Manusia Setengah Jadi

Foto: brandquarterly.com

Dalam bukunya Lembaga Budi, Hamka (1980) menulis: “Orang yang setengah bodoh dan setengah pintar lebih berbahaya dari pada orang yang benar-benar bodoh dan yang benar-benar pintar sebab orang yang bodoh tidaklah sanggup mengatur maksudnya yang jahat dan orang yang pintar dan berpendidikan dihambat oleh pendidikannya buat mengatur kejahatan.”

Kalimat ringkas dari Hamka tersebut cukup sederhana dan bisa dipahami oleh siapa pun. Kita tidak butuh mufassir handal untuk mengupas kalimat singkat ini. Sebab ia bukan syair pujangga yang maknanya tersembunyi, bukan pula kalimat filosof yang berbelit-belit.

Dengan kalimat sederhana, Hamka mencoba menitip sebuah pesan menarik untuk kemudian dikaji secara serius. Pola ini tentunya berbeda dengan gaya para akademikus yang menulis dengan kosa-kata “menjengkelkan”, sehingga hanya dia saja yang mengerti. Kuat dugaan, para akademikus serupa ini mencoba merealisasikan kebingungan yang pernah diutarakan Sartre, bahwa: “Penulis besar adalah penulis yang tulisan-tulisannya salah dipahami pembaca.” Sarte menyebutnya sebagai misunderstood. Tentu ada banyak penulis serupa ini di sekeliling kita.

Hal sebaliknya ditunjukkan oleh Hamka – bahwa tujuan menulis adalah untuk dipahami, bukan show of force lughawi yang hanya menghadirkan kebingungan. Memang tidak dapat dipungkiri, bahwa ada semacam “penyakit” di kalangan akademikus kita – di mana ada kepuasan ketika tulisan-tulisannya membuat orang tercengang, bukan karena pesan yang bermakna, tapi karena dia telah sukses menghadirkan kebingungan.

************

Dalam tulisannya yang ringan, seperti dikutip di awal artikel ini, Hamka menyebut ada dua tipe manusia yang patut diwaspadai. Dua tipe manusia ini senantiasa hadir dalam kehidupan kita. Sebab itu, sangat penting melakukan identifikasi secara cermat agar sosok mereka dapat dikenali.

Pertama, manusia setengah bodoh. Manusia semisal ini, menurut Hamka, lebih berbahaya dari manusia yang benar-benar bodoh. Kebodohan total adalah “anugerah” yang akan menyelamatkan si empunya dari merencanakan sebuah kejahatan. Hal ini terbilang wajar, sebab “kebodohan yang sempurna” akan mengurung seseorang dalam ketidaktahuan sehingga akan sulit baginya untuk merencanakan kejahatan dalam bentuk apa pun.

Sebaliknya, orang yang setengah bodoh – seperti disebut Hamka, akan mudah tergelincir dalam kejahatan, seperti mencuri, mencopet, merampok dan kejahatan semisal lainnya. Praktik-praktik kejahatan semacam ini timbul akibat posisi intelektualitasnya berada pada maqam setengah bodoh. “Kebodohan minimalis” ini akan memberi ruang kepada seseorang untuk merencanakan dan melakukan berbagai tindak kejahatan yang umumnya gagal di akhir sehingga sebagian besar pelakunya diekseskusi oleh hakim jalanan. Orang-orang setengah bodoh biasanya akan berhadapan dengan “setengah sukses.” Sukses mencuri, tapi gagal membawa lari.

Kedua, manusia setengah pintar. Seperti disinggung Hamka, manusia setengah pintar lebih berbahaya dari manusia yang benar-benar pintar. Manusia yang benar-benar pintar, seperti halnya manusia yang benar-benar bodoh akan terselematkan dari tindakan-tindakan buruk. Dengan berbekal ilmu yang dimilikinya, manusia pintar akan terhalangi dari perilaku jahat. Pengetahuan yang ia miliki akan menjadi benteng penyelamat. Jika pun ada manusia pintar yang melakukan kejahatan, maka hampir dapat dipastikan bahwa dia telah berpindah ke maqam setengah pintar.

Seperti halnya manusia setengah bodoh, manusia setengah pintar pun patut diwaspadai. Kepintaran yang setengah akan mendorong seseorang melakukan berbagai kejahatan dalam level yang lebih tinggi dari sosok setengah bodoh. Tindakan korupsi misalnya, adalah tindakan yang hanya dilakukan oleh manusia-manusia setengah pintar.

Tidak hanya melakukan kejahatan, “kepintaran pancung” juga cenderung menyebabkan si empunya larut dalam rupa-rupa khayalan sehingga muncullah tindakan-tindakan aneh. Keanehan akibat setengah pintar pernah ditunjukkan oleh sekelompok orang yang tidak mampu membedakan patung di tempat ibadah dengan patung di tempat publik – akhirnya terpaksa dibungkus kain putih. Praktik setengah pintar juga sering dipamerkan oleh sejumlah oknum yang ingin berjihad dengan tangan kosong ke negeri orang.

Dengan berpijak pada klasifikasi Hamka, dapat disimpulkan bahwa “perkawinan” manusia setengah bodoh dengan manusia setengah pintar akan melahirkan sosok baru yang untuk sementara dapat kita sebut sebagai “manusia setengah jadi.” Manusia setengah jadi, adalah sosok setengah manusia – setengah bukan. Nah, manusia setengah jadi inilah yang senantiasa membuat kerusakan dan menebar kekacauan di muka bumi. Mungkin Aung San Suu Kyi masuk katagori ini.

KOMENTAR FACEBOOK