Menjemput “Pulang” Putera-Puteri GAM

Menjadi yatim dan ayah berstatus sebagai pejuang kemerdekaan Aceh, membuat mereka tidak memiliki pilihan. Hidup dan tumbuh besar tanpa pelukan sang ayah, kerapkali menyebabkan mereka disorientasi. Kini, 13 tahun Damai Aceh, anak-anak itu telah menjadi pemuda, yang sayangnya tanpa pendidikan yang mumpuni. Mereka kalah—berkali-kali—semenjak sang ayah dijemput Ilahi.

Adam, lelaki beranak dua, telah memilih jalan membelakangi Republik Indonesia, jauh sebelum ia meminang S, seorang dara di kampungku,Teupin Mane, Juli, Bireuen. Ia adalah Teuntra Nanggroe Aceh (TNA) yang kukenal pendiam, dingin serta jarang pula duduk di warung kopi.

Sebagai kombatan GAM, ia adalah salah seorang petempur wilayah Gunong Syuhada yang kala itu dipimpin oleh Geuchik Malek. Hingga pada suatu hari, setelah puluhan bala dan petaka menimpa kampung kami, ia sakit keras di dalam rimba. Seseorang sempat menemukan lelaki itu sendiri menatap nisan sang ayah yang telah lebih dulu menghadap Ilahi, setelah secara heroik, dengan senjata pedang melawan sekumpulan tentara republik yang bersenjata api.

Kala sang ayah dikepung dan dihujani peluru oleh tentara, Adam sejatinya ada di seberang alur, yang berjarak kira-kira 100 meter dari TKP. Ia sempat ingin membantu sang ayah yang gegap gempita menebas pedang ke badan tentara yang malang, subuh itu.

Namun, rekan seperjuangan melarang. Hingga sang ayah menjadi martir, Adam hanya bisa menangis histeris.

Pada suatu petang, kami mendengar bahwa Adam pun telah menghadap Ilahi Rabbi. Jenazahnya ditemukan di dalam hutan, di kawasan Krueng Simpo, Kecamatan Juli. Jasadnya sudah bengkak. Luka bekas tikaman bayonet terlihat jelas di sekujur tubuh lelaki bertubuh sedang itu.

Tangisan histeris tentu menjadi penyambut, kala jenazah sang kombatan dibawa pulang ke rumah duka, di Lorong Tutu Tuha, Dusun Paya Santewan, Teupin Mane. Seorang ibu muda, dengan mata bengkak menatap jenazah sang suami, dengan suasana pilu. Seorang bocah lelaki, pun ikut berurai air mata. Ia tahu, sang ayah sudah pergi.

Seorang lagi, balita perempuan, hanya menatap bingung, rumahnya tiba-tiba ramai. Hingga akhirnya ia melihat sang ayah dibungkus kain kafan, kala itu ia tak mengerti bila sang ayah sudah tiada.

***
Bang Man, aku memanggilnya demikian. Kala menghadap Ilahi, ia sudah memiliki tiga anak, dua lelaki dan satu perempuan. Masih sangat kecil. Ia adalah lelaki peramah. Perokok berat—jikalau tidak salah ia menghisap rokok Gudang Garam Merah—deretan giginya pun telah dikuasai utuh oleh nikotin.

Di dalam badan perjuangan GAM, Bang Man bukan TNA. Ia bukan tentara. Sehari-hari ia selalu memonitor informasi melalui handy talkie. Orang-orang mengatakan bila Bang man adalah pateing atawa aneuk udeung. Barisan GAM yang bertugas di kampung dan sepanjang jalan raya.

Pengalamanku bersamanya, aku pernah menyelinap ke dalam kebun kacang kuning(kedelai) yang lebat, kala hendak memonitor serombongan mobil yang masuk ke kampungku di tengah malam buta. Untung saja, bahwa rombongan itu adalah orang-orang TNA asal Linge yang baru pulang dari operasi, dan sempat membuka markas darurat di Dusun Seuneubok Dalam, Kecamatan Juli. Kelompok itu dipimpin oleh Wen Rimba Raya.

Bang Man ditangkap tentara kala sedang bertugas. Ia tak bisa mengelak ketika tentara menemukan handy talkie di lipatan jaket. Hingga berbulan-bulan kemudian, ia tak kunjung pulang. Anak-anaknya pun tak sempat kulihat menangis meraung. Mungkin, karena sang ayah memang tak pernah ditemukan. Sehingga raut duka, tak begitu kentara.

