Brutus di Lingkar Kekuasaan

ilustrasi. Foto dikutip dari internet.

Diilustrasikan oleh pensyarah kisah, dalam sebuah hajatan besar di Negeri Anchem, menjelang pemilihan raya kepala negeri, muncullah seorang pemuda yang setiap hari bercerita bahwa Wender tidaklah akan menang melawan dominasi Daker. Lelaki itu bahkan meminta seseorang untuk memotong telunjuknya bila Wender mampu memenangkan pertarungan menuju kekuasaan.

Hingga akhirnya pemilihan raya usai digelar, Wender menang dengan angka fantastis, pemuda itu hilang untuk sementara waktu. Namun, tiba-tiba kala Wender usai dilantik oleh Majelis Raya Rakyat Semesta (MRRS), sang pemuda kembali muncul. Jabatannya tidak main-main, sebagai juru nasehat siyasah Paduka Yang Mulia Negeri Anchem, Wender.

tercenganglah seluruh isi negeri. Seseorang yang selama ini dikenal sebagai sosok yang antipati terhadap Wender, tiba-tiba berada di ketiak kekuasaan, dan bisa menjulur lidah peunyet-nyet terhadap siapa saja yang selama ini telah berdarah-darah mengantarkan Wender ke singgasana.

Sebagai juru nasehat siyasah, awalnya performa sang pemuda masih aman-aman saja. Ia mampu tampil sebagai juru haba Wender untuk beberapa urusan. Namun pelan-pelan, ia mulai memainkan politik devide et impera. Satu persatu orang-orang yang selama ini berjasa mengantarkan Wender ke tampuk kekuasaan, terjungkal keluar arena. Segala tetua, muda dan belia yang berdarah-darah berjuang demi Wender, meujungkat iku ditendang ke luar ring. Wender dikurung dalam jala yang tidak bisa disentuh.

Wender hanya bisa diakses oleh orang tertentu. satu persatu kolega politik sang pemuda merapat. Tersenyum manis sembari menikmati espreso bersama Wender. mereka terbahak-bahak dalam gelombang kekuasaan yang penuh syahwat duniawi. Orang-orang yang sebelum pemilihan raya adalah individu yang membangun image buruk untuk Wender, kini mesra bersama sang penguasa negeri Anchem.

***
Kesalahan terbesar Julius Caesar adalah memaafkan Markus Yunius Brutus (85 – 42 SM), atau Quintus Servilius Caepio Brutus, adalah seorang senator Romawi yang dikenal oleh dunia modern sebagai pemimpin konspirasi pembunuhan Julius Caesar.

Dalam riwayat disebutkan, Brutus merupakan mantan asisten Cato, Gubernur Siprus yang pada tahun 49 SM pernah ikut bersama Pompey ke Yunani untuk membantu melawan Caesar. Akan tetapi, pada akhirnya Caesar memaafkan lelaki itu. Hingga pada 44 SM Brutus bersama beberapa senator lainnya, berhasil membunuh Caesar.

Membiarkan Brutus hidup dan berada di lingkar keuasaan, merupakan kesalahan terbesar Caesar. Ia terlalu cepat memaafkan Brutus yang secara terang-terangan pernah mencoba menyerang kedaulatan dirinya. Mungkin, untuk memaafkan sang Brutus, Caesar telah mendepak orang yang tidak sepakat.

Politik dan kekuasaan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Kekuasan kerap memabukkan, sehingga gagal membedakan mana kawan dan mana lawan. Seseorang yang awalnya berjuang mati-matian memenangkan seseorang menuju kekuasaan, kerap segera terdepak dari ring-ring penting, hanya karena selalu mengingatkan penguasa agar tetap pada jalur yang sedang diperjuangkan.

Sedangkan para brutus–Nama Brutus kemudian menjadi kata lain untuk menyebut bube dua jab atau pengkhianat– akan selalu tampil dengan gagah perwira dan menawarkan madu. Mereka akan sepakat dengan apapun keputusan sang penguasa. Mulut mereka selalu siap untuk memuji, menyanjung serta sesekali menghidu kentut penguasa. pelayanan mereka full.

Tapi, brutus tetaplah brutus. Sudah menjadi tabiat bahwa tugasnya adalah mengeruk madu sebanyak-banyaknya dan kemudian mengaduk-aduk penguasa, agar terjadi kekacauan. Ke dalam ia memfitnah, ke luar ia mengadu domba.

***
Hampir semua peradaban besar dunia runtuh dan wibawa penguasanya hancur, karena sang penguasa terlena dengan pujian para brutus. Mereka terperdaya dengan segala tipudaya brutus, sehingga lupa pada tujuan yang sesungguhnya.

Bila kekuasaan telah runtuh, para brutus pun menghilang dan muncul di kekuasaan lainnya, dengan gaya yang sama, serta tujuan yang sama. Mereka takkan pernah dibenci zaman, bilapun dimaki hanya terdengar sayup-sayup. []