GAM Freedom Fighters, Bukan Separatis

Hasan Tiro dan Eks GAM Libya foto: detikaceh

AKHIR-akhir ini Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang sudah berdamai dengan Republik Indonesia di Helsinki, Finladia pada 15 Agustus 2005, kembali–oleh sejumlah orang, tapi cukup massif– ditulis sebagai separatis. Lalu benarkah GAM adalah separatis?

Dari hasil wawancara saya dengan sejumlah tokoh GAM yang masih hidup, ternyata istilah separatis merupakan kata yang digunakan oleh pemerintah kala konflik untuk mendiskreditkan perjuangan GAM untuk meraih kemerdekaan Aceh.

“Kami sangat tidak nyaman dengan kata itu. Separatis merupakan kata yang sangat menghina. Seolah-olah apa yang diperjuangkan oleh GAM merupakan sebuah kehinaan,” ujar salah seorang tokoh GAM.

Saya sepakat, GAM–para pejuang GAM– merupakan pejuang kemerdekaan. Dalam bahasa Inggris disebut freedom fighters. Perserikatan Bangsa-Bangsa dan organisasi yang netral, juga menghindari kata rebels (pemberontak) insurgents, dll, kepada gerakan kemerdekaan dengan cara melawan pemerintah yang mereka nilai telah menduduki wilayah mereka secara tidak sah.

PBB dan lembaga netral lebih gemar menngunakan kalimat non state armed group alias kelompok bukan negara.

Saya kira, dalam kondisi damai, “menghina” GAM dengan menyebut mereka sebagai separatis, bukanlah sesuatu yang bijak. Ini tidak bagus untuk pembangunan perdamaian berkelanjutan. apalagi hinaan itu dilakukan oleh mereka yang hana trok heut peutroe droe. Dalam tulisan singkat ini saya ingin mengajak semua pihak untuk menghargai setiap perbedaan. Menghormati GAM sama dengan menghormati perdamaian. Sama juga, menghormati Indonesia, berarti menghormati perdamaian di Aceh.

Membangun negara ini tentu butuh kritik. Membangun Aceh butuh kritik, tapi, jangan pernah salah, kritik bukan bermakna mengumpat. Konon lagi mendistorsi makna tentang sesuatu. []

KOMENTAR FACEBOOK