Prof. Todung Ungkap Kelemahan Risman A Rachman

ACEHTREND.CO, Banda Aceh – Di mata Prof. Dr. Todung Mulya Lubis, Pimpinan Umum aceHTrend, Risman A Rahman adalah sosok mantan aktivis yang sangat idealis. Sikap idealisme yang dianut oleh Risman membuat jebolan Master of Law, Harvard Law School Amerika Serikat itu ragu atas kemampuan Risman dalam membangun lobi-lobi bisnis.

“Kalau Risman kan orangnya idealis, jadi dia ini belum komersial betul. Kamu bisa nggak ngomong sama pengusaha, kalau ngomong sama pengusaha (kamu pasti) tidak bisa,” kata Todung pada Risman saat berkunjung ke redaksi aceHTrend bersama dua rekannya, dan mantan aktivis Aceh, Taf Haikal, Kamis (7/11/2017).

Sontak pernyataan Todung disambut gelak tawa. “Tahu kali Pak Todung,” timpal Komisaris Utama PT. Acehtrend Mediana, Ahmad Mirza Safwandi.

Risman dengan wajah malu, lalu mencoba membela diri. “Karena itu kami ngomong sama abang saja untuk ikut memberi dukungan,” balas Risman yang kembali disambut gelak tawa.

Todung mengungkapkan, sebagai Ketua Badan Pendiri Yayasan aceHKita ia mengaku kenal betul kepribadian Risman yang pada masanya memimpin media aceHKita. Yayasan aceHKita pada masa konflik Aceh pernah menerbitkan media alternatif berupa media online, majalah, dan koran.

“Soalnya saya kan kenal Risman, dia ini kan aktivis, belum tentu bisa ngomong sama pengusaha,” katanya.

Todung lalu berpesan, idealisme juga penting untuk membangun sebuah media, begitu juga harus ada realismenya (bisnis).

Todung menjelaskan, membangun lobi dengan pengusaha itu susah-susah gampang. Kalau kita tidak mampu mengakomodasi keinginan pengusaha tersebut, maka si pengusaha juga belum tentu mau kalau dia belum merasa nyaman.

Menanggapi hal itu, Risman mengungkapkan, bahwa aceHTrend sudah menemukan fomula untuk membangun kerjasama bisnis dengan cara membangun jurnalisme baru, yaitu appreciative jurnalism.

“Dalam jurnalisme apresiatif media ditantang untuk menemukan kekuatan positif pada subjek, dan di sinilah kerjasama bisa dibangun, namun diluar kerangka kerjasama, jurnalisme murninya tetap menjadi nyawa sebuah media,” jelas Risman. []