“Sulthan” Aceh Itu Bernama Abdul Somad

Sangat jarang orang Aceh menyambut seseorang–tokoh sekalipun– dengan cara beramai-ramai dan berebutan ingin bersalaman. Tapi, perlakukan terhadap Ustadz Abdul Somad, adalah pengecualian. Alumni Maroko itu diperlakukan bak sulthan.

Benarlah kata pepatah, pakaian akan membuatmu mulia kala engkau berjalan. Ilmu akan membuatmu mulia ketika duduk. Ustadz Abdul Somad, mulia kala duduk dan kala berjalan. Duh, betapa hebatnya cendekia Islam, kala ia istiqamah di atas rel agama. Luar biasa.

Dua paragraf di atas, tidaklah akan mampu mewakili kekaguman saya terhadap generasi emas yang dimiliki oleh Indonesia dan dunia Islam di ranah Melayu. Somad, dengan penampilan fisik yang jauh dari kesan glamor, penguasaan ilmu agama yang luar biasa, serta sikapnya yang tawadhuk, qana’ah, ceramahnya yang menyejukkan sekaligus menikam ulu hati kala merasa berada di simpang yang salah. Somad adalah agamawan zaman now yang mewarisi sifat tawadhuk ulama sufi.

Sebagai generasi yang sudah terkoneksi dengan internet, saya kerap menonton video cemarah Ustad Abdul Somad–juga Buya Yahya– di youtube. Ceramahnya bernas, padat ilmu serta ringan dalam penyampaian.

Maka wajar, bila kemudian ia menjadi publik figur yang begitu cepat diterima oleh berbagai kalangan. Sebagai dai yang belajar secara mumpuni, ia –sejauh ini dan semoga seterusnya– selalu bisa berdiri dengan sikapnya yang tegas namun bersahabat. Kalam-kalamnya tidak menyudutkan, tapi juga tidak mencle-mencle dan penuh dengan daftar pustaka.

Kala ia datang ke Aceh pada Selasa (26/12/2017) disambut oleh ribuan orang dan kemudian dipakaikan pakaian adat Aceh, seseorang bergumam: “Duh, betapa ia mirip sekali dengan Sulthan Aceh. Berkharisma, memiliki ilmu pengetahuan yang luas, alim serta teduh. Semoga Allah memberkatkan umurnya.”

mendengar klimat itu, saya merasa terharu. Betapa orang Aceh–yang memiliki kewarasan– sangat merindukan orang seperti Abdul Somad. Andaikan ia adalah orang Aceh, sungguh ia akan sangat pantas menjadi Gubernur Aceh. Namun, alam bawah sadar saya tergelitik, bilakah Ustadz Abdul Somad kelak mencalonkan diri sebagai gubernur, akankah ada orang yang memilihnya secara mayoritas?

Saya teringat pernyataan Teungku H. Muhammad Yusuf A. Wahab (Tusop), pimpinan Dayah Babussalam Al-Aziziyah Jeunib, pada suatu diskusi: “Agamawan akan selalu dipuja-puji kala berada di luar kekuasaan. Bahkan tidak sedikit yang dihebat-hebatkan kala digunakan sebagai alat untuk membawa orang lain ke puncak singgasana. Namun kala agamawan ingin bergerak membangun negara dengan tangannya sendiri, akan banyak orang yang akan menolaknya.” Duh.

Semoga Allah memberkahi setiap langkah “Sulthan Aceh” Paduka Yang Mulia Ustadz Abdul Somad.

KOMENTAR FACEBOOK