Agar Aneuk Kleung & Cempala Kuneng Unsyiah Tak Sekedar Seremonial

Ada yang menarik sekaligus memantik harapan. Para mahasiswa dan akademisi Universitas Syiah Kuala, Selasa (10/10/2017) meluncurkan dua robot terbang yang diberi nama Aneuk Kleung dan Cempala Kuneng. Tentu, sebagai sebuah hasil karya dari ilmuwan Fakultas Teknik Unsyiah, apresiasi tinggi patut diberikan. Orang-orang teknik sudah on the track dengan jurusan yang digelutinya.

Rektor Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal, M.Eng, saat peluncuran robot yang dipersiapkan untuk mengikuti kontes di Kontes Robot Terbang Indonesia (KRTI) 2017 di Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), Surabaya pada tanggal 16-21 November 2017, mengatakan kehadiran dua robot ini bukan sekadar untuk meraih juara, tetapi lebih untuk menumbuhkan serta menggiatkan inovasi di lingkungan kampus. Untuk itu, ia berharap ke depannya semua program studi dapat saling berkolaborasi untuk peningkatan kompetensi karya, sehingga hasil inovasi mahasiswa dapat dikembangkan lebih lanjut dan bermanfaat bagi masyarakat.

“Robot terbang ini dapat dikembangkan lebih lanjut seperti mendeteksi titik ganja di Aceh sehingga memudahkan kepolisian dalam bekerja,” ujar Rektor.

Kontes –perlombaan teknologi– robot di Indonesia Bukankah hal baru. Berbagai kampus mentereng di negara ini akrab dengan perlombaan yang demikian. Setiap akan digelar lomba, segenap harapan muncul. Mulai dari keinginan membantu menyelesaikan ragam problem bangsa maupun perencanaan pengembangan agar bisa komersil.

Sebagai seseorang yang buta dunia teknik –include perancangan–saya tidak memiliki data tentang sejauhmana sudah perkembangan dunia perobotan Indonesia, khususnya yang dikembangkan oleh universitas/institut. Seberapa banyak karya mahasiswa dan dosen yang kemudian mampu dan mau diaplikasikan oleh dunia usaha? Publikasi untuk hal demikian — sejauh pengetahuan saya– sangat jarang.

Dalam konteks robot terbang Aneuk Kleung dan Cempala Kuneng yang dirancang oleh insinyur Unsyiah bersama mahasiswa teknik, saya justru tertarik pada harapan Rektor, bahwa di kemudian hari kedua robot ini akan bisa membantu kepolisian mendeteksi lahan ganja di Serambi Mekkah.

Mengapa saya tertarik? Karena pernyataan senada akrab menjadi pengisi acara seremonial, yang kemudian tidak maujud setelahnya. Harapan, komitmen, dan janji pada kegiatan seremonial kerap bersifat pemanis semata. Tidak pernah terealisasi dalam tindakan sesungguhnya.

***
Aneuk Kleung dan Cempala Kuneng adalah dua robot mini yang masih berstatus kelas kontes. Untuk diaplikasikan dalam kegiatan yang lebih luas, saya kira masih membutuhkan pengembangan yang lebih intens. Pun demikian, kehadiran keduanya berkat tangan dingin ilmuwan di Unsyiah patut diapresiasi dan harus diberi dukungan.

Unsyiah harus bekerja keras menawarkan “prototipe” itu kepada Pemerintah Aceh yang memiliki dana Otsus yang bejibun banyaknya. Aneuk Kleung dan Cempala Kuneng harus diberikan pendanaan riset yang banyak dan dikembangkan secara lebih fokus, agar bisa menjadi sesuatu yang berguna bagi Aceh.

Bila Rektor Unsyiah berharap robot terbang itu mampu memonitor ladang ganja, kita justru harus mendorong Pemerintah Aceh menggandeng Unsyiah agar Aneuk Kleung dan Cempala Kuneng menjadi robot terbang yang mampu mengawal hutan dan perairan Aceh.

Bila Pemerintah Aceh berpikir Tsunami Game –event sepakbola yang muncul di APBA-P bisa mendorong hadirnya investor, kenapa tidak, teknologi tepat guna hasil riset akademisi dan mahasiswa juga akan mampu membawa berkah lebih besar untuk daerah ini.

Saya kira, Aneuk Kleung dan Cempala Kuneng akan berkibar melebihi ekspektasi perancangnya, bila diadvokasi lebih lanjut. Namun bila sekedar untuk kontes semata, saya kira keduanya akan bernasib sama seperti “brujuk’ lain, berkarat di laboratorium usai dirancang. []

KOMENTAR FACEBOOK