***
sebagai seorang jurnalis, saya kerap mendapatkan cerita tentang nasib anak-anak kombatan GAM yang ayahnya berpulang sebelum damai terwujud di Aceh. Anak-anak itu bertumbuh dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. Menjadi anak GAM, bukanlah sesuatu yang hebat kala itu. Memiliki ayah sebagai seorang pejuang kemerdekaan Aceh, membuat kehidupan mereka sulit. Sang ayah yang tidak benar-benar punya waktu yang cukup untuk mencari nafkah, serta jarang berada di rumah, membuat ekonomi mereka carut marut.

Kondisi bertambah buruk, ketika sang tulang punggung sudah tiada. Anak-anak GAM itu, tumbuh dalam kondisi memprihatinkan, miskin, tak bersekolah, tidak mengaji, serta bertumbuh dengan kehidupan yang keras. Beban itu bertambah, kala ibu mereka diwajibkan melapor ke pos-pos TNI, fitnah yang menimpa sang ibu, membuat hidup mereka semakin terjepit.

Rata-rata mereka kini sudah memasuki usia pemuda. Mungkin sekira usia 25 tahun ke bawah. Dalam kondisi tanpa pendidikan, otomatis pergaulan mereka sangat terbatas. Dalam kondisi demikian pula, ada di antara mereka yang terlibat kriminal kecil, mulai dari mencuri sandal di masjid, hingga kurir narkoba. Bilapun ada yang hidup berkecukupan dan memiliki pendidikan tinggi, itu bisa dihitung dengan jari.

Terlupakan di Masa Reinsertion
Aceh belum masuk ke dalam masa reintegrasi. Sebagai daerah bekas perang, untuk menuju reintegrasi, dibutuhkan waktu yang lumayan lama untuk menciptakan kondisi yang lebih baik. Hal ini dikenal dengan reinsertion.

Nah, saya tidak hendak menyalahkan siapapun. Namun, sepertinya kita telah mengabaikan, atau setidaknya tidak menganggap mereka penting untuk sementara waktu. Anak-anak GAM, ya, kita telah melupakan putera-puteri GAM, yang ayah mereka tewas dalam perang sebelum damai terajut.

Sebagai anak-anak pejuang GAM, mereka membawa beban sendiri. Hidup serba sulit, tanpa pendidikan, hidup keras di kelas bawah, terhina, terkadang tersisih, mereka haruslah mendapatkan penangangan khusus.

Mereka adalah generasi yang harus mendapatkan perhatian khusus, direncanakan secara khusus dan dikelola secara khusus. Kenapa? Sebagai yatim konflik yang ayahnya berstatus sebagai pejuang GAM, hidup mereka di masa lalu sangatlah sulit. Untuk itu, pendekatan spesial haruslah dilakukan untuk menangani mereka.

Saya melihat, dengan beban sejarah yang harus mereka pikul, kemarahan mereka yang masih bersembunyi di dalam dada, dan berpeluang diletupkan oleh orang-orang tak bertanggung jawab, kondisi mereka berada pada level kritis. Dengan jiwa-jiwa muda saat ini, hanya butuh dua atau tiga alasan pemantik kemarahan, dan kemudian mereka bisa bebas dikelola untuk kepentingan jahat orang lain.

Saya menyebut mereka sebagai stolen generation. Generasi yang “tercuri” dari perhatian kita, karena suara mereka tidak terkonsolidasi dengan baik. Mereka yang berserak di berbagai kondisi sosial kelas bawah, membuat harapan dan aspirasi mereka, terbuang bersama tangisan di tengah malam, serta rutuk kutuk di bawah derasnya hujan.

Menjemput Anak-Anak GAM

Kiranya belumlah terlambat untuk segera tersadar, bahwa kita memang telah melupakan mereka. Kita sudah terlanjur menganggap mereka sebagai kelompok masyarakat imbas konflik biasa. Sehingga penanganan pun dilakukan sama seperti sipil biasa.

Selama ini, Badan Reintegrasi Aceh (BRA) fokus pada tiga sasaran. Pertama eks kombatan GAM, tapol dan napol serta masyarakat imbas konflik.

Saya kira, ke depan, anak-anak GAM itu harus dimasukkan dalam kelompok tersendiri. Mereka membutuhkan penangangan khusus. Mulai dari pemulihan trauma, penghilangan dendam, memberikan pendidikan khusus. Sebagai orang-orang yang pernah kehilangan ayah di usia yang sangat belia, mereka merupakan kelompok khusus, yang harus dididik, agar menemukan kembali sesuatu yang hilang.

Mereka masih sangat belia ketika harus kehilangan orang yang dicintai. Mereka masih sangat kecil kala harus hidup dalam kondisi serba kekurangan dan tanpa pelukan hangat dari ayahanda. Mari jemput mereka. Datanglah sebagai ayah bagi mereka. Rangkul mereka. Pulihkan mereka. Sayangi mereka. Berikan mereka cinta dan lapangan kerja. []

Foto dikutip dari BBC.