4 Desember 1976

Hasan Tiro dan Eks GAM Libya Foto: ModusAceh

Orang-orang yang berhasil menuliskan namanya sendiri dengan tinta emas sejarah, selalu saja, mereka yang memiliki gagasan besar. Dari tanah Bavaria, kita mengenal nama Adolf Hitler, seorang megalomania yang menganggap ras Aria merupakan sesuatu yang paling agung di dunia. Kala ia memerintah Jerman, ribuan bangsa Yahudi telah merasakan penyiksaan, penistaan dan penghinaan, yang tidak akan pernah dilupakan sepanjang bumi ini terus berputar.

Lelaki yang bergelar Fuhrer und Reicskanzler dan berkuasa sejak 1933-1945, harus melewati hari-hari yang sulit, sebelum menjadi seseorang yang teramat kejam sekaligus ditakuti oleh dunia, kala itu. Hitler, lelaki yang menempatkan dirinya sebagai seseorang yang paling agung, berkat keuletannya, telah berhasil menggenggam dunia, sekaligus membuat planet bumi—setidaknya di Eropa dan Pasifik– dilanda huru-hara yang memakan ribuan nyawa. Ia seorang ambisius yang keras kepala serta pekerja keras. Berasal dari keluarga yang centang perenang, ia menjadi pemenang, sebelum dilumat oleh kekuatan Sekutu.

Dunia telah mencatat, bahwa telah banyak orang-orang besar yang muncul ke permukaan, setelah melewati perjalanan berliku yang tidak mudah. Sejarah Eropa, Asia, Islam, Kristen dan lainnya, telah membuktikan bahwa yang berhasil menguasai panggung sejarah ialah ia yang mempunyai gagasan besar serta ambisi besar dan taktik yang besar pula.

Tanpa hendak menyamakan Tengku Hasan di Tiro dengan Hitler yang kejam itu, setidaknya Indonesia—dalam perjalanan sejarahnya—pernah harus berhadapan dengan gerakan kemerdekaan Aceh, yang memiliki tentara terlatih, sistem komando yang rapi, pemerintahan sipil yang teratur, serta mendapat dukungan rakyat secara luas, dan mampu bertahan untuk terus mengobarkan perlawanan selama 30 tahun.

Banyak orang yang mengatakan –bahkan ada yang mencatatnya—bahwa Hasan Tiro memilih berpaling dan melawan Republik Indonesia—sebuah negara yang sempat ia dukung—karena kalah tender proyek Arun di Blang Lancang, Aceh Utara. Motif ekonomi –ditulis oleh yang menulis—menjadi pemicu perlawanan Hasan Tiro yang dituduh sok feodal oleh seorang wartawan di era lampau.

Dalam imaji Tengku Hasan Tiro, Aceh adalah sebuah negara berdaulat, yang tidak ada sangkut pautnya dengan Indonesia. Kehadiran entitas Republik Indonesia di Aceh, dianggap sebagai upaya pendudukan (penjajahan) yang harus dilawan. Baik secara politik maupun kekuatan bersenjata.

Prediksi bahwa Indonesia akan terpecah belah, menjadi wacana di dunia internasional, setidaknya bagi kalangan yang selama ini menginginkan kemerdekaan karena Orde Baru hadir sebagai agresor yang kejam sekaligus tidak kenal ampun. Proyek Indonesiasisasi, melalui program transmigrasi dalam rangka menjalankan “kegiatan” mewujudkan Bangsa Indonesia, telah membuat sejumlah daerah menggeliat. Dari sabang sampai Merauke, sejumlah entitas lokal bangkit melawan, dengan ragam cara.

4 Desember 1976 adalah tonggak, kala Tengku Hasan di Tiro kembali mencoba membangunkan orang Aceh yang sudah terlelap dengan membiarkan peleburan identitasnya menjadi sesuatu yang di luar mereka. Derajat Bangsa Aceh pun turun menjadi suku Aceh, tetap tidak menjadi perhatian putra-putri Aceh yang duduk di birokrasi. Mereka telah nyaman menjadi “Bangsa Indonesia”.

Menggugah nilai keacehan. Saya menangkap spirit itu.

Apa yang dilakukan oleh GAM, sejatinya merupakan sebuah perlawanan melahirkan kembali sebuah negara yang sempat kehilangan kehormatannya di negerinya sendiri. Konsepnya tentu menjadi debatable, negara monarki atau negara modern? Tapi wacana itu tidak menjadikan pemecah tujuan dasar. Hasan Tiro, ingin melahirkan negara baru yang melanjutkan Aceh tempo dulu sebagai sebuah bangsa sekaligus negara.

***
Kita semua paham, lahirnya reformasi 1998 di Indonesia, telah membuat gerakan perlawanan di berbagai daerah pun melemah dan kemudian mati. Tinggallah Aceh dan Papua. Secara kalkulasi, Indonesia sudah kembali kuat. Lahirnya otonomi daerah telah membuat daerah-daerah merasa telah mendapatkan kehormatannya kembali. Untuk itu GAM pun harus kembali menghitung kekuatan.

Tsunami pada 26 Desember 2004 yang meluluhlantakkan Aceh, membuat negeri ini rusak. Perang yang telah berkobar selama 30 tahun, seakan kehilangan makna. Bilakah perang terus dilanjutkan, gunanya untuk apa? Puluhan ribu manusia yang menjadi syuhada tsunami, adalah bukti bahwa, perang, bila tidak segera diselesaikan, akan membuat Aceh semakin hancur.

Akhirnya, GAM dan RI bersepakat berdamai. Memorandum of Understanding yang diteken pada 15 Agustus 2005 di Helsinki, Finlandia, adalah bukti komitmen kedua belah pihak untuk berhenti bermusuhan, dan sepakat kembali ke dalam RI dengan bentuk self goverment.

Tidak ada perjuangan yang sia-sia. Sebagai sebuah gerakan perlawanan, GAM yang diinisiasi oleh Paduka Yang Mulia Wali Neugara Tengku hasan di Tiro, telah meninggalkan jejak yang luar biasa. Bahwa Aceh telah kembali menemukan dirinya kembali sebagai sebuah entitas yang setara dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Perihal self goverment di dalam bingkai NKRI, itu sebuah konsensus yang telah disepakati oleh para petinggi GAM. Namun harus dicatat, GAM tidak pernah bubar. Siapa yang bisa membubarkan GAM? Tidak ada. Sebagai sebuah gagasan, GAM akan terus hidup di dalam sanubari bangsa Aceh, selama bangsa Aceh masih mau menjadikan GAM sebagai sebuah rumah untuk melindungi semua kepentingan Aceh dalam arti yang seluas-luasnya.

GAM juga bukan partai politik. Benar bahwa di tubuh partai politik ada anggota GAM. Tapi GAM di atas semua partai dan di atas semua golongan. GAM adalah rumah, selayaknya UMNO di Malaysia. Saya melihatnya demikian.

Selamat milad GAM ke 41.