Menolak RS Siloam Hadir di Aceh

Oleh Irhas F. Jailani*)

Siloam namanya, Lippo Group pemiliknya. Bagi insan intelektual, Lippo Group sama sekali tidak asing. Simposium bisnis ini dikenal dengan figur utamanya Mochtar Riady, yang sudah terlanjur dilabeli sebagai pengusaha keturunan Cina yang sudah sangat sukses dan dianggap sebagai pemodal terbesar dalam kontestasi politik nasional. Kini perusahaan tersebut mulai menjajal Aceh sebagai lahan investasi bisnis di bidang kesehatan dengan anak perusahaan Siloam sebagai perpanjangan tangan perusahaan utama.

Aksi tersebut disambut masyarakat Aceh terutama Kota Banda Aceh dengan reaksi yang fanatik. Seperti yang lazim diketahui, masyarakat Aceh adalah komunitas yang dikenal fanatik terhadap agama Islam. Masyarakat Aceh, walaupun tidak semuanya taat akan ajaran Islam namun siap mati ketika agama Islam disentuh kedaulatannya. Dalam kasus ini, bangunan eks mall yang berada di kawasan Beurawe akan dibangun rumah sakit swasta. Yang menjadi titik fokus kesan pertama masyarakat Aceh ketika melihat logo RS Siloam adalah lambang salib yang identik dengan agama Kristen. Respon reaktif tersebut agaknya terlalu berlebihan mengingat ada beberapa instrumen medis yang berlogokan palang salib seperti ambulans dan tentu saja Palang Merah Indonesia.
Selama ini, mayoritas masyarakat Islam Aceh terjebak dalam perangkap semiotis. Terperangkap dalam jerat simbol-simbol ini tentu berbahaya sekali dalam kehidupan bermasyarakat. Bisa saja kita mengabaikan dan melupakan substansi sesuatu sehingga kebenaran bisa disalahkan dan kejumudan dilestarikan.

Sebagai umat Islam yang hidup di zaman modern tentu saja kemampuan menjawab tantangan zaman itu sendiri menggunakan nilai-nilai Islam adalah sebuah keharusan. Lippo Group dengan Siloam sebagai utusannya di Aceh adalah simbol “Qarun” atau kapitalisme. Tentu saja kapitalisme sangat bertentangan dengan Islam, hal ini dibuktikan dengan penindasan negara-negara dunia pertama dengan ideologi kapitalismenya membelenggu negara-negara dunia kedua yang mayoritas berada di benua Asia dan negara-negara dunia ketiga yang berada di benua Afrika. Menurut Said Muniruddin dalam buku Bintang ‘Arasy, seiring perkembangannya ideologi ini berubah menjadi “tuhan-tuhan” kecil dan disembah lalu dipatuhi oleh penganut ideologi tersebut. Substansi persaksian primordial manusia(Al-A’raf:172) adalah membebaskan diri dari belengggu-belenggu selain Tuhan. Sehingga menerima kapitalisme berarti menduakan Tuhan yang Maha Esa atau lebih dikenal dengan istilah syirik. Sehingga penindasan yang dilakukan oleh belenggu-belenggu tersebut terhadap manusia adalah thagut yang harus dilawan.

Penolakan RS Siloam sejatinya adalah penolakan terhadap thagut yang menindas bukan simbol salib. Kehadiran RS akan mengakibatkan ketimpangan dalam masyarakat. Masyarakat kalangan ekonomi menengah ke atas tentu saja akan memilih pelayanan premium sekelas RS Siloam. Penggunaan layanan kesehatan swasta tersebut mengakibatkan bertambahnya kekayaan yang sudah ditumpuk oleh Lippo Group. Selain itu, migrasi penggunaan layanan kesehatan yang seharusnya menjadi tanggung jawab negara akan mengubah tatanan sosial. RS konvensional akan dicap sebagai rumah sakit rakyat di bawah garis kemapanan dan menghadirkan ketidakadilan sosial dalam kehidupan masyarakat.

Pada akhirnya, sudah menjadi sebuah keharusan bagi masyarakat untuk membaca tanda-tanda dan tidak terhisap dalam pasir hisap yang penuh dengan tanda-tanda. Citra masyarakat madani adalah masyarakat yang tercerahkan. Tarbiyah atau pendidikan adalah modal utama untuk mencapai masyarakat cita. Semoga suatu saat kita semua bisa mencicipi lezatnya berkehidupan dalam masyarakat madani. Semoga.

*Penulis adalah Sekretaris Umum Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unsyiah periode 2015/2016 dan Sekretaris Umum HMI Komisariat FKIP Unsyiah periode 2017/2018 serta Instruktur di HMI Cabang Banda Aceh.

Foto: Wikipedia.

KOMENTAR FACEBOOK