Empat Tahun Terakhir, Produksi Padi di Aceh Meningkat

Grafik peningkatan produksi padi di Aceh dari tahun 2005 hingga 2015. Sumber: BPS Aceh

ACEHTREND.CO, Banda Aceh – Produksi pertanian khususnya padi di Aceh setiap tahunnya terus mengalami peningkatan. Hal ini disampaikan Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, Hasanuddin Darjo melalui Kabid Tanaman Pangan Mukhlis SP, MA.

Peningkatan produksi tersebut sejak tahun 2013, yaitu mencapai 1,7 juta ton, 2014 mengalami peningkatan menjadi 1,8 juta ton, sementara 2015 mencapai 2,3 juta ton dan pada tahun 2016 mengalami sedikit penurunan yaitu 2,2 juta ton.

“Dengan luas tanam 397.887 pada tahun 2013, 439.533 tahun 2014, 461.883 tahun 2015 dan 447.718 pada tahun 2016,” kata Mukhlis kepada acehTRend pada saat ditemui di kantornya, Selasa, (09/01/2017).

Hal ini juga disampaikan kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh Wahyudin, selama rentang waktu tahun 2005-2015, produktivitas padi di Aceh menunjukkan grafik yang terus meningkat dari tahun 2005 sampai dengan 2011.

Dari tahun 2011 produksi padi Aceh mengalami peningkatan hingga tahun 2013. Lalu menurun di pada 2014, kemudian naik lagi di tahun 2015. Trend yang sama juga ditunjukkan pada data luas panen padi di periode yang sama. Meskipun luas panen dan produksi padi di tahun 2014 mengalami penurunan, namun produktivitas padi justru meningkat.

“Kemudian mengalami penurunan di tahun 2012 dan naik kembali di tahun 2013 sampai dengan 2015. Dan produktivitas padi pada tahun 2015 merupakan yang tertinggi dari tahun 2005-2015,” kata Wahyudi saat dijumpai di ruang kerjanya.

Menurutnya, dilihat dari produktivitas padi di Provinsi Aceh pada tahun 2015, mengalami kenaikan jika dibandingkan tahun 2014. Naik sebesar 4,48 persen dari 48,39 ku/ha menjadi 50,56 ku/ha.

Luas panen padi Provinsi Aceh tahun 2015 mengalami kenaikan sebesar 84.923 hektar (22,58 persen) dibandingkan luas panen padi tahun 2014. Pada tahun 2014 jelasnya luas panen padi di Provinsi Aceh mencapai seluas 376.137 hektar, dan pada tahun 2015 meningkat menjadi 461.060 hektar.

“Naiknya luas panen padi karena meningkatnya luas panen padi sawah sebesar 83.497 hektar (22,78 persen) dan juga luas panen padi ladang sebesar 1.426 hektar (14,94 persen),” ujarnya

Wahyudin menjelaskan periode atau musim panen padi dalam satu tahun terbagi dalam tiga periode atau disebut dengan istilah Subround (SR) yang terdiri dari Subround I ( Januari-April), Subround II (Mei-Agustus) dan Subround III ( September-Desember). Pada 2015 produksi padi tertinggi di Provinsi Aceh terjadi di Subround I (Januari-April).

Produksi padi pada subround I Tahun 2015 mencapai 1.154.675 ton GKG yaitu sebesar 49,53 persen dari total produksi di tahun 2015. Kemudian diikuti subround III dengan produksi sebesar 865.501 ton GKG (37,13 persen) dan subround II sebesar 310.870 ton (13,34 persen).

Jika dibandingkan dengan musim panen/subround yang sama dengan tahun sebelumnya, produksi padi di tahun 2015 mengalami kenaikan tertinggi pada Subround III, yaitu naik dari 622.267 ton GKG menjadi 865.501 ton GKG atau naik sebesar 243.234 ton GKG (39,09 persen).

Sementara itu pada Subround I mengalami kenaikan sebesar 236.904 ton GKG (25,81 persen). Pada Subround II tahun 2015 juga terjadi kenaikan produksi padi sebesar 30.846 ton GKG (11,02 persen). Pada tahun 2015 produksi padi sawah tertinggi terjadi pada Subround I sebesar 1.141.695 ton GKG, kemudian produksinya turun di Subround II dan naik lagi di Subround III. Sementara produksi padi ladang tertinggi terjadi pada Subround III yaitu sebesar 14.717 ton GKG dan terendah di Subround II sebesar 1.471 ton GKG.

Bila dilihat dari kontribusi masing-masing kabupaten/kota, sumbangan terbesar untuk luas panen pada tahun 2015 berasal dari Kabupaten Aceh Utara yaitu sebesar 70.781 hektar (14,94 persen) kemudian diikuti Kabupaten Aceh Timur sebesar 50.478 hektar ( 8,61 persen).
Ia menambahkan dari 23 kabupaten/kota di Provinsi Aceh pada tahun 2015, produksi padi terbesar disumbang oleh Kabupaten Aceh Utara yaitu sebesar 348.225 ton atau sekitar 14,94 persen dari total produksi padi di Provinsi Aceh.

Kontribusi terbesar kedua dan ketiga diperoleh dari Kabupaten Bireuen dan Kabupaten Pidie, masing-masing sebanyak 259.981 ton (11,15 persen) dan 238.880 ton (10,25 persen).

Ketiga kabupaten penghasil padi terbesar di Provinsi Aceh tersebut secara topografi berada di wilayah pantai timur yang berupa dataran rendah hingga pesisir pantai. Kabupaten/Kota dengan produksi padi paling kecil di Provinsi Aceh adalah di Kota Banda Aceh sebesar 507 ton (0,02 persen) dan Kota Subulussalam sebesar 6.072 ton (0,26 persen).

Kota Sabang merupakan wilayah perkotaan dengan luas sawah yang sangat kecil, dan pada tahun 2015 hanya terdapat panen sebesar 1 hektar saja. Dengan luas panen tersebut, Kota Sabang hanya menghasilkan produksi padi sebesar 3 ton.

Jika diperhatikan, hampir di setiap wilayah kabupaten/kota di Provinsi Aceh pada tahun 2015 mengalami kenaikan produksi padi, baik di wilayah kawasan pantai timur Aceh (Kabupaten Aceh Timur, Pidie, Bireuen, Pidie Jaya, Aceh Tamiang) , kawasan pantai barat Aceh (Kabupaten Aceh Barat, Aceh Barat Daya, Nagan Raya, Aceh Jaya) maupun kawasan Aceh bagian tengah seperti Aceh Tengah dan Gayo Lues.

Kabupaten Aceh Utara, meskipun mengalami penurunan produksi padi dibandingkan tahun 2014, namun tetap menjadi kabupaten dengan produksi padi terbanyak se Provinsi Aceh.

“Wilayah perkotaan di Provinsi Aceh meskipun dengan lahan sawah yang kecil juga terlihat mengalami kenaikan produksi padi, seperti di Kota Langsa, Lhokseumawe dan Subulussalam,” kata Wahyudin.

Baca juga: 15 Kabupaten di Aceh Surplus Produksi Beras

KOMENTAR FACEBOOK