SMPN 3 Dewantara, Potret Miris Sekolah Peraih Akreditasi A

Potret sekolah SMP Negeri 3 Dewantara (Foto: aceHTrend/Bustami)

ACEHTREND.CO, Lhoksukon – Sekilas terlihat seperti bangunan tak berpenghuni, lingkungannya kotor tak terurus, beberapa bangunan penunjang seperti Mushalla dan WC tampak seperti sudah lama tak difungsikan. Begitulah potret Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 3 Dewantara, Aceh Utara yang beralamat di Jln. Perumahan BTN Glee Madat Ceudah, Desa Paloh Gadeng.

Sekolah yang dibangun di atas lahan seluas 10,169 m2 pada tahun 2008, pernah didapuk oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2013 lalu sebagai salah satu sekolah terbaik di Aceh Utara dengan predikat Akreditasi A Nomor SK: 479/BAP-SM.ACEH/SK/2013. Tapi sayang, akreditasi yang mentereng itu tak sementereng potret lingkungan sekolah saat ini.

Pantauan aceHTrend.co, bangunan Mushalla yang dibangun di sebelah kiri pintu masuk jauh dari kata terawat, pintu rumah ibadah yang menjadi tempat ibadah para guru dan siswa sekolah tersebut begitu kotor, loteng juga sudah susut dan berbolong-bolong, belum lagi pintu yang terbuat dari kaca juga sudah retak.

Lain Mushalla lain pula cerita dengan WC. Bagunan yang dibangun di belakang gedung ruangan belajar itu jauh dari kata layak, karena saat pertama media ini menyambangi WC tersebut kesan pertama muncul adalah jorok. Di sekeliling WC juga terlihat rumput liar yang tumbuh subur mencapai 30 cm hingga 1 Meter. Belum lagi urusan sampah yang ditumpuk sembarangan.

Foto: Bustami

Menjadi pertanyaan media ini, kemanakah anggaran Dana Opersional Sekolah (BOS) itu dikucurkan selama ini, sehingga terjadinya pembiaran hingga lingkungan sekolah itu menjamur tumpukan sampah dan rumputan liar?

Data yang diperoleh wartawan media ini, dari enam gedung ruangan belajar sekolah tersebut dihuni oleh 140 siswa dan setiap triwulan Dana BOS yang disalurkan mencapai Rp 28 juta rupiah atau Rp 112 juta per tahun. Sementara jumlah guru pengajar pun tidak sedikit, yakni 15 orang guru PNS dan 35 guru Honorer.

“Minta air dikit buk saya haus,” pinta wartawan media ini pada salah seorang guru yang sedang berada di dalam ruangan.

“Kalau air aqua gelas enggak ada, yang ada hanya air isi ulang, karena kami di sini tidak disediakan logistik untuk dikosumsi oleh guru di setiap jam istirahat,” ungkap salah seorang guru yang meminta namanya dirahasiakan.

Terlihat dalam ruangan, papan informasi yang seharusnya bertulikan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, namun masih bertuliskan Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga. Padahal pemerintah pusat telah menginstruksikan kepada Dinas Pendidikan untuk menggantikan nomenkaltur yang awalnya berdiri sendiri menjadi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan yang disesuaikan dengan nomenklatur kementerian pada tahun 2016 lalu.

Sementara itu, kepala sekolah Dra Sulastri ketika dijumpai wartawan aceHTrend.co diruang kerjanya mengatakan tugas yang menjaga kebersihan lingkungan sekolah sudah dititpkan kepada pesuruh sekolah.

“Masalah kebersihan lingkungan itu urusan pesuruh sekolah, tapi dia tidak dilakukan karena ada kegiatan lain diluar sekolah,”  katanya. []