Psikolog Aceh Bongkar Dunia LGBT

Nur Janah AlSharafi, Psikolog. Foto: Ist

ACEHTREND.CO, Banda Aceh – Berita tentang LGBT dalam beberapa waktu lalu di Aceh menjadi perbincangan hangat, apalagi setelah operasi penyakit masyarakat (Pekat) yang dilakukan oleh pihak polisi syariah dan Polres Aceh Utara pada hari Sabtu 27 Januari 2018 lalu menjadi puncak dari isu hangat tersebut, bahkan sejumlah media lokal, nasional dan internasional menjadikan hal tersebut sebagai headline.

Aceh pun kembali dibicarakan, dengan berbagai bumbu, sesuai sudut pandang dan kepentingan. Gerakan membela LGBT sebagai bagian hak asasi pun kembali mengemuka di tingkat nasional. Namun di Aceh, baik pemuja LGBT, aktivis LGBT, maupun pembela LGBT, semua raib bak ditelan bumi. Mereka seakan-akan cooling down dan puasa bicara. Tidak ada suara yang berani bilang LGBT merupakan bagian keberagaman.

Lalu bagaimana pendapat psikolog tentang LGBT? Benarkah bahwa LGBT adalah berupa orientasi seksual yang kodrati, ataukah itu berupa penyimpangan dan bentuk lain dari gangguan jiwa? Berikut laporannya untuk Anda.

Untuk mengetahui bagaimana pandangan Ilmu Psikologi melihat LGBT, dan apa saja faktor yang menyebabkan seseorang memiliki kecenderungan menjadi LGBT, aceHTrend menemui Dra. Nur Janah AlSharafi, Psi, MM seorang Psikolog Aceh yang merupakan pimpinan Psikodista Konsultan, sebuah lembaga psikologi dan manajemen Psikodista yang memberikan layanan Training, Assesment, Rekrutment dan beberapa pelayanan lainnya yang terletak di kawasan Lueng Bata, Banda Aceh.

Menurut Nur Janah Alsyarafi LGBT  kepanjangannya dari Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender. Istilah ini  mulai populer pada tahun 90-an.

“Lesbian merupakan gangguan seksual menyimpang yang terjadi pada wanita yang tertarik pada wanita, Gay adalah perilaku seksual menyimpang di mana laki laki tertarik dengan sesama laki laki Gay juga disebut dengan homoseksual,” ujar Nur Janah kepada aceHTrend, Selasa (30/1/2018) di Banda Aceh.

Sedangkan Biseksual adalah perilaku menyimpang seseorang menyukai dua gender yaitu laki-laki dan perempuan sekaligus. Kelompok terakhir Transgender merupakan perubahan alat kelamin yang terjadi karena perasaan bahwa alat vitalnya tidak menunjukkan siapa dia sebenarnya. Sehingga ada dorongan kuat untuk melakukan operasi kelamin.

Untuk mengatakan apakah prilaku tersebut normal atau abnormal, tidak dapat ditilik dari beberapa persepektif saja, baik ditilik dari statistik (artinya minoritas di antara mayoritas) ataupun menggunakan pedoman baku saja baik DSM-I (Diagnostic Statistic Manual) maupun Kinsey Scale.

Pada tahun 1952 diterbitkan DSM-I (Diagnostic Statistic Manual) atau pedoman gangguan jiwa di Amerika menyebutkan bahwa LGBT adalah sebuah kelainan jiwa / perilaku menyimpang. Saat itu disebutkan ada 106 jenis gangguan jiwa. Pada tahun 1968 terbit DSM –II  bertambah menjadi 185 gangguan. Tahun 1974 terbit lagi DSM-III bertambah menjadi 265 gangguan.  Adapun tahun 2000 terbit DSM-IV dan jumlah gangguan jiwa menjadi 365.

“Di mana letak LGBT? Pada DSM I ditempatkan sebagai gangguan keribadian sosiopatik, DSM II dipindahkan menjadi sexual deprivation.  Pada DSM III terbit tahun 1973 dan lebih jelas pada edisi revisi yang menyatakan bahwa homoseksual dihapuskan  dan dinyatakan sebagai salah satu orientasi seksual,” ujar Nur Janah.

Nur Janah juga mengatakan bahwa semua perubahan di setiap edisi DSM tersebut dilakukan melalui voting dan usaha selama bertahun-tahun sehingga ketika homoseksual dihapuskan hal tersebut karena voting dimenangkan oleh yang pro LGBT.

Khusus untuk transgender masih dikategorikan gangguan jiwa. Pada DSM V pun masih dimasukkan sebagai gangguan jiwa, namun Nur Janah mengingatkan pedoman ini selama ini berlaku di Amerika. Indonesia punya pedoman sendiri yaitu PPDGJ (Pedoman dan Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa) dan hingga saat ini masih dikategorikan sebagai gangguan jiwa.

Banyak orang kemudian juga merujuk pendapat Alfred Kinsey yang mengembangkan hasil risetnya dalam bentuk kinsey scale test. Skala ini bergerak dari heterosex hingga homosex (Skala 0 = Heteroseks Murni dan skala 6 = homoseks murni).

