Tiyong: Mainkan Logical Fallacy, Nurzahri Panik

Samsul Bahri bin Amiren alias Tiyong. Anggota DPRA. Foto: Beritaaceh.

ACEHTREND.CO, Banda Aceh- Ketua Harian DPP Partai Nanggroe Aceh –dulunya Partai Nasional Aceh– (PNA) Samsul Bahri bin Amiren alias Tiyong, Kamis (1/2/2018) mengatakan politikus Partai Aceh (PA) Nurzahri panik sehingga memainkan isu-isu lain tanggapan dirinya selaku kader PNSA terhadap logical fallacy yang dimainkan alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) bahwa Irwandi telah abuse of power.

“Reaksi negatif dari saudara Nurzahri dalam merespon pernyataan saya sebelumnya bahwa dia telah melakukan upaya Logical Fallacy terkait wacana Pergub APBA, menunjukkan yang bersangkutan telah bersikap tidak gentlement. Dia tidak punya dalil dan alibi yang kuat untuk membantah indikasi telah memainkan upaya penyesatan logika. Karena tak punya argumentasi yang substantif, dia hanya bisa mempersoalkan ketidak hadiran saya dalam rapat di Banggar,” ujar Tiyong melalui rilis persnya.

Dalam kesempatan itu, Tiyong juga mengatakan, akibat terlalu panik, akhirnya Nurzahri hanya membuat pernyataan yang cenderung tendensius. Padahal itu tidak lebih sekedar upaya buang badan karena ketidakmampuannya memberikan klarifikasi, terkait tudingan abuse of power oleh Gubernur Irwandi Yusuf. Atas fakta tersebut semakin meneguhkan bahwa sinyalemen sesat logika tersebut benar adanya.

Satu lagi bukti sikap tendensius Nurzahri jelas terlihat dalam pernyataannya yang menuduh Irwandi telah bersikap otoriter. Parameter apa yang digunakan oleh dia sehingga berani berkesimpulan Gubernur telah berlaku otoriter? Kalau soal surat Gubernur kepada pimpinan DPRA terkait masa pembahasan RAPBA yang akan berakhir, itu kan sifatnya pemberitahuan. Surat pemberitahuan kok disebut otoriter? Dugaan saya, dalam merespon setiap kebijakan eksekutif, saudara Nurzahri terlalu mengedepankan sikap apriori. Sehingga tak heran selama ini statemennya selalu diwarnai berbagai prasangka yang tidak mendasar,” katanya.

Tiyong mengatakan, Pernyataan Nurzahri sebelumnya terkait abuse of power dan sikap otoriter Gubernur Irwandi Yusuf tidaklah layak disebut sebagai sebuah kritik. Tuduhan serius tersebut lebih mengarah pada upaya serangan politik secara membabi buta kepada Gubernur.

Saat panik langsung bikin statement, makanya jadi tidak terukur. Saya menghimbau saudara Nurzahri, lain kali sebelum mengeluarkan statement agar pelajari dulu apa yang mau disampaikan. Agar ketika disanggah oleh pihak lain masih punya stok penjelasan secara substansial, jangan berubah jadi tendensius. Berdebat lah menggunakan argumen, jangan pakai sentimen,” katanya.

Mengenai ikhwal pembelaan Tiyong terhadap Gubernur Irwandi seperti yang disebutkan oleh Nurzahri, merupakan sikap yang normal saja ketika dirinya sebagai kader partai membela kehormatan Ketua Umum. Pembelaan Tiyong pun masih dalam koridor sikap yang objektif. Konteksnya hanya untuk meluruskan kekeliruan argumentasi Nurzahri agar tidak menimbulkan mispersepsi di hadapan publik.

“Bukankah seorang Nurzahri dan teman-teman anggota DPRA lainya dari Fraksi PA sebelumnya juga selalu membela Wagub Muzakkir Manaf ketika masih berkuasa. Mualem waktu itu kan eksekutif juga? Kenapa dibela kalau logikanya DPRA tidak punya tugas untuk membela eksekutif? Jangan standar ganda lah,” katanya.

Prinsipnya, Tiyong menghargai hak berpendapat setiap anggota DPRA. Apalagi pendapat Nurzahri. Namun dirinya mengajak semua pihak untuk menghindari pernyataan-pernyataan yang bersifat provokatif dan konfrontatif. Hal demikian hanya akan membuat kebingungan serta sikap pro dan kontra di tengah masyarakat.

“Mari kita kesampingkan sedikit ego pribadi dan kelompok untuk bisa lebih peka memahami keinginan rakyat. Ingat, yang diinginkan oleh rakyat saat ini adalah APBA segera disahkan. Mereka tak mau tau pakai Qanun atau Pergub,” imbuhnya.