Layanan Plus LP Lambaro untuk Napi Narkotika

Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Kelas II A Lambaro, yang berlokasi di Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, tidak terlihat sebagai layaknya penjara. Mungkin, lebih mirip hotel, dengan ragam fasilitas mewah di dalam bilik penjara. Disebut-sebut, telah lama LP ini menjadi surga bagi narapidana narkotika.

Semua itu terungkap pasca kerusuhan di LP itu pada Kamis (4/1/2018) pukul 11.00 WIb. Sejumlah narapidana mengamuk, ketika mengetahui tiga narapidana kasus narkoba akan dipindahkan ke LP Tanjung Gusta, Sumatera Utara. Para napi yang diduga telah diprovokasi oleh salah satu narapidana yang akan dipindah itu, mengamuk ketika mengetahui “tauke” yang selama ini memberikan mereka nasi bungkus, akan pergi ke penjara lain di luar Aceh.

Napi yang mengamuk bukan saja berontak biasa, tapi menghancurkan beberapa fasilitas penjara serta membakar bangunan lapas yang telah terlanjur dikenal sebagai “surga” bagi narapidana tajir, khususnya yang tersangkut kasus narkoba.

Rakyat Aceh terkejut–sebagian malah tertawa– karena seusai peristiwa itu, wartawan mengungakpkan bahwa ruang tahanan yang diberikan untuk ketiga narapida yang dipindah itu, layaknya sebuah kamar hotel.

Dalam sel yang sudah diubah menjadi kamar privat itu, tersedia tempat tidur lengkap dengan kasur dan bantal guling. Ada kamar mandi, televisi, lemari pakaian dan meja makan. Dalam razia yang dilakukan seusai kerusuhan, polisi juga menemukan ganja, sabu dan alat hisapnya.

Bahkan, sejumlah warga binaan di LP Lambaro juga bebas menggunakan laptop dan telepon genggam.

Jelas bahwa apa yang terjadi itu merupakan sebuah fakta, sesungguhnya di tengah ceramah-ceramah moral para penegak hukum, ternyata dalam kelakukannnya, mereka kerap memperdagangkan hukum untuk kepentingan perut dan tabungan di bank. Apa yang terjadi di LP lambaro, bukanlah sesuatu fakta baru. Tapi sudah menjadi sesuatu yang lazim dan dianggap sebagai sesuatu yang benar. Bila ada uang, ruang penjara pun bisa diubah menjadi kamar pribadi yang mewah.

Kapala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi manusia (Kakanwil Kemenkumham) Aceh harus mempertanggungjawabkan itu. Dia sebagai atasan tertinggi di Aceh, harus dimintai pertanggungjawaban. Siapa yang telah memperjualbelikan hukum di Lapas Lambaro?

Kita harus mencatat, bahwa ini bukanlah kali pertama ditemukannya fasilitas mewah bagi orang berduit di penjara Indonesia dan di Aceh. Lalu, akankah hukum ditegakkan? Ataukah akan tetap menjadi dagelan para penegak hukum untuk meraup uang haram demi mengkayakan diri dan keluarga?

Ataukah akan ada sipir yang dikorbankan untuk melindungi “kehormatan” para petinggi?

Waktu yang akan menjawab.

KOMENTAR FACEBOOK