Retorika Politik

Oleh Khairul Ahmadi*)

Kemampuan pengorganisasian pesan merupakan bentuk tertanamya jiwa kepemimpinan dalam diri seseorang. Berkaitan dengan hal ini, Aristoteles berpendapat bahwa kemantapan memoria seseorang yang mampu mengingat apa yang ingin disampaikan sampai pada akhirnya dalam proses penyampaian mampu merealisasikan apa yang difikirkan merupakan hal yang sangat fantastis, itu adalah kemantapan yang luarbiasa.

Proses penyampaian yang dimaksudkan tentunya bersifat lisan, berbicara dengan sebaik mungkin, dengan penggunaan gaya bahasa, dan ekspresi merupakan sebagai taktik yang signifikan untuk mendapatkan perhatian dari orang banyak.

Retorika merupakan kata lain dari penyampaian kata-kata secara lisan, sebuah teknik pembujuk-rayuan secara persuasi untuk menghasilkan bujukan melalui karakter pembicara, emosional atau argumen. Pada zaman Romawi kuno, retorika dimaksudkan “orang yang pandai bersilat lidah” karena proses penyampaian yang menariklah yang akan di cintai orang. Retorika terdiri atas beberapa bentuk penyampaian seperti pidato, pembacaan syair (Puisi), dan orasi politik. (Jalaludin Rakhmat, 2006)

Berdasarkan perkembangannya,retorika lebih diartikan sebagai bentuk orasi politik. Dalam buku mein kampf misalnya, sebuah catatan kopral kecil, veteran perang dunia II yang berhasil naik menjadi Kaisar Jerman, Hitler mengatakan bahwa keberhasilannya disebabkan atas kemampuannya yang pandai berbicara. Yang dimaksudkan berbicara, dalam hal ini tidak berupa penyampaian atas percakapan yang dilakukan dua atau tiga orang, melainkan penyampaian kata-kata orasi politik yang menggelegar dihadapan banyak orang yang penuh akan penghasutan, sehingga mampu memikat hati para pendengar, kata-kata yang begitu memikat menjadi sugesti sehingga tidak bisa mengalihkan pemikiran ke hal yang lain, pada akhirnya kekuasaan hanya sesuatu perjalanan singkat yang mudah diraih hanya dengan pandai berbicara.

Uraian sistematis retorika yang pertama diletakkan oleh seorang Syracuse, sebuah koloni Yunani di Pulau Sicilia. Bertahun-tahun koloni itu diperintah para tirani. Kegigihan para diktator yang terus-menerus menyengsarakan rakyat mendapatkan perlawanan keras, Tahun 465 SM, upaya revolusi ditegakkan, sehingga pada akhirnya diktator ditumbangkan dan demokrasi didirikan. Disinilah awal mula kemusyikilan proses retorika terjadi, untuk mengambil kembali hak-hak yang telah dirampas. Maka setiap orang harus berbicara dan mencoba meyakinkan mahkamah agar apa yang telah dirampas oleh para diktator bisa dikembalikan. Atas hal ini, Corax menulis makalah tentang retorika, yang diberi nama Tehcne Logon (Seni kata-kata), yang menegaskan “teknik kemungkinan”. Dalam penggunaannya, para penulis zaman kuno mengatakan bahwa bila kita tidak dapat memastikan sesuatu, mulailah dari kemungkinan umum. Misal, dalam proses pengajuan banding terhadap seorang kaya yang mencuri lalu dituntut di pengadilan untuk pertama kalinya. Sedikit berperan sebagai pembantah, dengan “teknik Kemungkinan” membuat orang bertanya, “Mungkinkah seseorang kaya yang berkecukupan mengorbankan kehormatannya untuk mencuri? Apa yang kurang dari kekayaan dia? Bukankah sepanjang hidupnya ia tidak pernah diajukan kepengadilan, bukan? Tentunya hal ini akan memutar balikan pemikiran orang, dan akan berkata “betul juga”. Akhirnya, pada masa ini hingga perkembangan zaman retorika akan dikenang sebagai bentuk “ilmu silat lidah”.

Dinamika pertarungan politik ternyata sebagai tempat beranak-pinaknya ritual retorika ini, merasa hal yang sangat penting bagi para aktor politik, sehingga pandai beretorika merukapakan hal yang tidak terpisahkan dari proses suksesi politik. (Peter Calvert, 1995).

Belajar dari Kepulauan Sicilia, empedocles (490-430 SM), seorang filsuf, mistikus, dan sekaligus orator politik. Ia cerdas dan menguasai banyak pengetahuan. Sebagai filosof, ia pernah berguru kepada Phytagoras dan menulis The Natur Of Things. Sebagai mistikus, ia percaya bahwa setiap orang bisa bersatu dengan Tuhan bila ia menjauhi perbuatan tercela. Dan sebagai seorang politisi, ia memimpin pemberontak untuk menggulingkan kekuasaan aristikrasi dan kekuasaan diktator. Sebagai orator, menurut Aristoteles, “ia mengajarkan prisnsip-prinsip retorika, yang kelak di jual Georgia kepada penduduk Anthena.

