Menghujat dan Menyudutkan Waria Tidak Akan Menyelesaikan Masalah

Asrizal H Asnawi (Poto: Serambi Indonesia )

ACEHTREND.CO, Banda Aceh – Ketua Fraksi PAN DPR Aceh Asrizal H Asnawi mengaku prihatin, karena semakin banyaknya pertumbuhan komunitas Waria di Kota Banda Aceh. Padahal, katanya, Banda Aceh adalah kota yang sedang menjadi percontohan dalam upaya penegakan syariat Islam di seluruh Aceh.

Untuk itu, dia mengajak semua elemen masyarakat dan Pemerintah Aceh untuk memikirkan solusi yang tepat atas permasalahan tersebut. Karena, katanya, menghujat dan menyudutkan Waria tidak akan menyelesaikan masalah apa-apa.

Apalagi, menurutnya, kontes Waria yang dilakukan di Hotel Hermes Sabtu 16 Desember 2017 malam itu bukanlah kali pertama terjadi Aceh, sebelumnya Hotel Grand Nanggroe juga pernah melakukan hal yang sama.

“Waria ini adalah penyakit yang bisa di obati melalui pembinaan. Sebaiknya Aceh punya rumah rehabilitasi untuk Waria yang mau berubah dan bertaubat,” katanya pada aceHTrend, Senin (18/12/2017).

Baca : Waria dan Penerapan Syariat Islam di Aceh

Sebab, kata Asrizal, selain adanya faktor kelainan orientasi seksual, Waria ini juga dibentuk oleh lingkungan tempat mereka bergaul. Dengan kondisi yang tidak normal itu tentu akan membuat keluarga si Waria malu, namun sayangnya penanganan dari keluarga juga cenderung keliru sehingga mereka lebih memilih mencari komunitasnya dan menjauh dari keluarga.

“Pemerintah wajib hadir dalam penanganan perkara ini, kita jangan cuma bisa melarang dan mengolok-olok mereka tapi solusi kongkrit juga harus kita siapkan,” ujar Asrizal.

Karena katanya, hidup sebagai bahan olok-olok bukanlah hidup yang mudah bagi mereka. “Saya yakin mereka tahu kalau mereka tidak normal, tapi siapa yang mau peduli dengan nasib mereka,” kata Asrizal.

Baca : Terkait Kontes Ratu Waria, DPRA : Hotel Hermes Layak Ditutup

Untuk itu Asrizal mengingatkan, bahwa ini adalah tugas semua pihak baik masyarakat maupun pemerintah untuk merangkul para waria dan mengajaknya kembali menjadi manusia yang beridentitas jelas. Karena pemerintah dapat disalahkan jika hanya membiarkan saja hal ini terjadi terus terjadi di Aceh.

“Ini memang bukan pekerjaan mudah, butuh keterlibatan banyak pihak terutama masyarakat karena efek baik buruknya juga akan dirasakan oleh masyarakat juga,” kata Asrizal.[]