Masa Depan Aceh di Tengah Gelimangan Narkoba

Polresta Banda Aceh memusnahkan Narkoba jennis ganja

ACEHTREND.CO, Banda Aceh – Polresta Banda Aceh Selasa (28/11) kemarin kembali memusnahkan 17 bal narkotika jenis ganja kering dengan cara dibakar di halaman Mapolresta Banda Aceh.

Ganja tersebut adalah hasil tangkapan Satuan Reserse Narkoba Polresta Banda Aceh bersama karyawan J&T Ekpress pada Jumat 6 Oktober 2017 lalu di Kantor J&T Express Gampong Peunayong, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh.

Bersama barang haram tersebut, Polisi menetapkan Firdaus bin Isri sebagai tersangka karena dianggap melanggar Pasal 111 ayat (2) Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman hukuman paling singkat 5 tahun penjara dan maksimal 20 tahun penjara.

Kepala Satuan Reserse Narkoba Polresta Banda Aceh Kompol Syfran mengatakan, barang tersebut ingin diseludupkan ke Jakarta melalui J&T Express.

Namun karena merasa curiga, petugas J&T menelpon pihaknya untuk memeriksa barang tersebut yang dimasukkan dalam kardus besar.

“Hasilnya didapatkan 17 paket ganja kering yang dibubuhi udang sabu untuk mengelabui petugas,” katanya.

Menurut Syafran, barang haram tersebut bukanlah milik Firdaus, melainkan milik orang lain yang menggunakan jasa tersangka untuk mengirim barang tersebut ke Jakarta. “Tersangka diupah Rp 700 ribu,” katanya.

Peredaran Narkoba Meningkat

Pemusnahan barang haram di Polresta Banda Aceh tersebut bukan lagi hal yang langka ditemukan di Republik ini khususnya Aceh.

Di provinsi paling ujung Pulau Sumatera kasus narkoba meningat tajam, baik itu ganja, sabu-sabu maupun ektasi. Para pelaku yang terlibat juga beragam, tidak hanya untuk golongan kerah putih, melainkan juga mewabah ke kalangan masyarakat kelas bawah, dengan beragam profesi, mulai dari siswa, mahasiswa, petani, pengangguran, artis, PNS hingga pejabat negara.

Kapolda Aceh Irjen Rio S Djambak beberapa waktu lalu mengungkapkan, pada 2015 Polda Aceh menangani 1.170 kasus narkoba, jumlah tersebut kian meningkat di 2016 dengan jumlah kasus mencapai 1.441 dengan tersangka 1.940 orang yang terdiri dari 1.898 laki-laki dan 46 perempuan.

Para tersangka tercatat 114 pelajar, 94 mahasiswa, 45 PNS, 15 polisi, 221 orang swasta, 861 orang wiraswasta, 235 petani, 78 nelayan, 82 pedagang, 48 sopir, 29 ibu rumah tangga, dan lainnya 71 orang.

Semetara barang bukti yang diamankan terdiri 13,2 ton ganja, 77,68 kilogram lebih sabu-sabu, dan 113 butir ekstasi. Polda Aceh juga telah memusnahkan 487 hektare ladang dengan jumlah mencapai tiga juta lebih batang ganja.

Lebih mengejutkan lagi, Kepala Bidang Pemberantasan Badan Nasional Narkotika Provinsi (BNNP) Aceh, Amanto mengatakan, bahwa peredaran narkoba di Aceh dikontrol oleh para bandar lama yang saat ini meringkuk dalam jeruji besi. Namun mereka terus menyuplai narkoba ke Aceh seperti Abdullah dan beberapa bandar besar lainnya.

“Selama ini yang saya ketahui penyuplai narkoba ke Aceh masih pemain-pemain lama yang dikendalikan langsung dari dalam penjara, seperti jaringan Faisal, dan jaringan Abdullah, namun masih susah untuk kita membuktikannya,” kata Amanto.

Dibutuhkan Didikan Orang Tua yang Berkualitas

Meningkatnya peredaran narkoba telah menjadi anomi di Aceh, berbagai upaya yang dilakukan pemerintah belum terlihat menuai hasil yang memuaskan, bahkan tak ayal sejumlah penegak hukum sendiri juga ikut bermain mata dengan para bandar untuk maraup untung besar, sehingga seberapa berat ancaman hukuman yang diformulasikan dalam sebuah undang-undang, para bandar tetap mulus meracun generasi bangsa dengen narkoba.

Untuk itu, upaya pencegahan peredaran narkoba tidak boleh lagi hanya bertumpu pada aparat penegak hukum, aktivis anti narkoba, atau lembaga pendidikan. Melainkan juga harus menjadi tanggungjawab orang tua dalam memcetak generasi penerus yang lebih baik. Generasi yang menjadi harapan harus mendapatkan didikan yang baik dan terjauhi dari lingkungan yang tidak baik.

Untuk itu, dibutuhkan orang tua yang berkualitas untuk melahirkan generasi yang berkulitas, agar bisa mencetak generasi masa depan bangsa yang lebih baik dari rong-rongan narkoba.

Kepala Dinas Pendidikan Badan Dayah Aceh Bustami Usman berpesan, kendati narkoba sudah masuk dalam berbagai lini sendi kehidupan masyarakat, namun masih ada satu tempat yang dianggap masih dapat menjadi tumpuan dan harapan karena dinilai masih relatif bersih. Lembaga itu adalah dayah.

“Karena santri atau alumni dayah bisa dikatakan tidak ada yang terkontaminasi narkoba, kemudian juga mudah untuk dikoordinir. Kita optimis genrasi dayah adalah generasi harapan masa depan,” katanya.[]

KOMENTAR FACEBOOK