Tong-Tong Gapu

Muhajir Juli

Orang-orang yang berasal dari tiada, kemudian kala mendapatkan keberuntungan menjadi seseorang yang memiliki power besar, justru lupa menjaga kewenangannya untuk kepentingan menjaga amanah. Ia justru tenggelam dan tunduk pada nafsu amarah untuk membangun pengakuan dari orang lain, yang menurutnya selama hidupnya selalu tidak menaruh hormat kepadanya, atas berbagai alasan.

Orang-orang yang berasal dari zero ini, acapkali ketika mendapatkan kekuasaan, adalah membangun identitas baru. Mereka tidak ingin mengenang kehancuran di masa lampau. Bicara masa lalu, bagi mereka adalah berbicara tentang sesuatu yang menyakitkan, romantisme yang melahirkan luka.

Maka hal pertama yang dilakukan kala meraih sesuatu yang puncak adalah, memakmurkan diri, dengan tujuan ingin menyamai orang-orang yang selama ini—menurutnya—memiliki taraf kehidupan yang elit. Bila si A memiliki mobil mewah, maka ia juga harus punya. Bila si A punya kapal pesiar, ia juga harus punya.

Maka berbagai cara pun ditempuh demi tercapainya tujuan yang ia idamkan. Maka tidak heran, bagi tipikal manusia yang demikian, pertemanan tidak begitu penting dalam kondisi susah, tipikal manusia seperti ini, akan menjadikan teman sebagai sandaran. Kala ia mencapai tujuannya, ia pun mulai menggusur orang-orang yang memberikan dukungan kepadanya.

Ia kemudian memasukkan orang lain sebagai teman baru, tak peduli apakah itu lawan politik sekalipun. Karena baginya, tidak ada yang lebih menentramkan dalam menjaga kekuasaan, selain dikelilingi oleh para penjilat yang selalu menghamba, mengharap remah-remah kekayaan darinya.

Dalam sejarah Eropa modern, kita mengenal Mussolini dan Hitler. Dua diktator dari benua biru (Italia dan Jerman) yang lahir dan besar dalam kecamuk politik dan perang. Mereka berasal dari entitas yang tiada—tiada kehormatan, tiada ekonomi, tiada dikenal–.

Gagasan mereka memang luar biasa. Perjuangan mereka berdarah-darah, namun dalam gegap gempita perjalanan hidup sebagai upaya menemukan jalan menuju puncak, merekapun –kemudian baru disadari oleh teman-temannya—ikut membawa perilaku busuk bawaan, yaitu megalomania.

Maka, sejarah kemudian mencatat, Hitler maupun Mussolini adalah dua penguasa Eropa yang bengis, tak memiliki belas kasihan, menjadikan diri setengah Tuhan, memposisikan diri sebagai yang tahu segalanya, anti kritik serta mengidap megalomania.

Bagi mereka teman yang ikut mengantarkannya ke hadapan pintu kekuasan, bukanlah sesuatu yang penting. Mereka yang loyal menjaga kekuasaan dengan cara mengabdikan sepenuhnya untuk tujuan Negara, pun tidak penting.

Karena bagi keduanya, orang yang selalu ia butuhkan adalah para penjilat telapak sepatu, yang selalu bersedia mengatakan setuju dengan semua sikap mereka, tak peduli itu benar atau salah. Maka, sejarah membuktikan bahwa banyak orang-orang yang awalnya adalah mereka yang berjuang mengantarkan Hitler dan Mussolini ke puncak, justru dibunuh oleh keduanya, dengan dalih telah berkhianat.

Di Indonesia, Soeharto adalah contoh paling sempurna untuk mengambarkan hal yang demikian.

Dalam sastra klasik Aceh—sastra tutur—dikenal sebuah karakter yang bernama Tong-Tong Gapu, yang selalu diceritakan sebagai seorang budak—dalam berbagai cerita—yang awalnya setia menjadi abdi orang-orang berada. Namun kala mendapatkan angin segar, dengan perjuangan yang ia lakukan serta dukungan dari sang majikan dan orang sekelilingnya, ia pun memiliki nasib yang mujur.

Namun kala ia sampai ke puncak, ia menjadi keras kepala, anti kritik, zalim dan kejam. Tak jarang ia menghukum orang yang memberikan pendapat berbeda dari yang Tong-Tong Gapu inginkan. Tong-Tong Gapu adalah karakter yang diceritakan awalnya hidup miskin, berasal dari keluarga budak broken home, tidak dihormati serta memiliki track record buruk karena catatan masa lalu.

Dulu, dulu sekali, untuk menjadi pemimpin di dalam komunitas masyarakat Aceh, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh calon pemimpin. Pertama jelas asal-usulnya, kuat agamanya serta kuat ekonominya.

Tiga syarat utama ini tidak boleh satupun yang kurang. Kenapa? Untuk menjaga agar sang pemimpin tidak mbalelo di kemudian hari, kala sudah sudah berkuasa. “Saboh pesan ulon bak gata hai aneuk, singoh meunyo kana jabatan, bek lage si Tong-Tong Gapu. Bek cit lage si puntong meurumpok jaro.” Begitu orang-orang dulu memberikan wejangan. []

KOMENTAR FACEBOOK