Sabang, Pulau Penuh Rindu

Sabang itu selalu membuat rindu. Lima tahun di sana bertugas, rasa-rasanya seperti kemarin saja. Selalu terkenang mendalam di hati.

Malam itu, saya memberitahu anak-anak, agar bersiap diri pergi ke Sabang. Mereka melompat-lompat girang, khususnya Yasmina yang besar di sana. Dia sebut satu-persatu orang yang ingin dijumpai. Rata-rata kawan-kawan yang pernah di pendopo, dan yang sering mendampingi kami saat bertugas di sana.

Pagi-pagi diantar oleh mertua, kami ke Uleelheu. Pelabuhan sudah bagus, ada halte trans Kutaradja. Lobby terminal terlihat gagah. Kami antri beli tiket. Walau loketnya kurang nyaman, tapi pelayanannya bagus, dan sistem ticketing sudah rapi. Kami masuk ke kapal yang juga bagus. Sebagian besar penumpang sudah berusaha duduk di tempat yang tertera di tiket. Sudah teratur.

Yang sedikit mengganggu, penjual makanan seperti martabak dan salak yang naiknya bersamaan dengan penumpang. Bagusnya ada sedikit jeda sehingga penumpang bisa naik dengan lancar.

Sesampai di Balohan Sabang, keadaan tidak berubah, namun infrastruktur semakin baik. Ada terminal yang rapi, dengan bank dan kantin. Wajah-wajah ramah yang telah lama kami kenal silih berganti bermunculan, berjabatan tangan dan menyapa. Semua masih memanggil ‘Pak Wali’.

Dari Balohan kami menuju kota. Jalan tanjakan semen terlihat terawat rapi. Lembu tidak nampak di jalanan. Bunga-bunga warna-warni mekar dengan indah. Sabang terlihat semakin baik dan terawat.

Sesampai ke kota, anak-anak minta makan. Pertama saya tawarkan mie sedap. Sejenis mie kocok dengan tuna cincang yang enak sekali rasanya. Tapi pasukan menolaknya. Alasannya selalu kalau ke Sabang makan itu.

Kami pergi ke Tapak Gajah, makan mie bakso ikan, bakso Pak Janggot. Warungnya kecil sekali, namun karena sedapnya, kami berlima masing-masing menghabiskan dua mangkuk.

Dari sana, kami ke penginapan, Sabang Guest House namanya. Rumah peninggalan Belanda yang disulap menjadi home stay. Bersih, rapi, dan menyenangkan. Kami sekeluarga sering singgah di sini, terasa seperti rumah sendiri.

Setelah menukar pakaian, kami langsung menuju pantai Gapang. Masih seperti biasa, alami sekali, air laut bersih sebening crystal clear. Kami pun mandi dengan penuh riang gembira. Di Gapang ada dive center lumba-lumba, sebelahnya ada beberapa tempat milik orang Jepang dan Spanyol. Puluhan turis dari mancanegara terlihat santai duduk dan sebagian sedang siap-siap diving ke laut.

Saat kami mandi, hujan turun, kami berhenti sebentar sambil makan makanan. Ada beberapa turis duduk, kami bertegur-sapa. Ada beberapa orang Perancis asal Arab, kami ajak berbicara. Agak terbata bicaranya, karena asal dari Marokko tapi sudah sangat lama di Perancis.

Saat hujan sudah ‘pirang’, kami melanjutkan mandi. Lagi-lagi sedang guling-guling diterpa ombak, seorang ibu lewat. Kami saling tegur. Rupanya ibu itu orang Leeds, utara Inggris, sedang marah dengan negerinya karena Brexit, dan sedang apply untuk menjadi warga negara Perancis.

Lepas mandi, diselingi makan ringan dan kelapa muda, tanpa bersalin, kami menuju Teupin Layeu, Iboih. Menuju penginapan Fina milik bang Fikar seorang sahabat lama. Setelah mandi dan ganti baju dan salat, kami duduk bersama menghadap laut, menikmati senja dengan pemandangan pulau Rubiah yang indah dengan boat yang lalu-lalang.

Habis magrib, rupanya kami dijamu dengan ikan bakar. Satu ikan ‘geureupóh’ besar yang dipanggang dengan satunya lagi ikan ‘keurapee’ yang dimasak asam pedas.

Tidak banyak basa-basi, langsung kami kosongkan apa yang di atas meja.

Lepas itu kami balik ke kota. Minum kopi di kedai Hery, sebelah museum Sabang. Kopinya enak, suasana ramai. Ada beberapa pejabat yang pernah bersama kami juga turut mengopi.