Tahun 427 SM Gorgias dikirim sebagai duta ke Athena. Negeri yang sedang tumbuh sebagai negara yang kaya. Kondisi negara yang membutuhkan kemampuan orang berpikir jernih dan pandai berbicara yang jelas dan persuasif dimanfaatkan oleh Georgia dengan mendirikan sekolah retorika. Bersama Pratagoras dan kawan-kawan mereka berpindah dari satu kota ke kota yang lainnya untuk menjadi dosen terbang, dan hal ini menjadi bentuk perkembangan ilmu retorika yang semakin luas.

Indonesia sendiri yang merupakan sebuah negara demokrasi, tidak diragukan lagi besarnya proses retorika yang terjadi. Banyaknya partai politik menjadi tolok ukur untuk sebuah retorika. Sesuai dengan defenisi suksesi politik, bahwa retorika merupakan kiat atau strategi untuk proses peralihan kekuasaan, dan retorika merupakan satu-satunya cara agar kekuasaan dapat tercapai.

Beberapa kutipan dari seorang bapak retorika Indonesia, yang kontribusinya untuk memperjuangkan kemerdekaan Indoenesia merupakan bukti retorika sebagai suksesi politik. Dedikasinya begitu menggoyahkan raga, sehingga pesan yang disampaikan membuat publik terkesima, sembari menikmati semboyan-semboyan indah, juga merasuki raga setiap orang yang mendengarkannya, sehingga menjadi sugesti yang begitu luarbiasa.

Ialah Soekarno, dikenal sebagai orator dunia. Keahliannya dalam orasi atau beretorika membuat seluruh rakyat Indonesia maju tak gentar melawan Sekutu. Istilah-istilah yang dikemukakan oleh Presiden Soekarno tertanam kuat dalam ingatan bawah sadar rakyat Indonesia sehingga para penjajah dapat dicegah untuk menguasai bumi pertiwi. Di era mantan Presiden Soekarno, ketika bersitegang dengan Malaysia, beliau memberikan istilah ‘ganyang Malaysia’
Istilah lain, ketika konflik dengan Inggris, Presiden Soekarno mengajak rakyat Indonesia untuk ‘Inggris kita linggis’. Kobaran semangat melalui istilah-istilah itu menancap kuat sebagai kobaran api semangat yang membara, dulu , kini, dan nanti. Strategi Presiden Soekarno dalam menularkan keyakinannya untuk kemerdekaan Indonesia yakni dengan membuat istilah-istilah yang unik merepresentasikan semangat ajakan merdeka dan sejahtera bagi seluruh bangsa. Istilah ‘ganyang’, ‘linggis’, atau ‘Amerika kita seterika’ merupakan kata-kata yang mudah diingat dan dipahami oleh seluruh kalangan. Sehingga bersama-sama, tidak tersekat pada perbedaan suku, agama, ras, dan adat istiadat, rakyat Indonesia memperjuangkan tujuan yang satu yaitu merdeka atau mati.

Mantan Presiden Soekarno dalam melakukan seruan dalam retorika memiliki dimensi puitisasi kata-kata dan teknik impromptu. Dimensi puitisasi dapat dilihat dari diksi kata yang indah dan memiliki rima kata yang serupa. Sedangkan dalam teknik berpidato atau beretorika, Presiden Soekarno menggunakan teknik impromptu, yaitu retorika yang mendadak, tetapi berhasil menyuguhkan poin-poin penting dan penutup yang mengesankan. Teknik ini merupakan cikal bakal berkembangnya teknik retorika atau teknik berbicara di Yunani. Terilhami oleh Empedocles (430-490 SM) yang selanjutnya dipopulerkan oleh Gorgias di Yunani.

Berbeda dengan actor retorika sekarang, ketika mereka (elit) berbicara, banyak di antaranya dianggap sebagai “bullshit” karena kekecewaan rakyat terhadap janji-janji busuk semasa kampanye. Nyaris sampai tidak adalagi yang membawa retorika sebagai kiat suksesi politik untuk sebuah keuntungan besar seperti yang dilakukan bapak retorika dunia (Bung Karno).

Namun Perlu diketahui, bahwa kemampuan pandai berbicara (retorika) yang dimiliki setiap orang merupakan hal yang “balance” antara perilaku dan pemikiran. Seperti halnya yang terurai dalam konsep retorika modern, yang digagas oleh Roger Bacon (1214-1219). Ia bukan saja menperkenalkan metode eskperimental, tetapi juga mengembangkan pentingnya pengetahuan tentang psikologis dalam studi retorika. Ia berpendapat bahwa, kewajiban retorika ialah menggunakan rasio dan imajinasi berdasarkan kebiasaan seseorang untuk menggerakkan kemauan secara lebih baik. Rasio, imajinasi, dan kemauan adalah hal-hal yang berkaitan dengan pengkajian utama oleh ahli retorika modern dalam ilmu psikologi.

Jadi, pada intinya orang pandai beretorika adalah orang yang dibekali dengan jiwa yang penuh dengan rasa tanggung jawab. Karena kemampuan berbicara yang dimiliki seseorang tergantung sejauh mana interaksi dan kegiatan social yang pernah dilakukan.

Penulis adalah mahasiswa Fisip UIN Ar-Raniry, Banda Aceh.

KOMENTAR FACEBOOK