Belajar dari Syaikh Barshisa, Ulama yang Mati Sebagai Kafir

Ilustrasi. Sumber: Saatchiart.com

Oleh Muhammad Syawal, S.Sos*)

Dalam sejarah khazanah Islam, kita disuguhkan oleh sebuah kisah di mana pada suatu masa ada seorang ulama bernama Syaikh Barshisa yang memiliki kehebatan dalam hal kesholehan dan ketaqwaannya kepada Allah. Bahkan, malaikat pun terkagum melihatnya. Namun sayang di akhir hayatnya, Syaikh Barshisa meninggal dalam keadaan yang sangat hina dan kufur kepada Allah.

Syaikh Barshisa hidup pada zaman setelah Rasulullah wafat. Bagi yang pernah dan sedang mengenyam pendidikan di dayah atau pesantren, kisah ini tidak asing lagi, karena bisa dipastikan sang guru (teungku) tidak pernah bosan menceritakan kepada murid-muridnya.

Syaikh Barshisa, sebagaimana yang dikisahkan dalam kitab Jauhar Mauhub merupakan sosok yang dikenal sebagai ‘abid (ahli ibadah) dan juga memiliki karomah. Syaikh Barshisa memiliki puluhan ribu murid dengan berbagai kehebatan yang didapatkan darinya. Ada yang bisa terbang, berjalan di atas awan, dan berbagai kehebatan lahiriah lainnya.

Syahdan, suatu ketika datanglah sosok iblis yang menyerupai seorang manusia menghampiri dan mendekati tempat di mana Syaikh Barshisa beribadah. Iblis tersebut berniat merusak keimanan dan menyesatkan Syaikh Barshisa dari jalan Allah. Iblis pun menjelma sebagai seorang pemuda dan beribadah layaknya orang ‘abid. Dia kuat berpuasa dan tidak henti beribadah. Syeikh Barshisa yang sudah ratusan tahun beribadah tidak pernah melihat seorang pemuda yang sangat takjub dan sungguh-sungguh dalam hal ibadah. Tidak makan, tidak minum dan tidak tidur.

Syaikh Barshisah merasa “mendapat saingan” dan heran terhadap pemuda tersebut, apa gerangan rahasianya hingga dia kuat beribadah. Dalam percakapannya, Syaikh Barshisa bertanya pada pemuda tersebut, bagaimana caranya agar kuat dalam beribadah. Pemuda tersebut menyodorkan sebuah jawaban, bahwa untuk mendapat motivasi dan kekuatan dalam beribadah, maka disarankannya melakukan apa yang dilarang oleh Allah. Setelah melakukan yang dilarang Allah, lalu bertaubat, maka kenikmatan dalam beribadahpun akan didapat. Begitulah kata iblis kepada Syaikh Barshisa.

Karena Syaikh Barshisa bingung terhadap larangan Allah yang mesti dia lakukan, iblis memberikannya tiga pilihan: membunuh, berzina atau meneguk arak (minuman memabukkan). Akhirnya, Syaikh Barshisa pun merealisasikan bujukan iblis tersebut dengan memilih minum arak, yang dibelinya dari seorang perempuan. Menurut Syaikh Barshisa dari ketiga pilihan larangan Allah tersebut minuman araklah yang paling ringan dosa dan tidak terlalu besar efeknya.

Setelah meneguk menimuan arak, Syaikh Barshisa pun mabuk berat, sehingga dalam pengaruh arak Syaikh Barshisa memperkosa perempuan penjual arak tersebut. Tak hanya memperkosa, Syaikh Barshisa juga membunuhnya. Akhirnya ketiga dosa besar dilakukan oleh Syaikh Barshisa.

Karena ketahuan sama orang-orang sudah melakukan pembunuhan, Syaikh Barshisa ditangkap dan dibawa kepada Sultan untuk diadili, sehingga dihukumlah Syaikh Barshisa oleh Sultan sesuai dengan kesalahannya, yaitu dipukuli sebanyak 80 kali jilid karena minum arak dan 100 kali karena berzina, kemudian Syaikh Barshisa diberikan hukuman qisas karena telah membunuh.

Ketika sedang dalam puncak penyiksaannya, datanglah iblis dalam wujud rupanya yang asli dan membujuk agar Syaikh Barshisa melakukan sujud kepada iblis dengan cara menundukkan kepalanya, agar penyiksaan dan penderitaan Syaikh Barshisa berakhir. Syaikh Barshisa pun mengamini permintaan iblis tersebut. Dan, tepat ketika itu Allah mencabut nyawa Syaikh Barshisa, sehingga Syaikh Barshisa meninggal dalam keadaan kufur.

Nah, apa hikmah atau iktibar (pembelajaran) yang bisa diambil dari Syaikh Barshisa? Tentunya ada banyak sekali pembelajaran yang bisa dipetik. Apa yang dilakukan dan didapatkan pada akhir hayat Syaikh Barshisa merupakan sebuah bentuk hikmah atau pembelajaran yang bisa kita renungi untuk seterusnya kita aplikasikan dalam menjalani kehidupan dunia yang semakin carut-marut ini.

Dalam konteks kehidupan kita, minuman sejenis arak dan memabukkan semakin ragam jenisnya. Narkoba dengan berbagai bentuknya seperti heroin, sabu-sabu, ganja, dan sebagainya, merupakan barang memabukkan yang beredar begitu bebas ditengah kehidupan masyarakat dewasa ini.

Meskipun dalam pandangan Islam telah dikatakan bahwa hukum mengonsumsi narkoba adalah haram, namun masih ada juga yang mencoba mita kieh atau mencari celah hukum terhadap narkoba tersebut dengan mengatakan tidak haram, dengan alasan tidak haram selama mengonsumsinya tidak sampai membuat mabuk.

Berbagai riset yang dilakukan di dunia kesehatan, disebutkan bahwa narkoba memiliki resiko yang besar terhadap kesehatan manusia. Efek narkoba tidak hanya terhadap kesehatan atau secara biologis saja, melainkan juga berdampak terhadap psikologisnya. Seseorang yang sudah terpengaruh oleh narkoba, maka syaraf diotaknya tidak berfungsi dengan baik. Tak ayal, seseorang yang sudah dipengaruhi oleh narkoba melakukan tindakan-tindakan yang minus moral dan membinasakan.

Dewasa ini di berbagai media, sederetan kasus kriminal seperti pembunuhan, pemerkosaan, dan penganiayaan, pelakunya diketahui merupakan pemakai narkoba. Masih belum lekang dari ingatan kita, beberapa waktu lalu di Aceh Utara seorang oknum pimpinan dayah ditetapkan sebagai tersangka karena terindikasi melakukan pencabulan terhadap santrinya. Dalam proses interogasi oleh pihak kepolisian, ternyata oknum pimpinan dayah tersebut diketahui memakai narkoba, (Acehtrend.co, 29/09/2017).

Dengan demikian, sudah semestinya kita sadar akan bahaya narkoba. Narkoba harus dijadikan sebagai musuh bersama. Tugas memberantas narkoba bukanlah semata-mata tugas pemerintah namun juga kita masyarakat biasa. Dan, semoga kita tidak lagi berlaku apatis terhadap lingkungan yang sudah digerogoti oleh narkoba.

*)Penulis bekerja sebagai guru di sekolah Sukma Bangsa Pidie, Aceh.

KOMENTAR FACEBOOK