Tahun 2019 Daya Listrik Aceh Akan Melimpah

General Manager (GM) PLN Aceh, Jefri Rosiadi saat diwawancara aceHTrend. (Foto: aceHTrend/Irwan)

ACEHTREND.CO, Banda Aceh – General Manager PT PLN Persero Wilayah Aceh, Jefri Rosiadi optimis, daya listrik di Aceh mulai 2019  akan melimpah. Dengan demikian tidak akan ada lagi pemadaman bergilir karena kekurangan daya listrik di Aceh.

Namun di balik itu Jefri berharap pembangunan pembangkit listrik yang tengah digalakkan di Aceh, dibarengi dengan penggunaan beban yang seimbang, melalui pembangunan pusat-pusat perekonomian berupa investasi untuk menunjang perekonomian di Aceh.

“Kami berharap pemerintah dapat membangun investasi-investasi baru guna bisa menggunakan pembangkit yang sudah kami siapkan ini, untuk bisa dipakai. Jadi perkembangan ekonomi di Aceh bisa tumbuh. Jangan sampai setelah dibangun pembangkit listrik bebannya tidak ada,” katanya saat bincang-bincang dengan aceHTrend, Kamis (1/2/2018).

Dengan runut dan detil, Jefri Rosiadi menjelaskan banyak hal tentang kelistrikan di Aceh. Berikut wawancaranya:

Bagaimana daya listrik di Aceh?
Daya listrik kita di Aceh lebih dari cukup karena ada penambahan pembangkit dari Medan 240 MW (Megawatt) itu yang terjadi pada Juni 2017 kemarin pas bulan Puasa, makanya pada saat puasa kemarin banyak pemadaman karena memang ada masalah di isolasi pembangkitan sekalian pada suplai daya.

Idealnya berapa daya listrik yang dibutuhkan di Aceh ?
Total beban listrik kita di Aceh 374 MW. Sementara daya yang mampu dihasilkan di Aceh lebih kurang 300 MW yang dikumpulkan dari PLTU Nagan Raya, PLTD Luengbata, PLTU Meulaboh dan PLTMG. Jadi kekurangan daya di Aceh 74 MW. Tapi karena kita sudah interkoneksi antara Medan dengan Aceh, maka kelebihan yang ada di Medan bisa mengcover yang ada di Aceh, jadi secara sistem kita cukup.

Bukankah masih juga terjadi pemadaman bergilir di Aceh?
Pemadaman itu kadang disebabkan karena ada gangguan di transmisi. Jika ini terjadi, maka mau tidak mau kita tidak dapat mendapat bantuan dari Medan sehingga terjadilah Pemadaman di Aceh. Namun yang sering terjadi gangguan itu pada jaringan tegang menengah (distribusi) namun pemadamannya hanya terjadi di lokasi itu saja.

Hal ini bisa disebabkan karena kelelawar dan tupai, karena sering nempel di situ. Namun dampak pemadamannya kecil, karena yang terganggu hanya di lokasi itu saja. Makanya kenapa terkadang terjadi pemadaman salah satu penyebabnya adalah seperti itu tadi.

Apa yang menyebabkan terjadinya gangguan transmisi?
Gangguan transmisi disebabkan oleh banyak hal, kadang-kadang disambar petir. Misalnya gangguan transmisi terjadi di Meulaboh Aceh Barat, maka akan kami lakukan proteksi untuk mengamankan jaringan. Supaya tidak terbakar, maka dia akan melepaskan sendiri jaringan dan ini akan terjadi di sepanjang transmisi itu sendiri.

Kalau ini yang terjadi maka secara sendirinya akan mengamankan sistemnya supaya tidak rusak dan aman, jika ini dilepas maka PLTU Nagan Raya kehilangan beban sementara untuk normal kembali butuh waktu 24 jam.

Beda transmisi dengan distribusi, transmisi selain tinggi tegangannya mencapai 150 kV (kilovolts) sementara distribusi ini yang di tiang-tiang dan tegangannya 20 kV.

