Kapan Islam Masuk ke Indonesia?

Oleh Muhammad Arifin*)

Kita lihat sejenak dunia telah mengetahui, bahwasanya Indonesia adalah negara yang mayoritasnya umat Muslim di Asia Tenggara. Namun bagaimana mengetahui perkembangan dan masuknya Islam di Indonesia itu tidak mudah, karena harus melalui beberapa teori dan faktor sejarah. Terdapat beberapa teori mengenai perkembangan dan masuknya Islam ke Indonesia.

Pertama, teori Gujarat. Ini merupakan teori tertua yang menjelaskan tentang masuknya Islam ke Nusantara, dinamakan teori Gujarat karena pada saat itu dikatakan bahwasanya Islam masuk ke Nusantara melalui Gujarat,pada abad ke-13 M, pelakunya adalah pedagang India Muslim.

Kedua, teori Makkah. teori ini dicentuskan oleh Hamka. ia lebih menguatkan pandangannya sendiri, bahwasanya bangsa Arab yang telah membawa Agama Isam ke Indonesia. lantas diikuti oleh Gujarat dan Persia. Menurut Hamka Gujarat dinyatakan sebagai tempat singgah semata, sedangkan Makkah dinyatakan sebagai pusat, atau mesir sebagai tempat pengambilan ajaran Islam.

Kemudian Hamka juga menolak yang mengatakan Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-13.sebab, dalam kenyataannya, di Nusantara pada abad itu telah berdiri suatu politik Islam. Maka dengan itu Hamka mengatakan Islam masuk ke Nusantara jauh sebelumnya, yakni abad ke-7 M atau abad ke-1 H. Pada tahun 674 M telah ada perkampungan perdagangan Arab Islam di pantai Barat Sumatera, timbulnya perkampungan Arab tersebut ditunjang oleh kekuatan Laut Arab. dari peranan Bangsa Arab seperti itu, lantas dikuatkan dengan pernyataan adanya perkampungan Arab Islam di pantai Barat Sumatera pada abad ke-7. Maka terbukalah kemungkinan bahwasanya Bangsa Arab menjadi peran masuknya Islam ke Nusantara.

Ketiga, teori Persia. Teori ini dicetuskan oleh P.A.Hoesein Djaljadiningrat. Teori ini menerangkan bahwa Islam masuk ke Indonesia melalui Persia, yang singgah waktunya sekitar abad ke-13 M. Teori ini lebih mengedepankan kepada kebudayaan yang hidup di kalangan masyarakat Indonesia yang demikian memiliki persamaan dengan Persia. Seperti peringatan hari asyura dan adanya kesamaan Syekh Siti Jenar dengan ajaran sufi Iran,Al-Hallaj.

Keempat, Adapun teori-teori yang diungkapkan oleh ahli sejarah seperti Zainal Arifin Abbas. Beliau mengatakan agama Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-7 (684 M). Pada tahun itu, ada seorang pemimpin Tiongkok, dan ia telah mempunyai pengikut dari Sumatera Utara. Menurut Juneid Parinduri, Agama Islam masuk ke Indonesia pada tahun 670 M. sebab di Barus Tapanuli, didapatkan sebuah makam berangka Haa-Miim yang berarti tahun 670 M.

Sebab Masuk

Di antara sebab masuk dan berkembangnya Islam ke Nusanntara adalah dengan berdirinya kerajaan. terdapat dua kerajaan yang mana kerajaan itu adalah kerajaan Islam yang berdiri pertama kali di Nusantara yaitu, Kerajaan Peureulak dan Samudera Pasai. Kerajaan Peureulak memiliki pengaruh yang sangat luas di Nusantara. Peureulak adalah kerajaan Islam tertua di Indonesia. dan kerajaan ini memiliki kekuasaan yang sangat panjang dalam pemerintahan, kerajaan ini berdiri pada tahun 840 ini berakhir pada tahun 1292 dikarenakan bergabung dengan kerajaan Samudera Pasai.

Kerajaan ini mengalami kejayaan di bawah pimpinan Sulthan Makhdum Alaidin Malik Muhammad Amin Syah II Jauhan Berdaulat (622-662 H atau 1225-1263 M). Pada masa pemerintahannya, kerajaan Peureulak mengalami kemajuan pesat, terutama dalam bidang Pendidikan Islam dan perluasan dakwah islamiyah. Tak lama kemudian Sulthan Makhdum Alaidin Malik Muhammad Amin Syah II Johan Berdaulat menikahkan dua putrinya, yakni putri Ganggang Sari (Putri Raihani) dengan Sulthan Malik As-Shaleh dari Samudera Pasai serta Putri Ratna Kumala dengan Raja Tumasik (Singapura).

