Aceh Besar Dinilai Lebih Strategis Dibangun IPDN

Ketua DPR Aceh Besar, Sulaiman (Foto: Lamuri Online)

ACEHTREND.CO, Banda Aceh – Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Besar, Sulaiman, menilai bahwa pembangunan Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) lebih strategis dibangun di Aceh Besar ketimbang di Bireun atau di daerah lainnya di Aceh.

“Karena Aceh Besar selain dekat dengan ibu kota yang jadi sentral perputaran ekonomi juga dekat dengan badara internasional (Bandara SIM),” katanya saat dihubungi aceHTrend, Selasa (5/12/2017) malam.

Sulaiman mengungkapkan, sejak diwacanakan pembangunan IPDN di Aceh, Pemerintah Kabupaten Aceh Besar sudah membentuk tim percepatan pembangunan IPDN sejak 2015 lalu, para tim telah bekerja keras dengan melakukan berbagai persiapan.

“Kalau mengenai persiapan panitia pembangunan, memang sudah benar-benar siap untuk menampung kampus tersebut, bahkan kita sudah menyiapkan tanah di dua tempat, Jantho dan Blang Bintang,” katanya.

Karena itu Sulaiman meluruskan jika ada yang berpendapat bahwa Pemerintah Aceh Besar tidak menyadiakan tanah untuk pembangunan IPDN di kabupaten tersebut hingga wacana pembangunan dialihkan ke Bireun oleh Gubernur Aceh Irwandi Yusuf.

Baca : Irwandi Setuju IPDN Dibangun di Bireuen

“Itu anggapan yang salah, kita malah sudah menyiapkan tanah di dua tempat tersebut masing-masing 150 hektar dan itu sudah oke,” katanya.

Sulaiman menjelaskan ihwal kenapa Aceh Besar dinilai lebih tepat, karena mulai letak lahan rencana pembangunan kampus yang strategis, dekat dengan bandara serta dekat dengan Ibukota provinsi yang menjadi pusat perputaran ekonomi.

Dengan faktor-faktor tersebut, katanya, akan memudahkan siapa saja yang ingin berkunjung ke IPDN terutama bagi orang tua dari mahasiswa (praja) saat mengunjungi anaknya, sebab dari bandara ke Jantho hanya membutuhkan waktu selama 60 menit, sementara di Blang Bintang hanya memakan waktu 10 menit .

“Sementara kalau di Bireun itu jauh, kalau dari Bandara SIM ke sana memakan waktu Sampai 5 jam. Oke, katakanlah naik pesawat turun di Lhokseumawe (Bandara Malikussaleh), itu pun membutuhkan jarak tempuh sampai dua jam,” jelasnya.

Kendatipun demikian, Sulaiman mengatakan, bahwa pemerintah dan masyarakat di Aceh Besar tidak mempermasalahkan jika pun Irwandi menginginkan IPDN dibangun di Bireun.

Karena, pembangunan IPDN bukan berbicara tentang kapentingan wilayah, melainkan kepentingan Aceh dan nasional secara umum. Namun, dia berharap agar pembangunan IPDN tersebut harus melihat juga manfaat yang bisa dirasakan oleh masyarakat, baik masyarakat dalam jangkauan kecil maupun jangkau besar.

“Jika memang ingin dibangun di Bireun kita (Aceh Besar) tidak ada masalah, tapi jika kemudian timbul masalah maka ini menjadi masalah nasional bukan hanya Aceh. Karena sebegitu besar anggaran yang digelontorkan untuk pendirian IPDN kemudian tidak bermanfaat seperti yang diharapkan,” katanya. []