Setelah beberapa jam mengobrol, kami menutup hari dengan beristirahat. Malam-malam kami makan salak kiriman Pak Camat Balohan, dan kedondong kiriman seorang kawan lama.

Hari kedua:

Selepas bangun pagi, kami berjalan kaki, jongging. Dari hotel melewati rumah sakit, sampai ke Paradiso, dan berjalan sepanjang pantai. Udara segar, angin laut menyegarkan. Setelah beberapa tahun, ini salah satu olah raga paling lama yang kami lakukan.

Lepas jalan kaki, kami kembali ke penginapan. Anak-anak mandi, saya menyusuri jalanan di daerah Ie Meulee dan Cot Bak U. Ada jalan baru dekat stadiun. Pemandangan indah, laut dari atas bukit.

Setelah menjemput anak-anak, kami menuju Pria Laot. Di sana, ada sebuah kuburan keramat. Saat mau dilantik dulu, kami ditepung-tawari oleh masyarakat dekat kuburan itu. Kami ke sana bukan lewat jalan biasa. Kami turun lewat Teupin Ceuriek, ke Krueng Raya. Dari sana kami ke Ujong Sikeundo, yang diganti nama menjadi Ilham Syukran. Kawasan itu mempunyai pemandangan sangat indah, terlihat laut dari berbagai sisi. Sebelah kanan kami adalah pemandangan pulau Klah. Di kiri kanan jalan, banyak tanaman, khususnya pohon cengkeh yang besar-besar dan berbuah lebat.

Sesampai ke Pria Laot, setelah berdoa untuk almarhum ulama itu, kami menuju Alue Jaba lewat jalan baru. Sabang banyak kemajuannya, ada jalan-jalan baru dibuka untuk memudahkan petani berkebun.

Alue Jaba masih juga seperti dahulu. Banyak mengalir air bersih. Ada sepokok batang ‘kupu’ di sana. Buahnya merah, keasam-asaman. Dulu kami sering petik buah itu. Rupanya sedang berbuah lebat. Anak-anak sangat suka.

Dari Alue Jaba, kami ke pantai Pasir Putih di Paya Keuneukai.

Pantai bersih dan indah. Ada taman di sana dan kamar mandi yang dibangun kementerian PUPR. Anak-anak membasahkan kaki di laut.

Dari Pasir Putih, kami ke kota lewat Balohan dan salat Jumat di mesjid Balohan. Dari Balohan kami makan siang di Kencana. Dulu warung kecil dari kayu, sekarang menjadi restoran bagus. Masakannya masih sama seperti dulu. Sedap sekali.

Dari sana, kami ke arah Mata Ie. Ada resort bagus dulu namanya Fladeo, sekarang bernama Mata Ie Resort. Kami ke sana ke kolam renang. Anak-anak mandi dengan puas. Saat di sana, banyak kenalan yang datang bersilaturrahmi.

Habis magrib dilanjutkan lagi dengan duduk-duduk dengan kawan-kawan di Sabang sampai dini hari.

Hari Ketiga

Pagi-pagi kami keliling, rencana mau naik boat kaca yang biasa keliling pulau Rubiah. Anak-anak berencana mau memancing. Ada boat kawan, akhirnya kami berangkat dari Pasiran. Dari dermaga Pasiran kami mengelilingi Pulau Klah, dari sana ke perairan Pria Laot. Kami sempat berhenti dan memancing ikan. Air agak gelap, tidak terang seperti biasa. Dapat satu ikan ‘keurapee’ kecil. Dari sana kami menuju kawasan hydrothermal, sebuah daerah yang lautnya mengeluarkan buih-buih air panas di dalam laut.

Setelah beberapa menit melihat pemandangan air panas di dalam laut, kami menuju kawasan Gapang dan sempat berputar di daerah Lhok Weng. Ada dermaga di sana, sangat bagus. Dari sana kami mengelilingi pulau Rubiah. Kemudian kembali ke kota.

Dari kota kami ke Paya Karieng, sebuah pemukiman di samping sebuah telaga kecil. Singgah di rumah mamak Paya Karieng. Sempat tidur beberapa menit karena kecapean. Bangun tidur, sudah tersedia makanan. Ada ayam kampung dimasak kari, udang tumis, telur asin, mihun, masya Allah enaknya.

Kami makan dengan lahap. Selepas itu balik ke kota dan bersilaturrahmi ke rumah kawan-kawan.

Rasanya ingin berlama-lama di pulau indah ini, namun setelah tiga hari kami harus kembali ke Banda Aceh.

KOMENTAR FACEBOOK