Ketika Jam Tangan Rektor Unsyiah Mati

Rektor Unsyiah, Samsul Rizal di Milad 53 Fakultas Pertanian.

Rektor Universitas Syiah Kuala, Samsul Rizal sadar jika jam tangan miliknya mati. Hal itu disadarinya saat menyampaikan sambutan pada acara Milad ke-35 Fakultas Pertanian, yang disebutnya sebagai fakultas yang paling banyak melahirkan profesor.

“Saya baru sadar jika jam saya mati,” sebutnya sambil melirik ke arah jam dan lalu tertawa.

Pada sambutannya ia mengajak Unysiah untuk berkontribusi bagi penurunan angka kemiskinan di Aceh. Menurutnya, untuk menekan angka kemiskinan tidak hanya perlu menggarap sektor pertanian, perkebunan, perikanan dan peternakan. “Tapi juga sektor pariwisata dan investasi,” tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya kontribusi Unsyiah untuk menurunkan angka kemiskinan. “Jika tidak, sebagai jantong hatee rakyat Aceh, Unsyiah belum berbuat,” sebutnya.

Pada kesempatan itu, Samsul Rizal mengingatkan kemiskinan dan ketimpangan yang besar antara orang kaya dan orang miskin di Indonesia. Menurutnya, sebagaimana data yang diterimanya dari kalangan NU, disebutkan bahwa 85 persen kekayaan Indonesia hanya dikuasai oleh 35 orang saja.

Masih mengutip data yang pernah disampaikan oleh NU, Samsul menyebut jika di Indonesia, Gini rasio mencapai 0,39 dan indeks gini penguasaan tanah mencapai 0,46.

Di sisi lain, Rektor menyebut bahwa hanya 1 persen orang terkaya menguasai 50,3 persen kekayaan nasional, 0,1 persen pemilik rekening menguasai 55,7 persen simpanan uang di bank. Disebutkan juga bajwa hanya sekitar 16 juta hektar tanah dikuasai 2000-an perusahaan perkebunan, 5,1 juta hektar di antaranya dikuasai 25 perusahaan sawit.

Disebutkan juga, 15,57 juta petani tidak punya lahan. Jumlah petani susut dari 31 juta keluarga tani menjadi 26 juta, dua pertiganya adalah petani gurem yang terpuruk karena penyusutan lahan dan hancurnya infrastruktur pertanian. Luas lahan yang dimiliki petani kurang dari 0,5 hektar dengan luasan per-kelaurga tanu 0,2 – 0,3 hektar.

Sebagai catatan, pada Februari 2017, Oxfam dan Infid pernah melaporkan bahwa kekayaan 4 orang superkaya di Indonesia setara dengan gabungan kekayaan 100 orang termiskin. Perbandingan harta orang superkaya di Indonesia dengan 100 juta rakyat termiskin adalah US$ 25 miliar (Rp 333,8 triliun) banding US$ 24 miliar atau sekitar Rp 320,3 triliun.

Untuk itu, Prof. Dr. Samsul Rizal, M. Eng mengajak untuk juga memperhatikan juga sektor pariwisata dan investasi guna memastikan penurunan angka kemiskinan di Aceh. “Dalam lima tahun terakhir Pemerintah Aceh baru mampu menurunkan angka kemiskinan kurang dari 2 persen. Dari 17,8 ke 16,3, kurang dari 1,5 persen. Orang Aceh sebenarnya banyak yang kaya-kaya, tingggal diajak pulang untuk berinvestasi di Aceh,” tegasnya, Minggu (26/11) di acara Milad ke-35 Fakultas Pertanian yang juga dihadiri oleh Bupati Aceh Tengah dan Wakil Bupati Abdya.

Seturun dari panggung, Rektor Unsyiah itu langsung membenarkan jam tangannya. Semoga ajakannya untuk membenahi kemiskinan dan ketimpangan ekonomidapat terwujud dan Unsyiah berkontribusi bagi menghidupkan sektor pariwisata dan investasi sebagai jam tangannya yang hidup kembali sebagaimana ia kembali membetulkan jam tangannya. []