Dua rujukan yakni DSM dan Kinsey Scale ini yang kemudian dipedomani banyak orang tentang LGBT. Tetapi banyak yang lupa bahwa responden dari Dr Alfred Kinsey yang dikenal melalui riset tentang skala orientasi seksual adalah orang Amerika. Bahkan banyak yang lupa juga bahwa buku DSM IV juga disusun di Amerika.

Saat aceHTrend bertanya tentang penyebab LGBT, Nur Janah menyebutkan ada beberapa faktor penyebab seseorang mengidap LGBT antara lain, faktor genetik, pada faktor ini yang paling terkenal adalah Riset Franz Kallman yang menyatakan bahwa homoseksual secara genetik. Namun ini hal ini diruntuhkan oleh riset terbaru bahwa sebenarnya perilaku homoseksual tidak diturunkan via gen (Riset George Rice dan Allan Sanders).

Faktor yang kedua adalah hormon, ada yang mengungkap bahwa hormon penyebabnya. Namun ternyata hal ini oleh beberapa riset juga dibantah bahwa antara pria normal dan pria gay tidak ada perbedaan hormonal, yang ketiga faktor sosial, pergaulan dengan kelompok sebaya, disodomi oleh teman atau keluarganya dan hal lainnya.

Faktor keempat adalah keluarga, pola asuh, kekerasan masa kecil, orang tua over protektif, trauma masa kecil.

“Kalau ditanya apakah normal jadi LGBT? Ada pengakuan seseorang  yang sebelumnya baik – baik saja bahkan pernah jatuh cinta pada seorang gadis, namun karena disodomi akhirnya terjadi pengulangan, dan akhirnya orang ini menjadi homo. Di sisi lain ada seorang yang bekerja dalam sebuah organisasi, oleh karena manajernya seorang homo, bergaul dengan para homo, dan dalam perjalanan waktu ia juga menjadi homo. Perasaan putus asa dan proses belajar sosial membuatnya belajar perilaku homo dari rekan rekannya,” ujar Psikolog yang juga mengajar di beberapa Kampus tersebut.

Apakah LGBT bisa sembuh? Belajar dari kehidupan seorang gay atau lesbi yang akhirnya menjadi normal kembali kita bisa ambil benang merahnya yaitu adanya kekecewaan, pengalaman pahit dan atau sejenisnya terhadap pasangan homo atau lesbinya. Adanya juga proses pemulihan khususnya secara spiritual dengan mendalami agama dan mengamalkannya.

“Pada beberapa orang ada yang mengakui bahwa diawal masih sangat sulit, namun karena tekad yang kuat akhirnya ia lolos untuk kembali menjadi heteroseksual,” ujar Nur Janah. Penulis buku “Buku Blak- blakan Our secret Kasus Psikologi Dari Negeri Syariah” ini  menceritakan pengalamannya menangani klien LGBT. Jumlah Klien LGBT yang mau datang secara kesadaran di klinik psikologi ada tetap ada meski jumlahnya masih sedikit.

“Yang paling terkesan buat saya ketika menangani klien seorang perempuan karir yang lesbian, melalui konseling yang intensif klien tersebut kemudian mengubah cara berfikirnya (mindset) tentang dirinya, tentang laki-laki , mendekatkan diri kepada Allah SWT dan bergaul dengan teman yang positif, akhirnya klien ini memilih hidup normal,” ujar Nur Janah.

Namun Nur Janah juga menyebutkan beberapa klien jika ditanyakan setelah konsultasi dan terapi, apakah masih muncul keinginan untuk mengulang kembali, banyak yang menjawab kadang masih muncul dorongan untuk mengulang, tapi mereka memilih mengingat Allah baik melalui zikir atau ibadah lainnya.

Terapi untuk LGBT menurut Nur Janah sebaiknya dilakukan untuk mendapatkan penyebab atau pencetus perilaku LGBT itu sendiri. Setelah itu dapat dilakukan konseling dan psikoterapi, jika perilaku LGBT dalam hitungan tahun sebaiknya pikiran bawah sadar mereka diprogram kembali melalui hipnoterapi, atau beberapa jenis psikoterapi lainnya juga dapat digunakan secara optimal.

Nur Janah menyarankan agar LGBT bisa dibatasi atau dihilangkan, harus dimulai dari beberapa hal baik dari keluarga, kemudian gerakan dari level gampong dengan membangun akhlaqul karimah berbasis masjid, meunasah. Selanjutnya hidupkan kembali remaja masjid, jadikan masjid sebagai sekolah umat.

Gadget juga perlu dibatasi, buat regulasi atau aturan untuk provider telpon seluler agar punya tanggungjawab terhadap bisnisnya, dengan memblokir situs porno, termasuk situs yang LGBT, tegakkan aturan terkait LGBT, bina dan rehab mereka.

“Kita juga harus membentuk dan mengembangkan wadah kreativitas anak muda sehingga energi tersalur ke hal positif dan yang terakhir undang – undang, hukum tentang LGBT hendaknya memihak untuk masa depan generasi yang berakhlaqul karimah, budi pekerti luhur,” ujar Nur Janah kepada aceHTrend.[]

KOMENTAR FACEBOOK