White Helsinki: Perjalanan Para Perunding

SETELAH damai Aceh pada tahun 2005, banyak pihak yang berupaya belajar dari perdamaian ini. Beragam universitas dan pusat perdamaian melakukan kunjungan dan riset untuk mencari rahasia-rahasia kesuksesan yang mungkin bisa diterapkan di daerah konflik lainnya.

Delegasi dari Myanmar, Patani, Moro, Afghanistan, datang silih berganti untuk mendengar dari pengalaman perang di Aceh.

Saat sampai ke Aceh, mereka mewancarai berbagai pihak, sering juga menjumpai mantan perunding GAM seperti M. Nur Djuli, Shadia, Teuku Hadi, dan lainnya. Sebagai perunding, sering juga diundang ke berbagai negara untuk bercerita tentang lesson learned dari perdamaian di Aceh.

Tidak bisa dipungkiri, perdamaian ini salah satu yang bertahan paling lama di dunia.

Berdasarkan hal tersebut, sejak lama timbul keinginan para perunding GAM untuk memonitor perkembangan perdamaian. Maka dibentuklah MoU Helsinki Watch, sebagai upaya memupuk tanggung jawab setelah penandatanganan MoU.

Memasuki tahun 2018, banyak perkembangan yang terjadi di Aceh. Banyak sekali hal yang perlu dishare dengan para pihak. Oleh sebab itu, atas inisiatif bersama, para perunding melihat perlunya ada yang memberikan informasi terkini khususnya kepada mediator perdamaian Aceh, Crisis Management Initiative (CMI) yang dinakhodai oleh Presiden Martti Ahtisaari.

Perjalanan yang dibiayai pribadi, tidak ada sponsor yang mendanai.

Setelah melakukan beberapa komunikasi, direspon dengan positif oleh pihak CMI, dan diberikan jadwal kunjungan di tengah puncak musim dingin di Eropa. Bahkan, staff CMI yang menghubungi kami, menulis di ujung emailnya: best from white Helsinki!

Sewaktu kami mendarat, memang Helsinki berselimut salju. Hari itu, dingin menusuk tulang, bahkan dikabarkan di salah satu kota, terpecah rekor terdingin dari tahun sebelumnya.

Dari airport kami dijemput seorang putra Aceh yang sudah lama bermukim di Espoo, tidak jauh dari airport di kawasan Vantaa. Ke dua kota ini menjadi bagian dari metropolitan Helsinki, menjadi sangat bersejarah karena menjadi bagian dari proses perundingan di tahun 2005. Koningstedt Manor, gedung yang dipakai untuk tempat negosiasi, juga terletak di Vantaa, dan hotel Hanasaari Holmen, tempat menginap delegasi, terletak di sebuah pulau kecil di Espoo.

Setelah perut dimanjakan dengan nasi biryani plus kari kambing boh labu, kami diantar ke penginapan, di belakang museum nasional Finlandia di tepi sebuah danau yang membeku.

Besok harinya, dijemput oleh Sini Castren, sekretaris pada Expatriate Parliament Finland, dan ditraktir makan ‘sore’. Sebagai anggota AMM yang fasih berbahasa Indonesia, Sini banyak berdiskusi tentang pembangunan di Aceh. Pesannya sangat kuat, Aceh itu kaya sumber daya maritim, pemerintah dan masyarakat harus menjaga laut dan pesisir pantai dengan baik. Setelah makan di atap sebuah supermarket dengan view kota Helsinki, kami sempat berjalan di dalam salju, sambil mengenang alangkah nikmatnya Aceh yang selalu mendapat siramam cahaya matahari sepanjang tahun.

Besoknya, kami ke kantor CMI. Kantor nya terletak di dekat laut, sebelah pelabuhan ferri yang menyeberang ke Swedia dan Estonia.

Sesampai di sana, langsung disambut Presiden Ahtisaari dengan hangat. Beliau banyak bercerita tentang kesuksesan CMI setelah perdamaian Aceh dan keterlibatannya di belbagai negara untuk mendorong perdamaian.

Setelah itu kami menyampaikan maksud kedatangan dengan menjelaskan berbagai perkembangan terkini Aceh, beliau mendengar dengan serius, mencatat dengan baik apa yang kami sampaikan.

Satu yang menjadi kunci perdamaian, tegas presiden Ahtisaari, yaitu, “ketulusan ke dua belah pihak yang bertikai”. Beliau masih yakin bahwa GAM dan pemerintah Indonesia masih tulus untuk melanjutkan dan mempertahankan perdamaian.

Setelah pertemuan, diajak untuk makan siang bersama dengan menu yang sangat sehat, salmon dan sayuran. Finland memang bukan salah satu negara tujuan kuliner, teringat kami dulu sewaktu perundingan Hesinki, menunya cuman tiga. Salmon bakar, digoreng atau di-steam, tidak ada kari atau asam keueung seperti di negara Asia.

Sore hari, kami juga mendapatkan undangan makan malam dari Jenderal Jaakko Oksanen, mantan deputy chief of mission AMM di Aceh, juga mantan pangdam metropolitan Helsinki. Jenderal Jaakko pada tahun 2007 mendapatkan Bintang Jasa Utama (The Grand Meritorious Order/First Class) dari pemerintah Indonesia.

Pemerintah Indonesia memberikan bintang dan tanda jasa untuk semua perunding RI di Helsinki, demikian juga petinggi AMM sebagai penghargaan kepada perdamaian Aceh.

Perunding GAM tidak mengharapkan bintang tanda jasa, tapi harapan paling tinggi adalah agar MoU Helsinki dijalankan seutuhnya sesuai yang disepakati untuk membawa kesejahteraan bagi masyarakat Aceh.

White Helsinki
Helsinki yang berselimut salju
25 Januari 2018

KOMENTAR FACEBOOK