Akademisi: Pengembangan Sawit Terhalang Black Campaign

Dr. Ir. Azri M.Si .

ACEHTREND.CO, Banda Aceh – Akademisi Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh Dr. Ir. Azri M.Si mengatakan, hambatan terbesar untuk pengembangan kelapa sawit di Indonesia adalah black campaign dari Uni Eropa dan Amerika Serikat.

Menurutnya, Parlemen Eropa mencatat 46 persen dari minyak sawit impor oleh Uni Eropa untuk memproduksi biofuel, membutuhkan penggunaan sekitar satu juta hektar tanah tropis.

“Selain pendorong deforestasi, Parlemen Eropa juga mengatakan bahwa sebagian besar produksi global minyak sawit melanggar hak asasi manusia dan standar sosial memadai, sebab sering menggunakan pekerja anak, dan ada banyak konflik lahan antara masyarakat local adat dan HGU perkebunan besar,” katanya di Banda Aceh, Kamis (11/1/2018).


Dia mengungkapkan, minyak nabati yang dikonsumsi oleh masyarakat dunia saat ini adalah minyak kedelai, minyak biji lobak, minyak biji kapas, minyak biji bunga matahari, minyak kelapa, minyak jagung, minyak wijen, minyak zaitun dan minyak kelapa sawit.

Permintaan terhadap minyak nabati terus meningkat sejalan dengan pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan ekonomi.

Oleh karena itu, tanaman dengan produktivitas minyak yang lebih tinggi menjadi harapan untuk memenuhi permintaan pasar di masa mendatang.

Produktivitas kelapa sawit mencapai 4 ton per hektar per tahun, hal ini jauh melebihi produktivitas kedelai yang hanya 0,4 ton per hektar per tahun dan minyak lobak 0,57 ton per hektar per tahun. 


Sementara itu, negara yang konsumsi minyak nabatinya akan terus naik antara lain adalah Cina, Jepang, Amerika dan Eropa, sedangkan untuk konsumsi dalam negeri juga cukup berkembang pesat dengan produk-produk yang berbahan baku kelapa sawit seperti : deterjen, sabun, kosmetik, obat-obatan dan margarine.

Hal tersebut secara makro mengindikasikan bahwa prospek pengembangan agrobisnis kelapa sawit serta pemasaran harga minyak sawit mentah (CPO) dan turunannya di masa datang sangat baik dan potensial. 


Mosi Parlemen Uni Eropa tentang pembatasan impor bahkan black campaign menyebabkan harga CPO menjadi lebih rendah, dan menyebabkan selisih harga yang lebih besar dibandingkan minyak nabati lainnya.

“Akhirnya konsumen memperoleh harga minyak konsumsi menjadi lebih murah dan terjangkau daripada minyak nabati lainnya, sehingga menjadi lebih disukai oleh konsumen,” katanya.

Selain tantangan black campaign, kebun kelapa sawit di Aceh memiliki produktivitas yang sangat rendah daripada produktivitas nasional, terutama dialami perkebunan rakyat.

“Produktivitas kebun rakyat berada jauh dari ketetapan pemerintah, yaitu kurang dari 10 ton tandan buah segar (TBS) per hektar per tahun. Rendahnya produktivitas ini disebabkan bibit yang tidak bersertifikasi dan umur sudah di atas 25 tahun,” jelasnya. []