Beredar Kabar Pasien Koma Dipulangkan Paksa, Begini Kata Direktur RSUZA

Direktur RSUZA, Fachrul Jamal(Foto: aceHTrend/Irwan)

ACEHTREND.CO, Banda Aceh – Redaksi aceHTrend menerima pesan WhatsApp tentang nasib seorang pasien bernama M. Natsir asal Kabupaten Pidie yang akan dipulangkan paksa oleh pihak Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin (RSUZA) dalam kondisi tak sadarkan diri (koma). Rabu 20 Februasi 2018 malam.

Dalam pesan yang sudah tersiar luas itu disebutkan bahwa, pasien dirawat di ruang Aqsa 1 kamar A8, nomor rekam medis 1-13-96-64 dan dokter penanggungjawab (DPJP) dr. Masra Lena Siregar, SP.PD dan tertulis “pasien akan dipulangkan paksa dalam keadaan koma.”

Bersamaan dengan pesan tersebut juga tertera foto pasien di ruang rawat inap dalam kondisi terbaring tak sadarkan diri.

Novi, putri sulung dari pasien yang dikonfirmasi aceHTrend malam itu membenarkan adanya permintaan dari pihak rumah sakit agar ayahnya segera dipulangkan kendatipun dalam kondisi tak sadarkan diri. “Benar, ayah saya diminta agar dipulangkan segera oleh pihak rumah sakit,” katanya.

Namun dia tidak dapat memastikan siapa pihak rumah sakit tersebut yang meminta ayahnya agar dipulangkan segera. “Saya tidak tahu siapa orangnya, karena saat itu mamak yang jaga. Kata mamak laki-laki,” ungkapnya.

Novi mengaku akan memastikan lebih lanjut terkait permintaan tersebut ke dokter penanggungjawab. Sebab, katanya, jika perintah untuk dipulangkan segera itu benar maka pihakya tidak bisa menerima sebab kondisi ayahnya sedang tak sadarkan diri.

Menurut Novi, ayahnya adalah pasien cuci darah di rumah sakit Pidie. Namun karena saat kencing mengeluarkan darah pihak keluarga berinisiatif membawa ayahnya ke RSUZA untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut karena perut sebelah kanan sudah mengeras.

Pasien M. Natsir

Kemudian keluarga mengambil inisiatif untuk memeriksa ke praktek Dokter Maimun. Menurut Dokter Maimun ada masalah di ginjal ayahnya. Menurut Novi, Dokter Maimun juga salah seorang dokter di RSUZA.

Saat melakukan cuci darah pertama di RSUZA tidak ada insiden apapun namun saat melakukan cuci darah kedua, tiba-tiba drop, rupanya saat diperiksa HBnya rendah sehingga harus dilakukan tranfusi darah. Rencananya tidak menginap, rupanya harus menginap karena harus menunggu stok darah.

“Namun hingga saat ini belum sadarkan diri. Siapa yang tidak terkejut diminta pulang dalam kondisi seperti ini, kalau memang tidak bisa ditangani lagi harus dijelaskan,” ujarnya.

Menanggapi beredarnya informasi tersebut, Direktur RSUZA, Fachrul Jamal, bersama beberapa dokter lainnya mengundang wartawan untuk menggelar konferensi pers di salah satu ruang di rumah sakit tersebut. Kamis (21/2/2018).

Menurut Fachrul Jamal, tidak ada dokter di RSUZA yang memaksa pasien untuk pulang seperti informasi yang beredar luas di grup-grup WhasApp apalagi dilakukan oleh seorang dokter Masra Lena.

“Itu tidak pernah ada dan tidak akan pernah ada, karena kami di sini untuk mengurus pasien,” jelasnya.

Jika pun ada, katanya, hal itu hanya terjadi terhadap kondisi-kondisi tertentu yang pasien menurut keluarga belum sembuh, namun menurut perkiraan medis pasien tersebut sudah bisa dilakukan rawat di rumah (home care) dengan berbagai macam persyarakatan yang harus dipenuhi lebih dulu.

“Karena saat saya tanyakan kepada Dokter Masra Lena mengaku tidak pernah menyuruh, perawat juga tidak. Mungkin staf dokter Masra Lena. Apalagi yang disampaikana adalah laki-laki,” katanya.

Fachrul menduga, yang disampaikan oleh staf tersebut salah difahami oleh keluarga pasian. “Mungkin disampaikan bahwa pasien ini udah bisa pulang. Dan informasi inilah yang membuat keluarganya gelisah,” jelasnya.

Apalagi, katanya, dengan kondisi pasien yang belum sadarkan diri dan masih harus cuci darah. Padahal, katanya, saat ini ada 150 orang di Banda Aceh yang sedang melakukan cuci darah di RSUZA. “Cuci darah itu tidak ada masalah, kapanpun bisa dilakukan pencucian darah,” tuturnya.

Terkait kondisi pasien yang belum sadar, menurut Fachrul untuk kondisi pasien yang juga menderita stroke tidak ada batas waktu kapan akan sadar kembali. Asalkan kondisi pasien tidak memburuk, misalnya tekanan darah tidak naik-turun setiap harinya dan gula darah tidak-naik turun, suhunya tidak naik-turun.

“Artinya, jika stabil maka pasien itu bisa dirawat di rumah meskipun tidak sadar. Jadi informasi kita pulangkan paksa itu tidak benar,” katanya. Untuk diketahui pasien hingga saat ini masih di rawat di RSUZA.[]