Gampong Itu Bernama Lambada Lhok

Gampong Lambada Lhok. Foto: Taufik/aceHTrend.

HARI sudah menjelang sore, sinar mentari sudah terlihat di ufuk barat. Hiasan rona merah jingga yang disertai angin sepoi-sepoi menambah nikmatnya suasana, yang disuguhkan kian terasa eksotik.

Lantunan ayat suci Alquran terdengar jelas di Masjid Tgk. Syik Lambada, Jumat sore (5/1/2018).

Dari kejauhan, deru ombak terdengar jelas. Segerombolan burung bangau terbang rendah hinggap di hutan bakau.

Berada di bibir pantai Samudera Hindia, Gampong Lambada Lhok, merupakan salah satu permukiman yang berlokasi di wilayah kecamatan Baitussalam, Aceh Besar. Gampong kecil yang mayoritas penduduknya bermatapencaharian sebagai nelayan ini, berjarak sekitar 20 kilometer atau sekitar kurang lebih 30 menit perjalan dari jantung kota Banda Aceh.

Bila sore tiba, lokasi ini menjadi incaran bagi muda-mudi untuk berselfie ria atau sekedar menikmati indahnya sang matahari terbenam ke peraduannya.

Saat tsunami menghantam Aceh pada 26 Desember 2004, Lambada Lhok ini termasuk salah satu daerah terparah dihantam gelombang maha dahsyat tersebut. Kendati demikian, warga setempat perlahan-lahan mulai mengembalikan kepercayaannya kepada alam. Rasa bersyukur inilah yang menjadi semangat baru untuk mengatasi trauma mereka dan menghidupkan kembali pantai yang menjadi sumber matapencaharian utama.

“Adak beurangkapeu pih, nyoe teumpat kamoe lahee. Kamoe teutap meuwoe keunoe karna sinoe keuh kamoe meuhudep (Walau bagaimanapun, ini tetap tanah air kami. Kami tetap kembali kesini karena disinilah tempat hidup kami),” ujar M. Yunus, warga Lambada Lhok saat ditemui aceHTrend.

M.Yunus merupakan salah satu potret dari sekian warga yang ikut merasakan dahsyatnya musibah tsunami pada satu dekade silam. Istri dan lima anaknya ikut tersapu gelombang yang tingginya mencapai pangkal buah pohon kelapa..

Pria yang kini sudah berkepala enam ini mengaku, saat tsunami menyapu bersih desanya, ia sedang berada di laut lepas mencari ikan bersama rekan-rekannya. Saat itu, mesin boat yang ditumpangi M.Yunus beserta lima orang lainnya tiba-tiba mati dan hilang kendali. Akibatnya, mereka terombang ambing dan terdampar di wilayah Laweueng, Kabupaten Pidie.

“Saat itu, kami lihat suasana sudah berubah total. Seorang warga di sana mengatakan waktu itu gelombang laut besar menghantam kampung. Mereka mengaku kalau wilayah Banda Aceh dan Aceh Besar lebih parah lagi,” kenang M.Yunus.

M. Yunus bersyukur, rasa kepedulian serta uluran tangan dari sejumlah NGO lokal maupun asing telah mengubah kehidupannya. Dari sinilah, M. Yunus mulai bangkit menata kehidupannya bersama istri keduanya, Ruhamah yang dipersuntingnya pada 2006 lalu.

“Meunyoe ta ingat-ingat sabee pih hana guna cit. Meunyoe Allah ka keuhendak Allah, peu mantong lam donya nyoe phak luyak ban mandum (Kalau diingat-ingat terus pun tidak ada gunanya. Jika Allah sudah berkehendak, apa saja yang ada di dunia ini bisa hancur seketika),” ujar M.Yunus.

KOMENTAR FACEBOOK