleh ahli isap pasif (bukan perokok), semakin menambah daya tarik penikmat kopi berlama-lama di keude kupi. Mulai usia pelajar/mahasiswa sampai usia lansia, dengan ragam profesi dan strata pendidikan, tanpa memandang strata sosial, terlebih lagi gender berbaur satu sama lainnya seakan mengikis nilai-nilai budaya dan kultur ke-Aceh-an.

Hemat penulis, dekade tahun 1990-an dan sebelumnya, perempuan apalagi anak gadis sangatlah tabu duk bak keudee kupi tanpa ditemani mahramnya, apalagi sudah sampai pada tingkatan han leukang punggoeng. Meskipun ada, persentasenya sangatlah kecil, bahkan bisa dikatakan hanya pada strata usia ibu-ibu yg sudah menikah dan punya anak. Jika pada usia anak gadis, mungkin bakalan han di theun atee (tidak berani) dan malee keudroe (malu) untuk minum kopi di keude kupi. Fenomena ini berubah 180 derajat di era sekarang, bahkan di beberapa kesempatan dan beberapa tempat yg penulis temui, para gadis haha hihi dengan teman sesama wanita maupun teman pria yang bukan mahram-nya tanpa memperdulikan situasi di sekelilingnya.

Mulai pembahasan yang tanpa ujung pangkal, bisnis, politik, keamanan, dan lain sebagainya, bahkan untuk urusan percintaan terkadang menjadi topik menarik dibahas di keude kupi. Baik itu pada level diskusi ilmiah/ seminar yang melibatkan berbagai komunitas, maupun sekadar jumpa teman- teman kongkow-kongkow, bahkan acara reunian dengan teman lama. Ada juga yang cuma sekedar berselancar ria di dunia maya. Semua aktivitas tersebut dilakukan di keude kupi dengan rela duduk berjam-jam. Bahkan untuk urusan ibadah terkadang “lupa” atau melupakan diri untuk menunaikannya. Tidak mengherankan hingga Aceh dijuluki “negeri 1001 keude kupi” yang melegenda sampai ke benua Eropa. Seakan keude kupi menjadi wadah “mendongeng” yang elegan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

Kelaziman ini penulis amati di kawasan Banda Aceh, Aceh Besar, dan beberapa kabupaten/ kota di pantai timur utara Aceh. Budaya ini menurut perkiraan penulis akan berlangsung lama hingga beberapa dekade ke depan, dengan setting lokasi yang semakin variatif dan inovatif.

Harapan penulis dan mudah-mudahan harapan masyarakat Aceh pada umumnya, mari kita kembalikan fungsi Meulasah selain sebagai tempat beribadah kepada Allah seperti shalat lima waktu berjamaah, buka puasa bersama di bulan Ramadhan, Maulid Nabi Muhammad SAW, dan lain sebagainya, juga sebagai tempat bertemu, bermusyawarah, berdialog, berdiskusi dalam berbagai ragam pembahasan, utamanya pembahasan yang menciptakan kemaslahatan masyarakat Aceh pada umumnya. Dengan tetap menjadikan keude kupi seperti neu duek droe jih (tupoksi) yaitu untuk minum kopi dan sekedar silaturrahmi dengan teman-teman, tanpa harus han leukang punggoeng. Sehingga dampak positif efektifitas waktu bisa dipergunakan di tempat lain yang lebih bermanfaat dan berdaya guna.

*)Penulis adalah penikmat kopi, mantan ahli hisap, pernah bekerja sebagai pramusaji di keude kupi. Saat ini berdomisili di Aceh Besar.

Foto: Ilustrasi. Karya Anharullah.

KOMENTAR FACEBOOK