Kemudian, Sulthan Makhdum Alaidin Malik Muhammad Amin Syah II Johan Berdaulat digantikan oleh Sulthan Makhdum Alaidun Malik Abdul Aziz Syah Johan Berdaulat (662-692 H atau 1263-1292 M). inilah Sulthan tetakhir dari kerajaan Peureulak.

Kemudian setelah Sulthan Abdul Aziz Berdaulat wafat, disiniah Kerajaan Peureulak disatukan dengan kerajaan Samudera Pasai dengan rajanya bernama Muhammad Malikul Dhahir (putra Sulthan Malik as-Shaleh dengan putri Ganggang Sari). Di masa kerajaan ini sudah sangat begitu maju dengan bukti ada mata uang sendiri yang terbuat dari emas (dirham),perak (kupang), dan tembaga atau kuningan.

Kedua, Kerajaan Samudera Pasai. Kerajaan ini merupakan kerajaan Islam yang terletak di pesisir pantai utara Sumatera, sekitar kota Lhoukseumawe, Aceh Utara, Provinsi Aceh, Indonesia saat ini. Kerajaan Samudera Pasai ini didirikan oleh Meurah Silu yang bergelar Sulthan Malik as-Shaleh,Sekitar tahun 1267. Keberadaan kerajaan Samudera Pasai ini tercantum dalam kitab Rihlah Ilal Masyriq (pengembaraan ke timur) karya Abu Abdullah ibn Batuthah (1304-1368), Meurah Silu ini sebelumnya berada pada satu kawasan yang disebut dengan Semerlanga kemudian setelah naik tahta bergelar Sulthan Malik as-Shaleh,ia wafat pada tahun 696 H atau 1297 M.

Pemerintahan Samudera Pasai yang awalnya di bawah pimpinan Sulthan Malik as-Shaleh kemudian dilanjutkan oleh anaknya bernama Muhammad Malik Az-Zahir, koin emas sebagai mata uang telah diperkenalkan di Pasai, seiring dengan berkembangnya Samudera Pasai menjadi salah satu kawasan perdagangan sekaligus tempat perkembangan dakwah Agama Isam.

Sekitar tahun 1326 Sulthan Muhammad Malik Az-Zahir meninggal dunia dan digantikan oleh anaknya Suthan Mahmud Malik az-Zahir dan memerintah sampai tahun 1345. Pada masa pemerintahannya dikunjungi oleh Abdullah Ibn Batuthah, kemudian ia menceritakan dalam bukunya Sulthan di negeri Samudera dan menyambutnya dengan penuh keramahan, penduduknya juga menganut madzhab syafi’i.

Selanjutnya pada masa pemerintahan Sulthan Ahmad Malik Az-Zahir putra dari Sulthan Mahmud Malik Az-Zahir, datang serangan dari Majapahit antara tahun 1345 dan 1350, dan menyebabkan Sulthan Pasai terpaksa melarikan diri dari ibu kota kerajaan. Kerajaan Samudera Pasai kembali bangkit di bawah pimpinan Sulthan Zain al-Abidin Malik az-Zahir tahun 1383, dan memerintah sampai tahun 1405. Dan ia tewas oleh Raja Nakur, kemudian dilanjutkan oleh istrinya Sultanah Nashariyah.

Islam merupakan Agama yang dianut oleh masyarakat Pasai, Walupun ada pengaruh Hindu dan Budha juga turut mewarnai masyarakat ini. Dan juga sosial budaya masyarakat Pasai mirip dengan Malaka, seperti bahasa, maupun tradisi pada upacra kelahiran, perkawinan dan kematian. Kemungkinan kesamaan ini memudahkan penerimaaan Islam di Malaka dan hubungan yang akrab ini dipererat oleh adanya pernikahan antara putri Pasai dengan raja Malaka sebagaimana diceritakan daam sulalatus salatin.

Kerajaan Samudera Pasai sangat dipengaruhi dengan Islam. Ha itu terbukti terjadinya perubahan aliran Syi’ah menjadi aliran Syafi’i di Samudera Pasai ternyata mengikuti perubahan Mesir. Pada saat itu di Mesir sedang terjadi pergantian penguasaan dari dinasti Fatimiah yang berairan syi’ah kepada dinasti yang memeluk aliran Syafi’i. Perkembangan ini menyesuaikan keadaan yang ada di Pasai saat itu dengan adat istiadat setempat sehingga kehidupan sosial masyarakat merupakan campuran Islam dengan adat istiadat setempat.

*)Muhammad Arifin adalah mahasiswa Aceh jurusan Ilmu Hadis UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

KOMENTAR FACEBOOK