LGBT di Aceh, Komoditas Politik Jelang Pemilu?

Sejumlah waria seusai menggelar acara di Hermes Palace Hotel, Banda Aceh, 16 Desember 2017. Foto: Rahmad.

Walau hampir semua orang tahu bahwa Violet Grey dan LeTo serta dibackup oleh sejumlah organisasi yang bergerak pada isu keadilan dan hak asasi, sampai sekarang tidak ada upaya serius dari pemerintah untuk memberangus LGBT di Aceh. Bilapun ada penolakan, hanya sekedar teriakan jelang suksesi politik.

Isu LGBT di Aceh bukanlah sesuatu yang baru. Sejak 2006 gerakan feminisme yang mengusung isu hak-hak “minoritas”, telah mempopulerkan LGBT sebagai bagian dari keberagaman manusia yang harus dihormati, dilindungi dan diberikan tempat dalam peradaban modern. Siapapun yang anti terhadap LGBT dianggap belum selesai memahami arti dari keberagaman. Cap fundamentalis, terbelakang, kerap dilabelkan kepada siapa saja, bila menolak LGBT bagian dari keberagaman.

Dari data yang diperoleh aceHTrend dari laporan IDAHOT2015, disebutkan sejumlah lembaga yang aktif bekerjasama dengan Violet Grey dan LeTo dalam rangka melakukan sosialisasi HIV AIDS dan hal-hal lain yang berhubungan dengan seks di lingkungan remaja. Lembaga-lembaga itu pula yang selama ini kerap mengkritisi penerapan syariat Islam di Aceh, dengan ragam tudingan.

lalu bagaimana dengan pemerintah? dari sekian tahun mereka berteriak di mass media tentang penolakan LGBT dan bentuk pelanggaran Syariat Islam lainnya di Aceh, sejauhmana sudah hasilnya? Hingga saat ini belum memiliki alat ukur yang pasti.

Hasil penelusuran aceHTrend, ketika dimintai data berapa jumlah LGBT di Aceh, tidak ada satu lembaga pun yang memiliki data tersebut. Bahkan, mereka juga tidak memiliki data berapa jumlah bencong di Aceh by name by address. Kenapa bencong? Ya, bencong dan salon ilegal, sejauh ini memang tersangka utama bagian dari LGBT. Aktivitas seks anal yang mereka agung-agungkan memang bisa dilacak dengan mudah.

LGBT memang sebuah fomenama gunung es, tapi ketika pemerintah tidak memiliki data dasar untuk bergerak, lalu teriakan yang selama ini dilakukan untuk apa? Apakah para LGBT akan sadar hanya dengan teriakan-teriakan semata?

Psikolog Aceh, Dra. Nur Janah AlSharafi, Psi, MM memberikan beberapa tips untuk mengobati pengidap LGBT. Termasuk menelusuri faktor pencetus. Agama memang menjadi kunci utama untuk memulihkan mereka. Tapi penangangannya harus memiliki konsep yang jelas serta pengidap LGBT tidak akan pulih hanya dengan digertak, dipukul, konon lagi sekedar dipakaikan baju sesuai jenis kelamin.

Sebagai virus, perilaku seks menyimpang adalah penyakit kejiwaan. Paramedis Indonesia sepakat bahwa LGBT adalah penyimpangan seks dan pelakunya mengidap sakit jiwa. Nah, akankah orang gila sembuh hanya dengan metode memberikan obat untuk orang mencret?

Kita tidak boleh lupa, kampanye LGBT terus dilakukan tanpa henti. Sasarannya adalah generasi muda. Pola pendekatan pun beragam, mulai dari film, training dan kegiatan-kegiatan lainnya.

Nah, akhirnya, kita harus menyadari, dengan pola yang sudah-sudah, LGBT tidak akan berkurang, justru akan bertambah. Untuk itu, pemerintah sudah harus melakukan langkah-langkah strategis. Para pengidap LGBT yang sudah terdeteksi harus ditangkap, kemudian didata serta diperiksa sedetail mungkin, untuk mencari jejaring mereka. Selanjutnya dikarantina secara khusus. Untuk pola pengobatan kepada mereka, haruslah direncanakan bersama psikiater.

Apakah upaya penyembuhan ini masuk dalam grand design Syariat Islam di Aceh? Sejauh ini belum terlihat. Bahkan semua pihak yang dianggap memiliki hubungan dengan penguatan Syariat Islam, tidak memiliki data jumlah LGBT di Aceh, konon lagi by name by address.

KOMENTAR FACEBOOK