Teungku Landok

Foto: hello-pet.com

Sehebat apa pun, se’alim apa pun dan sekharismatik apa pun, teungku juga seorang manusia yang kepadanya dititipkan nafsu oleh Sang Pencipta. Namun berbeda dengan “rekan-rekan” kita dari kalangan hewan – selain nafsu, manusia juga dilengkapi dengan akal budi sebagai garis pemisah antara kita dan “bapak-bapak” berkaki empat.

Hamka (1956) dalam salah satu bukunya menegaskan bahwa seorang ulama besar sekali pun, dia tetaplah manusia biasa yang tidak lepas dari berbagai kekurangan, memiliki nafsu dan butuh makan minum. Sebab itu, kita dilarang memosisikan manusia melebihi status kemanusiaannya.

Apa yang dialami oleh seorang teungku di Tanah Luas Aceh Utara baru-baru ini yang kononnya telah melakukan aksi pencabulan terhadap santriwatinya semakin membuktikan bahwa teungku juga manusia biasa. Informasi terbaru, teungku oknum pimpinan pesantren yang sempat menjadi DPO polisi ini sudah menyerahkan diri. Oknum teungku tersebut ini juga mengakui bahwa dirinya pernah menyetubuhi santrinya beberapa bulan lalu.

Teungku serupa ini cocok dinamai sebagai teungku landok. Dalam Kamus Aceh-Indonesia (Aboebakar dkk, 1985) kata landok sama dengan randok yang memiliki makna “bandot.” Dalam perbincangan sehari-hari, istilah landok (randok) atau bandot sering diasosiasikan dengan sikap seseorang yang suka menggoda atau berlagak romantis tidak pada tempatnya.

Dengan sikap “lugu” (lebih tepat lhok gong), teungku landok mengaku bahwa sebelum melakukan adegan “si Unyil” dengan santrinya, dia telah berjanji akan menikahi santri tersebut. Teungku landok juga mengaku khilaf dan ingin bertaubat. Mungkin teungku landok berpikir bahwa salah satu syarat taubat adalah melakukan “khilaf.” Artinya, tanpa “khilaf” taubat tidak sempurna.

Dalam konteks kekinian, kata “khilaf” telah menjadi semacam sandi yang diucapkan dengan wajah lesu sebagai strategi menarik simpati. Ada semacam kecenderungan pada sebagian kalangan bahwa sandi “khilaf” akan merontokkan sebagian dosa. Dan kita harus sepakat bahwa “khilaf” serupa ini adalah “khilaf” yang didramatisir. Akibat makin maraknya “khilaf” semisal ini, akhirnya muncullah meme unik seperti: “ayuk bang…siapa tau kita khilaf.”

Uniknya lagi, tidak hanya khilaf, teungku landok dengan sangat polos juga mengakui jika dirinya aktif mengonsumsi ganja dalam dua tahun terakhir. Tapi lucunya ia merasa tidak mengalami ketergantungan dengan ganja, meskipun telah dikonsumsi selama dua tahun. Pengakuan polos nan lugu ini hampir serupa dengan pengakuan orang gila bahwa dia tidak gila.

Perihal mengonsumsi ganja, tentunya tidak hanya dipraktekkan oleh oknum  teungku landok di Aceh Utara, tapi juga sering kita temui pada oknum-oknum teungku lain yang dengan bangga dan “gagah perkasa” mengakui pernah mengonsumsi ganja. Pernah suatu ketika, seorang oknum teungku menceritakan kepada saya bahwa dirinya aktif mengonsumsi ganja ketika masih mengaji.

Sementara itu, jika ditelisik, tindakan khilaf yang dilakukan teungku landok di Aceh Utara bukanlah peristiwa pertama di Aceh, apalagi di Indonesia. Ada banyak oknum-oknum teungku landok yang berkeliaran mencari mangsa. Di antara peristiwa paling populer di Aceh terjadi di Pidie beberapa tahun lalu. Waktu itu, seorang teugku landok yang juga oknum pimpinan dayah di Pidie juga sukses melakukan aksinya di beberapa tempat di Aceh.

Menyimak berbagai peristiwa yang melibatkan teungku landok, muncul pertanyaan: kenapa para korban (mangsa) tunduk saja ketika ia “dilandoki”? Jawaban paling aman adalah “ketaatan.” Asumsi ini diperkuat dengan fakta bahwa hampir mayoritas santri bersikap “tunduk” kepada gurunya. Atau mungkin ada satu keyakinan bahwa dosa yang dilakukan oleh oknum teungku akan mudah diampuni sebab ia “dekat” dengan Tuhannya.

Tapi, untuk menenangkan hati dan membuang segala curiga dan duga-duga, sekali lagi kita harus sepakat bahwa teungku juga manusia biasa. Seperti kata Hamka, setelah dia makan, dia akan ke belakang untuk mengeluarkan sesuatu yang berwarna lain. Demikian pula dengan persoalan syahwat. Setiap manusia normal, termasuk teungku  tentu saja “radarnya” akan berguncang ketika ada pesawat asing yang lewat.

KOMENTAR FACEBOOK