Ia yang Memilih Menikah Muda

ACEHTREND.CO,Banda Aceh- Langkah, rezeki pertemuan dan maut, adalah rahasia Tuhan. Tidak ada yang bisa menebak, termasuk H (24) lelaki asal Aceh Timur, yang memilih mengakhiri masa lajangnya di Negara Jiran Malaysia.

“Saya menikah dua tahun lalu. Usia saya sekarang 24 tahun. Istri saya 19 tahun sekarang. Kami saling jatuh cinta saat sama-sama bekerja di Malaya,” ujar bungsu dari tujuh bersaudara itu, Kamis (7/12/2017).

H tak pernah membayangkan akan menikah di usia yang sangat muda. Peristiwa itu diawali kala ia kelas tiga SMK. Begitu pulang prakerin (praktek kerja di industri) di Pidie, sang ayah meninggal dunia.

Ia segera harus meninggalkan bangku sekolah. Bujang itu kemudian melanjutkan usaha sang ayah berjualan di warung. Namun,tidak begitu lama, usaha itu bangkrut. H pun banting setir sebagai penggalas ikan. Usaha itu juga kolaps. Kemudian ia pun bekerja serabutan. “Bahkan saya pernah menjadi pemanjat kelapa di kampung,” kisahnya.

Kala itu ia sudah menjalin hubungan dengan seorang dara di kampungnya. Komunikasi dengan ayah sang pacar pun sangat bagus. “Bahkan ayahnya itu mitra bisnis saya di bidang jual beli mentimun. Saya yang tanam beliau yang beli,” kenangnya sembari tertawa.

Hubungan asmara itu berlanjut hingga keduanya merantau ke Malaysia. Di sana, mereka secara sendiri-sendiri bertarung dengan kerasnya tanah rantau. Pundi ringgit mereka penuhi dengan harapan sekembalinya ke Aceh, bisa segera menikah.

Kisah hidup tidaklah selalu seperti yang direncanakan. Sang kekasih tiba-tiba berpaling ke lain hati. Ia memilih meninggalkan H dengan segala kehancuran hati. H tidak berdaya. Baginya cinta adalah tentang ketulusan untuk saling menjaga.

Pun demikian, H tidak memiliki dendam. Ia menganggap apa yang telah terjadi merupakan bahagian perjalanan yang harus ia tempuh. Hingga akhirnya H pun bertemu dengan seorang remaja asal Bireuen. Entah pada pandangan mata keberadaan, akhirnya mereka saling jatuh cinta. Tidak butuh waktu lama, kedua remaja itupun mengikat cinta. “Kami menikah di Malaysia,” katanya sembari tersenyum.

Kala istri mulai hamil, mereka memutuskan pulang ke kampung halaman istri di Bireuen. “Alhamdulillah, selama di Malaysia saya belajar ilmu pertukangan. Dengan bekal pengetahuan itulah saya bekerja membangun rumah siapa saja yang membutuhkan jasa saya,” katanya.

Kala aceHTrend bertanya apakah ada penyesalan menikah muda? Sembari terus bekerja, H menggeleng. “Ayah saya dulunya beristri tiga. Tapi kami seolah-olah satu keluarga. Ayah mengajarkan cinta yang tulus kepada kami. Tak ada beda antara anak dari ibu A dan ibu B. Ayah mengajarkan tentang tanggung jawab,” sebutnya.

“Saya sangat mencintai istri saya. Saya tahu resiko memiliki istri. Tapi bukankah terlalu muda atau lebih dewasa menikah, akhirnya memang tentang tanggung jawab. Saya menikah muda karena studi saya sudah out. Saya menikah karena percaya bahwa saya mampu menjadi suami yang bertanggung jawab,” katanya. []