FISIP Unsyiah Latih Komunitas Program Dakwah Kreatif di Radio

Ketua Panitia Pelaksana, Rahmat Saleh, M.Comm. (kanan) Rahmat Saleh, menyerahkan sertifikat kepada Dr. Salman Syarifuddin MA selaku pemateri training.

ACEHTREND.CO, Banda Aceh – Kedutaan Besar Amerika Serikat menggandeng Komunitas Aceh Melek Media (KOMEMA) dan Prodi Ilmu Komunikasi FISIP Unsyiah dalam memberikan pembekalan 2 hari kepada praktisi radio se-Aceh tentang tata kelola siaran radio. Salah satu materi utama yang dibahas pada hari ke-2 adalah bagaimana menghadirkan program-program dakwah dengan format yang lebih kreatif.

Ketua Panitia Pelaksana, Rahmat Saleh, M.Comm. mengatakan bahwa data Nielsen 2017 menunjukan bahwa radio berada di urutan ketiga sebagai media yang paling banyak dikonsumsi masyarakat. “Dakwah radio seharusnya lebih inklusif dan mampu menjangkau sasaran terutama kelompok yang rentan terpapar konten negatif yaitu generasi milienal. Melayani mereka harus dengan pendekatan yang lebih kreatif tidak mungkin secara konvensional”, ungkapnya.

“Untuk itu, sebagai salah satu tindak lanjut dari pelatihan ini, kami gelar lomba program feature dakwah radio kreatif dengan total hadiah jutaan rupiah. Lomba bertujuan merangsang semangat kreativitas para praktisi radio melakukan terobosan dalam mengemas program dakwah radio”, jelas Rahmat.

Lebih jauh, Rahmat menegaskan bahwa arah ke depan adalah gerbang revolusi informasi 4.0, dimana masa transisisi menuju ke era digitalisasi menjadi penuh. Untuk itu radio juga harus mengikuti perkembangan tersebut dengan penggunaan flatform media yang lebih komplek dan konten siaran lebih variatif serta program dakwah yang dikemas sedemikian rupa untuk menjawab kebutuhan zaman sekarang.

Sementara salah satu pemateri, Dr. Salman Syarifuddin, MA, menyebutkan terdapat perbedaan yang tegas antara radio dakwah dan dakwah radio. Untuk berdakwah, tidak harus mendirikan radio dakwah. Karena radio dakwah itu menyampaikan pesan-pesan dakwah secara ekslusif.

Justru semua radio bisa menyampaikan pesan dakwah dengan memperbaiki metode penyampaiaannya saja. “Tidak melulu ceramah bentuknya, itu bisa membosankan. dakwah bisa berupa kisah, sandiwara radio, atau pengalaman inspiratif”, ungkap Salman.

Lebih lanjut Direktur Markaz Dakwah Al-Islah Banda Aceh tersebut mengatakan inovasi dakwah di media radio sangat mendesak untuk dilakukan mengingat generasi muda saat ini terindikasi melenceng dari nilai-nilai dan tuntunan agama, karenanya pendekatan dakwah radio harus mampu menyentuh sisi anak muda dan menyesuaikan dengan kebutuhan mereka.

Sementara itu, pembicara dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Aceh, Irsal Ambia menambahkan bahwa kreativitas program dakwah di radio dan beradapatasi dengan media baru merupakan suatu keniscayaan.

“Jadi mau tidak mau, harus dibangun basis sosial media untuk memamksimalkan dan melebarkan pesan-pesan dakwah radio, terutama untuk menjangkau generasi milineal itu”, tuturnya.

Turut hadir dalam kesempatan pelatihan tersebut adalah Atase Kebudayaan, Kedubes AS, Jakarta, Karen Schinnerer yang memaparkan tentang Kebebasan Pers di Amerika dan bagaimana mempromosikan keberagaman, perdamaian dan toleransi melalui media.

Ia menyebutkan di Amerika memiliki Fisrt Amandement sebagai payung hukum yang mengatur tentang kebebasan bagi warga. Setiap pendapat dan ekpresi publik dilindungi namun harus diuji dalam sebuah perdebatan yang berkualitas.

“Jadi meskipun negara melindungi kebebasan berpendapat dan berskpresi namun bukan berarti boleh sesuka hati, anda harus mampu mempertanggungjawabkan mengapa anda merasa benar terhadap sebuah pandangan misalnya”, ungkap Karen.

Karen juga menambahkan, Kedutaan Amerika memiliki banyak sekali program yang memberikan kesempatan kepada seluruh warga Indonesia untuk belajar dan melihat dari dekat bagaimana kondisi Amerika dengan beragam topic yang ingin dipelajari.

“Apa yang dilakukan oleh Rahmat melalui komunitasnya adalah salah satu bentuk dukungan dari Kedutaan untuk mendukung ide-ide tentang praktik media yang sehat. Dukungan ini juga berdasarkan review dan seleksi yang ketat terhadap puluhan usulan proposal yang masuk setiap tahunnya, Rahmat berhasil memenangkannya pada tahun 2017 ini”, ujar Karen.

Karen mendorong lebih banyak lagi pemuda-pemuda Aceh yang mampu menunjukan minat dan memiliki ide-ide cemerlang untuk didukung oleh Kedutaan Amerika.

KOMENTAR FACEBOOK