Sajadah Panjang untuk Alas Sepatu Tamu RS Fauziah

Publik Bireuen terkejut, tercengang sekaligus marah –di Facebook– ketika mengetahui bahwa selembar sajadah panjang dijadikan pengganti karpet merah, menyambut tamu yang datang untuk menilai kualitas Rumah Sakit Umum dr. Fauziah, Kabupaten Bireuen.

Kabar akan datangnya tamu khusus yang bertugas melakukan akreditasi rumah sakit, sudah terdengar satu Minggu sebelumnya. Para dokter dan petugas medis bertambah sibuk dua hari jelang kedatangan tim dari Jakarta, yang bertugas memberikan nilai, pantas atau tidak pantas RS Fauziah mendapatkan akreditasi A. Sudah lama rumah sakit itu menyandang akreditasi B.

Namun segala gegap gempita, sirna begitu acara penyambutan berlangsung, Jumat (15/12/2017). Kenapa? Karena tamu khusus itu berjalan sembari menginjak sajadah panjang warna hijau. Segala kegemerlapan penyambutan itupun runtuh. Sajadah itu sebagai pengganti karpet merah, yang tidak sempat disediakan oleh panitia penyambutan.

Wajar bila publik marah. Wajar pula bila publik kemudian membesar-besarkan peristiwa yang menyakiti hati umat muslim. Betapapun bahwa dengan menginjak sajadah menggunakan sepatu tidak menggugurkan keislaman, tapi ini tentang sesuatu yang digunakan sebagai sarana ibadah shalat wajib.

Seberapapun hebat seseorang, belum pernah umat Islam menyambutnya dengan menggelar sajadah panjang sebagai alas kaki yang bisa diinjak dengan menggunakan sepatu. Bahkan untuk menyambut ulama sekalipun.

Peristiwa digelarnya sajadah panjang sebagai pengganti karpet merah oleh manajemen RSU dr. Fauziah, untuk menyambut tim akreditasi, merupakan tindakan pelecehan–terlepas dengan dalih apapun– karena mereka tahu bahwa sajadah itu adalah tempat umat muslim menundukkan kepala kala menghadap ilahi. Konon lagi bahwa sajadah yang digunakan itu diambil dari mushalla yang ada di lokasi rumah sakit.

Apa yang terjadi merupakan tindakan amoral, melecehkan, merendahkan, menganggap tidak penting untuk dihormati, serta menyamakan sajadah dengan keureutah ek cina.

Pada akhirnya, sebelum kemarahan publik kian meluas, saya menyarankan agar manajemen RSU Fauziah segera meminta maaf dan mengakui kekeliruannya.

“Meunyo hana sapu nyang tatot, pane patot asap meubura” []

Sumber foto: Facebook.