Anak Pemodal Pesawat Garuda Pertama Tagih Utang ke Negara

ACEHTREND.CO, Meulaboh- Maksum (60), warga Gampong Alue Tampak, Kecamatan Kaway XVI, Kabupaten Aceh Barat masih menyimpan bukti bahwa negara pernah meminjam uang kepada orang tuanya almarhum Makbidin untuk membeli pesawat garuda pertama Indonesia pada tahun 1950.

Besaran uang pinjaman nasional tertera dalam bukti tanda terima sebesar Rp 4.500. Transaksinya terjadi pada Tanggal 25 Agustus 1950 yang ditanda-tangani oleh Bupati Kabupaten, Wedana, Kewedanaan serta juga dibubuhi stempel.

“Masih ingat sekali amanah dari orang tua saya sebelum ia meninggal. Ayah mengatakan. Nak, ayah sekarang sudah tidak punya harta apa-apa, yang ada hanya bukti ini. Simpanlah, ini pimjaman pemerintah, nanti akan dibayar” kata Maksum, mengulang peryataan almarhum ayahnya, Sabtu (17/3/2018) di rumahnya desa Alue Tampak, Kecamatan Kaway XVI, Aceh Barat.

Dari penjelasan almarhum ayahnya, Maksum kembali menceritakan, untuk mengumpulkan uang sebanyak Rp 4.500 ayahnya dulu menjual tanah di dua lokasi yang berbeda. Pertama tanah sawah di Gampong Pasi Manyang yang sekarang sudah menjadi Gampong Alue Tampak.

Kemudian ayahnya dulu juga menjual tanah darat yang berlokasi di wilayah Gampong Rondeng, Kecamatan Johan Pahlwan. Terakhir ayahnya menjual sebanyak 15 ekor ternak kerbau.

“Ayah saya menjual tanah serta 15 ekor kerbau. Satu ekor kerbau saat itu masih harga seratus rupiah. Bayangkan seorang berapa,” kata Maksum.

Maksum mengatakan, surat bukti hutang negara tersebut telah diberikan kuasa kepada dirinya oleh almarhum, dengan tujuan agar dirinya menagih utang tersebut kepada pemerintah.

“Dulu negara ini masih miskin. Negara kita baru merdeka. Maka ayah ikut membantu, saat itu untuk membeli kapal terbang (pesawat garuda pertama). Tapi jangan salah ya, menurut cerita ayah saya rakyat yang membatu dulu ada dua macam. Ada memberi dalam bentuk sumbangan, dan pula dalam bentuk utang. Kalau yang ayah ini dalam bentuk utang. Maka pemerintah wajib membayar yang berbentuk sumbangan ada juga ayah memberikan Rp 50, tapi ayah tidak mengambil buktinya,” kata Maksum.

Maksum mengharapkan pemerintah segera melunasi utang tersebut kepada dirinya. Setelah hampir dua kali 40 tahun tidak ada tanda-tanda pembayaran dari pemerintah Indonesia.

Ia menyebutkan, mengenai teknis perhitungan dan pembayaran, pihaknya akan menyerahkan kepada pihak terkait. Ia memperkirakan jika dihitung dengan tingkat rupiah atau nilai jual sekarang, utangnya itu mencapai angka milyaran rupiah.

“Seharusnya sekitar tahun 90-an sudah dibayar. Wasiat ayah dulu dibayarnya selama 40 tahun. Sekarang apa lagi. Ini sudah hampir dua kali 40 tahun. Kenapa pemerintah tidak membayar,” kata Maksum.[]

KOMENTAR FACEBOOK