Antara dan Perantara (Wiratmadinata dan SAg)

Saifullah Abdulgani (kiri) dan Wiratmadinata (kanan). Foto: Muhajir Juli/aceHTrend.

Per 10 Januari 2018, Gubernur Aceh Irwandi Yusuf menunjuk dan mengangkat Wiratmadinata dan saifullah Abdulgani (Sag), sebagai juru bicara Pemerintah Aceh. Tugas keduanya adalah menyampaikan informasi secara langsung maupun tidak langsung melalui media atau sarana informasi.

Sejatinya, baik Wira maupun Saifullah Abdulgani, tidak hendak buru-buru menyampaikan ke publik tentang posisi baru mereka sebagai jubir. Tapi sebuah media kadung mewartakan, mendahului rencana pemerintah yang akan melakukan konferensi pers terkait penunjukkan dua lelaki ahli komunikasi publik itu.

Wira dan Saifullah pun segera mengambil langkah strategis, sebelum informasi penunjukkan mereka dipelintir oleh ragam pihak yang berkepentingan dengan itu, mereka pun bergerak cepat. Menyambangi sejumlah kantor media massa serta menjawab ragam pertanyaan di media sosial seperti facebook.

Pun demikian, penunjukan jubir dianggap oleh sejumlah pihak akan overlapping dengan Humas Pemerintah Aceh yang memang sudah menjadi bagian dari sistem pemerintah. Bahkan ada yang menilai penunjukkan itu sekedar mengakomodir semua pihak yang berpotensi menganggu jalannya eksistensi Pemerintah Irwandi-Nova. Benarkah demikian?

Wiratmadinata dan Saifullah menjelaskan bahwa tugas jubir tidak akan berbenturan dengan Humas Aceh.”Humas dengan tupoksi seperti selama ini, tak kurang tak lebih. Jubir untuk pendalaman, klarifikasi, clearence content, mispersepsi, koreksi, dan isu-isu strategis yang belum tercover secara komprehensive,” kata Wira dan Saifullah.

“Tidak akan ada benturan dengan humas. Karena tupoksi kami beda walau beririsan,” terang Saifullah.

***
Saifullah Abdulgani adalah putra kelahiran Peusangan. Anak lelaki Guru Gani tersebut selama ini dikenal sebagai sosok pejabat kelas menengah yang memiliki gaya komunikasi santai, kadang penuh guyon serta jago membangun persepsi. Ia sering disebut sebagai Abu Nawas abad ini, karena kelihaiannya berargumen serta tidak centang perenang dalam menyusun kalimat. Saifullah juga jago menulis.

Lalu, bagaimana dengan Wiratmadina? Ya, lelaki asal Kebayakan, Aceh Tengah itu merupakan mantan wartawan yang dikenal jago menulis, ahli komunikasi, ahli hukum serta telah malang melintang di berbagai dunia kerja. Dia bahkan ditempa sangat lama oleh ragam pengalaman.

Menurut sebagian orang, Gubernur Aceh kali ini tidak salah pilih orang. Perpaduan putra Negeri Antara (Gayo) dan Negeri perantara (Peusangan-Bireuen) hanyalah kebetulan semata. Karena keduanya dipakai jasanya oleh pemerintah bukan karena faktor kedekatan. Tapi –diukur dengan alat ukur apapun– keduanya memang mampu dan layak berada di sana. Bilapun unsur kedaerahan ikut membumbui, itu hanyalah bonus semata. The right man in the right place.

Selanjutnya, kita tentu pantas menanti kiprah keduanya dalam rangka membangun komunikasi massal demi sampainya informasi secara utuh kepada masyarakat. Mereka diharapkan mampu menjadi “lampu kabut” atas upaya distorsi informasi yang dilakukan oleh kalangan yang berseberangan. Secara ideal, keduanya pantas diharapkan bekerja dengan baik demi lahirnya citra Aceh yang positif di mata dunia.

Akhirnya, selamat bertugas kepada –keduanya juga akademisi– Wira dan Saifullah –sepantasnya saya memanggil mereka dengan sebutan abang– Semoga mampu menjadi penerjemah ide-ide Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh, sekaligus menjadi corong pemerintah yang tidak pilih kasih.