Dr. Surin Pitsuwan, Politikus Muslim Thailand yang Ikut Membantu Aceh

SUATU hari pada tahun 2001, puluhan aktifis dan pembela HAM di Asia Tenggara berkumpul di Sasa International House (Sasa Nives) sebuah gedung penginapan di dalam komplek universitas Chulalongkorn yang terletak di depan mall Mahboongkrong (MBK), tidak jauh dari Siam Square, jantung bisnis kota Bangkok.

Mereka berkumpul untuk pertemuan dengan Hina Jilani, Special Representative of UN Secretary-General Ban Ki-moon on Human Rights Defenders, seorang advokat asal Pakistan yang menjadi Utusan Khusus Sekjen PBB untuk aktifis dan pembela HAM.

Di sela-sela pertemuan tersebut, kepada saya diperkenalkan seorang berkulit hitam manis, ruman mukanya ramah, dengan wajah sedikit kearab-araban. Sebelum berjabat tangan, melambai dan mengucapkan, “Assalamualaikum”. Setelah menjawab salam, kami berkenalan. Sewaktu tahu saya berasal dari Aceh, dia bertambah semangat dan banyak menanyakan tentang kondisi Aceh yang sedang bergejolak.
“Kuliah di mana? Thammasat?”, begitu dia bertanya sambil menyebut salah satu universitas di Thailand. “Saya di Al-Azhar, Cairo”, jawab saya. Matanya langsung berbinar-binar, dan berusaha berbicara dengan bahasa Arab walaupun agak terpatah.

Rupanya pada tahun 70-an dia pernah belajar bahasa Arab selama setahun setengah di American University Cairo.

Tanpa ragu saya langsung berseru, “Ah, ini Dr. Surin Pitsuwan!”, dia tertawa lebar.

Iya, begitulah cerita perjumpaan pertama dengan Dr. Surin Pitsuwan, Menteri Luar Negeri Thailand, anggota partai demokrat, seorang muslim berasal dari sebuah provinsi di bagian selatan Thailand, Nakhon Si Thammarat.

Dari tahun 2002-2004, Dr. Surin bersama tokoh dunia lainnya seperti Jenderal Anthony Zinni, menjadi anggota “Wise Men Group” di bawah naungan the Henri Dunant Centre for Humanitarian Dialogue (HDC) di Geneva, memberi nasehat dan pertimbangan dalam proses dialog antara Gerakan Aceh Merdeka dengan Pemerintah Indonesia.

Dr. Surin pensiun dari politik dan menjadi secretary-general ASEAN yang berkantor di Jakarta dari tahun 2008-2012. Dia termasuk tokoh utama yang membesarkan ASEAN, gigih memperjuangkan agar organisasi Asia Tenggara ini bisa berperan di level internasonal.

Setelah itu kembali ke Thailand dan menjadi chairman pada Future Innovation Thailand Institute, sebuah think-tank dibentuk partai Demokrat untuk men-design masa depan negara itu. Walaupun institut ini dibentuk partai, tetapi bekerja secara independen dan tidak disetir oleh partai.

Kemarin, hari Kamis, Dr. Surin terjatuh karena serangan jantung saat bersiap untuk berpidato pada acara Thailand Halal Assembly 2017 di gedung Bitec, Bang Na, Bangkok. Langsung dilarikan ke Ramkhamhaeng Hospital, namun Allah berkehendak lain. Pada jam 3.07 sore, Dr. Surin kembali ke rahmatullah. Meninggal pada usia 68 tahun.

Innā Lillāhi wa innā ilaihi rāji’ūn.

Selain politikus, almarhum juga seorang kolumnis Bangkok Post, dan dipersiapkan oleh partai demokrat untuk maju dalam pemilihan gubernur kota Bangkok ke depan.

Almarhum pernah menjadi anggota National Reconciliation Commission (NRC), yang ditugaskan untuk membawa perdamaian dan menyelesaikan konflik di Selatan Thailand.

Dua pencapaian almarhum yang sangat luar biasa, pertama, menjadi ujung tombak dalam membantu mengembalikan ketertiban umum dan keamanan pasca referendum di Timor Leste. Kedua memimpin negara-negara Asean, PBB dan lembaga internasional lainnya seperti ADB, Worldbank, untuk membantu membangun Myanmar yang porak-poranda diterjang badai Cyclone Nargis. Almarhum tinggal di sana dari tahun 2008 sampai selesai pada Desember 2010.

Sampai akhir hayatnya, almarhum mendapatkan 13 gelar Doktor Honoris Causa diantaranya dari University of Bristol (UK), Claremont McKenna College, the National University of Malaya (UKM) University Putra Malaysia (UPM) and University of Malaya (UM).

Semoga almarhum diluaskan kuburkan, diampuni segala dosa dan ditempatkan bersama para aulia dan syuhada.

KOMENTAR FACEBOOK