Bagaimana upaya PLN Aceh untuk memangkas ketergantungan pada Medan?
Untuk bisa melepaskan ketergantungan dari Medan maka kami sudah merencanakan penambahan pembangikit listerik di Aceh. Pada awal Januari kemarin kita meresmikan PLTG di Krueng Raya dengan kapasitas 50 MW. Pembangunannya  direncanakan selesai di akhir tahun ini. Kemudian di tahun ini juga akan dilakukan penambahan 250 MW di Arun, pembangkit PLTMG. Kontraknya sudah jadi hanya tinggal menunggu dikerjakan saja.

Nah 250 MW di PLTMG Arun ini untuk mem-back up Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Lhokseumawe nanti. Ini ditargetkan selesai 18 bulan masa kerja. Saat ini kami sedang mencari pendanaan dan pada 2019 akhir nanti baru beroperasi. Kemudian ada juga penambahan 100 MW di Krueng Raya Aceh Besar di tahun 2019, itu Insya Allah tidak akan lama dan jenis pembangkitnya juga PLTG. Jadi total tambahan sampai 2019 ada 400 MW.

Untuk tahun berikutnya?
Kemudian pada 2022-2023 itu akan ada tambahan pembangkit 200 MW di PLTU Nagan Raya tapi itu swasta dan masih lama karena itu membutuhkan pembangaunan 3-4 tahun. Sekaranga belum bisa dibangun tapi sudah ada kontrak dengan kami.

Dengan berlimpahnya daya listrik pada 2019 nanti, apakah seimbang dengan beban pemakaian?
Itulah sekarang yang jadi masalah, kalau pembangkit listrik 2019 sudah masuk semua maka yang jadi masalah bebannya ada nggak? Harapan kami tadi adalah KEK Arun itu bisa masuk supaya kami bisa persiapkan. Jangan sampai ada asumsi investor tidak bisa masuk karena PLN tidak siap, itu tolong dihilangkan ini kita sudah on track. Tinggal siapa yang akan memakai ini, jangan sampai nanti sudah dibangun namun tidak ada yang pakai.

Harapan PLN ke Pemerintah Aceh ?
Kita berharap pemerintah dapat mencari investasi-investasi baru untuk bisa menggunakan daya yang sudah kita siapkan ini untuk bisa dipakai. Jadi perkembangan ekonomi di Aceh bisa tumbuh.

Bagaimana pertumbuhan listrik di Aceh?
Saat ini pertumbuhan listrik di Aceh itu cuma 3,3 persen ini tergolong kecil dibandingkan dengan daerah lain. Hal ini karena pertumbuhan ekonomi memang sedang tidak baik, kondisi ini bukan hanya di Aceh tapi juga di tempat lain seperti di Jawa, pertumbuhannya juga sama.

Apakah pertumbuhan ekonomi mempengaruhi pertumbuhan penggunaan listrik?
Pertumbuhan listrik ini sama dengan pertumbuhan ekonomi, kalau cuma 3,3 persen pertumbuhan listrik ini bisa terlambat dan bisa dinaikkan apabila ada investor-investor yang masuk. Harapan kami pemakaian lisrik akan tumbuh di atas 3,3 persen, jadi tahun depan kita berharap sampai 7-8 persen lah. Pertumbuhan penggunaan listrik sama dengan pertumbuhan ekonomi.

Apakah Aceh akan selalu menggunakan sistem interkoneksi dengan Medan?
Semua sistem di dunia ini menggunakan sistem interkoneksi, seperti Aceh misalnya. Tujuan dari sistem interkoneksi ini adalah untuk menjaga kontinuitas penyediaan tenaga listrik. Sebab, apabila salah satu pusat pembangkit mengalami gangguan masih dapat disuplai dari pembangkit lain yang terhubung secara interkoneksi, tujuan lainnya adalah untuk saling memperingan beban yang harus ditanggung oleh suatu pusat listrik.

Sehingga lebih efektif, jadi jika pun nanti 2019 daya listrik di Aceh berlimpah juga tidak memutuskan sistem interkoneksi dengan Medan, malah akan kita tambah. []

KOMENTAR FACEBOOK