Menuju Rumah Sakit Aman Bencana

Oleh : Fitri Maiyani*

Bencana merupakan gangguan serius terhadap berfungsinya sebuah komunitas. Beberapa dekade terakhir, jumlah bencana dan orang-orang yang terkena dampak dari bencana semakin meningkat. Geografis Indonesia menjadikan Indonesia kaya akan sumber daya alam namun juga memiliki potensi yang besar untuk menjadi pasar bencana.

Dalam Indeks Risiko Bencana Indonesia (IRBI), BNPB mendaftar setidaknya ada tujuh risiko bencana yang dominan terjadi di Sumatra diantaranya banjir, gempa bumi, kebakaran hutan dan lahan, erupsi gunung api, tanah longsor, tsunami dan kekeringan. Aceh menjadi salah satu provinsi dengan tingkat risiko bencana yang tinggi.

Gempabumi dan Tsunami 2004 adalah contoh bencana yang merenggut banyak jiwa dan memberi dampak kerusakan lingkungan dan insfrastruktur yang luas sehingga masih membekas di ingatan penduduk Aceh hebatnya musibah tersebut. Dan kembali Aceh diguncang gempa bumi tepatnya di Pidie Jaya 2016 lalu yang juga menyebabkan ratusan nyawa menghilang. Selain nyawa hilang banyak juga korban cedera dan luka akibat reruntuhan bangunan yang membutuhkan perawatan dan penanganan medis. Namun sangat disayangkan pada saat kedua bencana ini terjadi Rumah Sakit yang menjadi ujung tombak pelayanan ikut rusak dan tidak mampu memberikan pelayanan sebagaimana diharapkan.

Rumah Sakit Zainoel Abidin merupakan rumah sakit yang rampung dibangun pada tahun 2009 setelah sebelumnya sebagian besar gedung mengalami kerusakan, banyak sarana dan prasarana yang rusak pada saat gempa dan tsunami 2004. Kejadian serupa juga terjadi di Pidie Jaya saat gempa 2016, rumah sakit tidak dapat berfungsi maksimal akibat kerusakan. Pembangun rumah sakit darurat container oleh Ikatan Alumni Universitas Syiah Kuala (IKA-Unsyiah) pada saat itu adalah alternatif yang diambil untuk mendukung pelayanan kesehatan pasca gempa. dan banyak lagi fasilitas kesehatan dan Rumah Sakit yang tidak berfungsi saat bencana terjadi, terutama pada kejadian 2004.

Apa yang menjadi pembelajaran bagi kita? Bencana itu memiliki periode waktu untuk berulang secara ireguler dan pada interval waktu yang tidak dapat di pastikan. Dalam ilmu kebencanaan jumlah korban dan efek kerusakan bisa kita turunkan, dengan melakukan Mitigasi kebencanaan. Mitigasi adalah salah satu tahapan dari empat tahapan siklus manajemen bencana yang terdiri dari tanggap darurat, pemulihan, mitigasi dan kesiapan. Mitigasi ada yang struktural dan non struktural, penguatan kapasitas fungsi pelayanan publik seperti rumah sakit adalah contoh upaya mitigasi non struktural.

Dalam penyusunan RPJMN 2015-2019 bidang penanggulangan bencana, disebutkan salah satu arah kebijakan dan strategi yang ingin dicapai adalah pembangunan dan pemberian perlindungan bagi prasarana vital yang diperlukan untuk memastikan keberlansungan pelayanan publik, kegiatan ekonomi masyarakat, keamanan dan ketertiban pada situasi darurat dan paska bencana.

Hal ini serupa dengan yang diungkapkan UN/ISDR (United Nations/ International Strategy for Disaster Reduction) 2008, rumah sakit adalah simbol kemajuan sosial, yang menjadi prasyarat stabilitas dan pembangunan ekonomi, dan memiliki nilai simbolis sosial dan politik yang berkontribusi terhadap rasa aman dan kesejahteraan masyarakat. Dalam kerangka aksi hyogo juga ditekankan dalam usaha meminimalkan resiko bencana rumah sakit harus aman dari bencana.

Mengingat besarnya tanggung jawab rumah sakit dalam usaha meminimalkan resiko bencana, diharapkan rumah sakit mempunyai perencanaan dan prosedur untuk penanganan bencana. Salah satu perencanaan yang komprehensif dalam hal kebencanaan sering disebut sebagai hospital disaster plan atau sering disingkat dengan HDP. Dengan adanya perencanaan ini diharapkan rumah sakit dapat menangani korban secara lebih baik dalam situasi bencana. Pentingnya rencana penanggulangan bencana bagi rumah sakit didukung dengan Undang-undang RI No.44 tahun 2009.

Tingkat survive dan keselamatan Rumah Sakit dalam menghadapi bencana dapat diukur dan dinilai dengan menggunakan formulir evaluasi indeks keselamatan rumah sakit (Hospital Safety Index). Formulir terdiri dari empat bagian. Bagian pertama tentang lokasi geografis fasilitas kesehatan, bagian kedua tentang elemen-elemen keamanan struktur bangunan, bagian ketiga tentang elemen-elemen keamanan non-struktural dan bagian keempat adalah kapasitas fungsional rumah sakit. Dari hasil evaluasi akan diperoleh bobot nilai yang akan merepresentasikan kemampuan Rumah Sakit untuk dapat bertahan dan berfungsi dengan baik selama bencana atau berada dalam risiko saat menghadapi bencana.

Aceh sebagai daerah rawan bencana, sangatlah penting untuk melakukan upaya pengurangan risiko bencana secara terintegrasi kedalam rencana pembangunan daerah, diharapkan peran pemerintah dapat mendukung Rumah Sakit agar tidak kolaps sewaktu-waktu saat dibutuhkan seperti saat bencana menimpa, dan harapan Rumah Sakit aman bencana dapat segera terwujud di berbagai daerah di Aceh.

*Penulis adalah mahasiswa Program Magister Ilmu Kebencanaan Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Darussalam, Banda Aceh. Email: fmaiyani89@gmail.com

KOMENTAR FACEBOOK