Menghargai Ilmu Bencana dari Tanah Aceh

https://musfarayani.wordpress.com/2009/11/14/tribute-to-15-years-after-2004-indian-ocean-earthquake-smong-local-wisdom-that-saved-the-life-of-simeulue-people/

Oleh M.Fauzan Nur*)

Kehebatan Aceh dalam menapaki perjalanan sejarah telah membuahkan banyak hal penting yang ditinggalkan para leluhur untuk anak cucu. Aceh sebagai tanda besarnya peradaban Indonesia akan sejarah, membuat negeri ini sangat kaya akan cerita lama yang bisa menjadi sudut pandang baru dalam pembaruan keilmuan. Ancaman bencana yang sedang dan akan terus kita hadapi menjadi kelihatan wajar dengan melihat cerita para leluhur pada saat menyelamatkan diri.

Dari daratan Simeulue dikenal kata smong untuk menggambarkan tsunami. Metode pengenalan bencana smong secara turun temurun dilestarikan melalui alunan pengantar tidur bagi anak-anak Simeulue. Terbukti efektif, ketika bencana tahun 2004 lalu, Pulau Simeuleu yang secara geografis menjadi daerah terparah diterjang tsunami hanya memiliki sedikit korban jiwa. Masyarakat telah mengetahui cara penyelematan diri yang benar dengan segera menaiki bukit-bukit untuk menghindari dampak dari smong yang sudah mereka duga akan datang setelah gempa besar.

Masyarakat Aceh dulu rasanya sadar betul bahwa Aceh menjadi sangat rentan akan potensi bencana. Hal ini membuat sarana mitigasi itu terbuat secara alamiah. Konsep smong, kalender keuneunong, dan adat peutamong ueteun, terkesan sangat tradisional. Namun, saya rasa itulah harta karun yang sebenarnya yang dicari para peneliti luar bahwa masyarakat Aceh zaman dulu sudah kaya akan pengetahuan kebencanaan. Sayangnya, konsep itu mulai tergerus peradaban zaman yang semakin akrab dengan budaya asing.

Penelitian oleh salah satu dosen Unsyiah, Dr. Nazli Ismail dan tim dari Nanyang Technology University (NTU) pada salah satu gua di Kecamatan Lhong, Aceh Besar, membuktikan bahwa tsunami telah terjadi secara lebih masif pada zaman dahulu, yaitu 7400 tahun lalu. Metode paleo tsunami yang melihat endapan pasir di gua tersebut membuktikan bahwa Aceh pernah diterjang gelombang tsunami yang lebih besar dari tahun 2004 lalu. Hal ini membuka fakta bahwa Aceh telah lama “dekat” dengan bencana tsunami. Ukuran gelombang yang mungkin akan lebih besar bisa saja terjadi lagi, mengingat sifat bencana tersebut yang terus berulang. Namun, menurut Dr. Nazli metode ini memberikan gambaran kemungkinan ada masa jeda yang panjang mengikuti tsunami 2004 lalu.

Kita tentu saja bangga melihat Aceh dengan segala potensi menjadi sarana pembelajaran bagi banyak negara. Jepang adalah negara yang terus belajar kepada Aceh, termasuk ke fakultas saya, Magister Ilmu Kebencanaan Unsyiah, yang terus memegang erat tali silaturrahmi dengan negara yang penuh dengan cerita bencana tersebut. Saya pahami dari beberapa forum yang dibangun oleh Jepang dan Aceh bahwa kita sebagai lumbung ilmu mereka mendapat perhatian spesial untuk sarana pembelajaran. Bukan hanya Jepang, banyak negara lain yang terus tertarik dengan potensi ilmu lokal Aceh. Dalam hati, terkadang saya merasa malu, ini tanah saya, kenapa mereka lebih tahu?

Menyadari potensi bencana di Aceh, Unsyiah sebagai universitas yang disiapkan untuk kajian ilmiah kebencanaan menyediakan banyak sekali sumber informasi yang dapat diakses dengan mudah. Saat ini, para muda-mudi Aceh yang kreatif mulai sangat mencintai kebudayaan Aceh dan mengemasnya secara modern. Mengingat potensi bencana yang besar, saya rasa kita butuh tenaga para kreatif muda untuk mengenalkan kepada masyarakat bahwa Aceh punya cerita menarik tentang penyelamatan diri saat bencana. Tentu kita tidak ingin Aceh terus dikenang sebagai negeri bencana yang tidak aman dikunjungi.

Bencana dan Aceh merupakan sahabat sejati. Sudah saatnya kita berhenti mengutuk alam yang akhirnya membuat kita menyesal karena durhaka pada Allah. Risiko untuk hidup di tanah emas adalah kita siap untuk terus di gali. Tsunami 2004 yang akan terus termakan waktu bukan hanya dikenang sebagai musibah, sebaiknya momen ini membawa kita kepada hikmah Allah yang lain bahwa Aceh akan terus menjadi gudang ilmu kebencanaan. Doa juga terus kita panjatkan untuk para endatu dan para korban bencana di Aceh dan air mata yang jatuh ini kita jadikan sebagai semangat untuk meneruskan perjuangan hidup sebagai insan yang siap-siaga. Siap akan bencana dan siaga akan dunia.

*)Mahasiswa Magister Ilmu Kebencanaan, Universitas Syiah Kuala. Email: fauzan.muhammad.fm@gmail.com

KOMENTAR FACEBOOK