Generasi Micin di Serambi Mekkah

Oleh: Anis Rahmani*

Aceh sangat kental akan Islam. Daerah lain di Indonesia menjuluki Aceh dengan sebutan Serambi Mekah. Hal ini suatu kebanggaan bagi masyarakat Aceh.

Pada babakan sejarah keislaman Aceh, rakyat di ujung pulau Sumatera ini dikenal sebagai pejuang yang berjihad dengan niat fisabilillah, al -Qur’an menjadi penyemangat untuk mereka melawan penjajahan.

Snouk Hurgronje harus belajar memahami Islam, dan pura-pura menjadi muslim lalu tinggal lama di Aceh hanya untuk mengetahui rahasia menaklukkan Aceh.

Snouck Hurgronje sadar bahwasanya untuk menaklukkan Aceh tidak bisa dengan kekuatan melainkan dengan mainkan keimanan mereka. Atas ilmu yang didapatnya tentang budaya Islam, dengan halus ia memporakporandakan kesultanan kerajaan Aceh.

Politik belah bambu Snouck lewat pemisahan Uleebalang dan Ulama dengan cara menempatkan ulama sebagai yang berhak memimpin membuat komponen kepemimpinan di Aceh tidak lagi seimbang, dan dengan aksi tindak kekerasan yang dilakukan oleh Belanda terhadap ulama membuat rakyat pendukung menjadi takut.

Untuk waktu yang singkat, metode yang dipakai berhasil  menaklukkan kesultanan Aceh. Akan tetapi persoalan Aceh belum selesai. Hal ini menyebabkan sejarah panjang dalam menyelesaikan permasalahan Aceh dengan Belanda.

Snouck pula yang menyatakan bahwa takluknya kesultanan Aceh, bukan berarti seluruh Aceh takluk. Dari sejarah ini dapat kita pelajari bahwa seberapa teguhnya keislaman dulu di Aceh, untuk menaklukkan Aceh saja Snouck harus belajar Islam di negeri Arab dengan jangka waktu yang tidak bisa dikatakan sedikit.

Itulah Aceh pada suatu ketika. Saat ini, Aceh memiliki jalan sejarahnya sendiri. Suatu waktu, pernah muncul gerakan merazia kaum wanita yang memakai celana jeans, termasuk juga merazia kaum pria yang memakai celana pendek.

Razia yang dilaksanaakan oleh Wilayatul Hisbah (WH) dengan digunting celananya kini sudah tidak ada lagi. Pelarangan memakai celana jeans bagi perempuan dan laki-laki yang memakai celana pendek hanya tidak diperbolehkan memasuki tempat tertentu saja, seperti masjid Baiturrahman.

Dan persepsi negara lain terhadap Aceh, seperti Malaysia cenderung merasa lebih dekat dengan masyarakat Aceh. Hal ini disebabkan dari cara berpakaian masyarakat Aceh dan kebudayaan masyarakat Aceh yang berbeda dengan provinsi lain yang mengikuti gaya Barat.

Bagi sebagian orang dari provinsi lain, ada juga yang merasa takut untuk berkunjung ke Aceh karena adanya isu hukum cambuk, harus memakai kerudung, tidak boleh memakai jeans bagi perempuan, tidak boleh berduan dengan yang bukan muhrim dan aturan-aturan hukum adat lainnya yang berlaku di Aceh.

Belakangan ini mulai ada yang menaruh keprihatinan kepada Aceh, semboyan Serambi .ekkah serasa tidak layak lagi untuk di sandang masyarakat Aceh.

Sekarang baik di Aceh maupun provinsi lain telah memasuki zaman dimana para kaum remaja menuntut kebebasan baik dilingkungan keluarga, masyarakat, sekolah dan lingkungan kerja.

Kaum remaja ini menganggap bahwa aturan dibuat untuk dilanggar. Mereka telah melupakan kesopanan baik dalam bertutur kata, berperilaku, dan berpakain. Para remaja suka mengkritik dengan kritis tanpa sumber yang jelas, senang menyebar hoax, mengabaikan sekolah adapun al-qur’an yang terdapat dirumah-rumah menjadi koleksi semata. Para remaja inilah yang sering disebut generasi micin atau bahasa keren lainnya kind zaman now.

Kita lihat sekarang berapa banyak remaja di Aceh yang mengucapkan salam ketika hendak berpergian kesekolah kepada orang tuanya, mencium tangan orang tuannya.  

Mengenai membaca al-qur’an, banyak dari siswa atau siswi SMA di Aceh tidak bisa memlafalkannya, generasi micin ini sudah tidak ada waktu untuk membaca al-qur’an, mereka terlalu sibuk untuk memperbaharui status di facebook, BBM, istragram, malam mingguan, dan menonton acara-acara televisi yang memberi mereka  kesenangan semata.

Pada generasi ini  sangat sedikit para remaja laki-laki yang salat berjamah di mesjid dan berdiam di masjid untuk belajar agama, mereka telah begitu asik dan nyaman menghabiskan waktu di kafe-kafe untuk sekedar wifi-an.

Dijalanan banyak kita lihat para remaja ini telah memasuki budaya berpacaran, bahkan bagi yang tidak berpacaran dianggap sebuah ironi di zaman modern. Mereka akan mengatakan “apakah kamu dari zaman Siti Nurbaya”.  

Sangat sedikit persentase remaja yang tidak berpacaran di Aceh sekarang. Mereka membuat sebuah alasan pacaran secara Islam, pacaran untuk mengigatkan si doi salat subuh, makan, dan menjaga kesehatan. Ini suatu asas yang membuat penasaran, darimana mereka mendapatkan asas ini?

Al-qu’an sendiri telah melarang jangan mendekati zina, tapi mereka malam mingguan, pegangan tangan, dan sok romantis lainnya ala gaya sinetron alay.

Tak bisa di pungkiri bahwasanya orang tua berperan penting dalam membentuk perilaku generasi ini. Para orang tua memberi smartphone pada anaknya tanpa mengawasi, membuat pemikiran mereka merosot. Orang tua membiarkan mereka menonton siaran tv yang tidak mendidik  seperti film Korea romance dan film india yang jelas menonjolkan keangamaan Hindunya dan generasi ini juga dibiarkan mengikuti waktu sekolah yang padat sehingga pendidikan agama terlupakan.

Selain itu, teknologi canggih pada zaman sekarang yang membuat semua menjadi serba instan, berpengaruh pada generasi micin yang menjadi malas untuk berikir. smartphone menjadikan generasi micin low human dan tontonan yang mendunia membuat mereka tidak bisa dengan bijak menilai untuk menemukan jati diri. Adapun  ketika orang tua melarang akan semartphone dan televisi, generasi micin akan membantah bahwa ini adalah jaman modern. Jadi siapa yang salah? Orang tuakah yang harus berbenah, atau media yang harus dibenahkan? Atau, keduanya?

*Mahasiswa Universitas Syiah Kuala, Prodi Ilmu Komunikasi, Semester 3 

KOMENTAR FACEBOOK