Pemerintah Diminta Jadikan Kerajaan Trumon Destinasi Wisata Religi

Bangunan bekas kerajaan Trumon (Foto: IST)

ACEHTREND.CO, Tapaktuan – Lembaga Pemerhati Parlemen Aceh (LPPA), menganjak para pemangku kebijakan untuk melirik sejarah yang terlupakan dan menyimpan banyak misteri pada masa kejayaan kesultanan Aceh.

“Perhatian pemerintah tentu sangat dibutuhkan terhadap kelestarian bangunan tua yang menyimpan sejarah panjang. Sebab kerajaan Trumon bisa menjadi ikon dan aset daerah yang sangat berharga,” kata Koordinator LPPA Muzakir pada aceHTrend, Rabu (15/11/2017) malam.

Menurut Muzakir, kerajaaan Trumon merupakan bagian dari salah satu hulu balang kesultanan Aceh di daerah yang sekarang disebut Aceh Selatan.

Bangunan benteng Kuta Batee dibangun ketika kerajaan Trumon dipimpin atau di bawah pemerintahan Teuku Raja Fansuri Alamsyah yang juga dikenal dengan sebutan Teuku Raja Batak.

“Dalam masa ini pula, Trumon meraih kejayaannya hingga berhasil mencetak mata uang sendiri sebagai alat tukar yang sah, selain itu, Teuku Raja Batak ini merupakan raja ketiga, menggantikan ayahnya, Teuku Raja Bujang yang sebelumnya menerima tahta dari kakeknya, Teuku Djakfar selaku pendiri Kerajaan Trumon dan Kerajaan Singkil,” ulas Muzakir.

Muzakir menjelaskan, selain berfungsi sebagai benteng pertahanan saat diserang penjajah, benteng ini juga digunakan sebagai kantor pusat pengendalikan pemerintahan oleh raja. Di dalamnya juga terdapat istana raja dan sebuah gudang tempat menyimpan barang-barang penting milik kerajaan.

“Luas bangunannya sekitar 60 x 60 meter dengan tinggi sekira empat meter. Sedangkan tebal dindingnya mencapai satu meter dengan tiga lapisan. Dinding bagian luar terbuat dari batu bata, kemudian pasir setebal 30 cm dan dinding bagian dalam terbuat dari batu bata tanah liat,” kata Muzakir

Di sekeliling benteng, katanya, terdapat balai sidang. Balai ini biasanya digunakan untuk kegiatan rapat atau sidang-sidang adat kerajaan yang dipimpin langsung oleh raja. Selain itu juga terdapat rumah sula (penjara). Sula adalah besi-besi yang diruncingkan dan terpancang di tanah sebagai tempat eksekusi mati bagi penjahat yang divonis hukuman mati.

“Almarhum H. Mohammad Said, dalam bukunya Aceh Sepanjang Abad menceritakan, Kerajaan Trumon didirikan oleh seorang saudagar sekaligus pemuka agama (labai) berasal dari XXV Mukim Aceh Besar dalam abad ke-18. Ia tidak lain adalah Labai Daffa (Labai Dafna-sebutan Belanda) yang nama aslinya adalah Teuku Djakfar,” terang Muzakir.

Raja ini lanjutnya, sebelum mendirikan Kerajaan Trumon dan Singkil, sempat belajar agama Islam di Ujung Serangga, Kecamatan Susoh, Aceh Barat Daya sehingga meraih gelar labai atau teungku. Dengan demikian tidak heran, kalau Benteng Kuta Batee ini akhirnya selamat dan terhindar dari bencana gelombang tsunami, berkat doa Raja-raja Trumon yang terkenal alim heroik itu.

“Maka kita meminta salah satu anggota DPR-RI wilayah dapil I Aceh, Teuku Rifki Harsya komisi dari IX DPRI yang membidangi pendidikan dan pariwisata untuk memperjuangkan kerajaaan Trumon bagian menjadi destinasi wisata relegius sebagai aset daerah, dengan hal ini sejarah bangunan tua yang menyimpan sejarah panjang ini menjadi lebih terawat dan menjadi icon yang terus di pelihara oleh sentuhan pemerintah yang selama ini kurang perhatian terhadap situs-situs kerajaaan yang seharusnya menjadi warisan bersama,” Pinta Muzakir.

Selain Rifki Harsya, Muzakir juga meminta kepada Raffli Kande selaku anggota DPD-RI perwakilan Barat Selatan Aceh yang juga merupakan putra asli Aceh Selatan untuk memperjuangkan ke pusat agar kerajaaan Trumon menjadi destinasi wisata relegi sebagai khasanah Aceh pada umumnya. []