Sejarah Singkat Penyebutan Cina di Indonesia

Oleh Azmi Abubakar*)

48 tahun lamanya (1966-2014) kita sebagai bangsa, dipaksa untuk menyebut “Cina” bagi saudara kita dari etnis Tionghoa.Etnis Tionghoa sudah bermukim selama beberapa generasi di berbagai daerah di Indonesia.

Semenjak awal 1900an sebutan “Orang Tionghoa” untuk menunjuk kepada anggota etnis Tionghoa, sudah lazim digunakan. Pada masa Orde Baru-lah istilah “Orang Tionghoa” ini berubah menjadi “Orang Cina”.

Sampai akhir tahun 1966, kebanyakan surat kabar maupun media lainnya, masih menggunakan istilah Tionghoa.
Puncaknya, pada tanggal 25 Juli 1967, Pemerintah Orde Baru ( melalui surat edaran Presidium Kabinet Ampera tanggal 28 Juni 1967) secara resmi menentukan penggunaan istilah “Cina” tanpa membedakan antara yang asing dan warga negara Indonesia. Patut dicatat bahwa harian Indonesia Raya dari Mochtar Lubis, sejak terbit kembali pada tahun 1968 sampai dihentikannya pada tahun 1974, secara konsisten memakai istilah Tionghoa.

Istilah “Cina” yang ditetapkan pada tahun 1966 oleh Orde Baru jelas mengandung konotasi menghina, merendahkan, yang sebenarnya tidak pernah diakui secara terbuka, atau dalam pandangan saya, sebutan Cina ini digunakan untuk menimbulkan kesan “memisahkan” etnis Tionghoa dari etnis lainnya di Indonesia.

Pada tahun 2014, ketika Presiden SBY berkuasa, kebijakan (menurut saya, kejahatan tepatnya) pada masa Presiden Soeharto, telah dicabut melalui Keputusan Presiden No.12 tahun 2014. Istilah Tionghoa dan Tiongkok kembali diberlakukan untuk mengganti istilah Orang Cina dan Negara Cina.

Tidaklah mudah untuk membiasakan diri menyebut kembali istilah “Tionghoa”, setelah sekian lama (sejak 1966) istilah “Cina” menjadi kebiasaan yang dipaksakan dalam kehidupan sehari-hari. Perlahan namun pasti, kita pasti bisa mengubahnya, marilah kita saling mengingatkan.

*)Penulis adalah putra Aceh yang mengelola Museum Peranakan Tionghoa di Jakarta. Intelektual yang mengabdikan diri sepenuhnya pada ilmu pengetahuan.

Sumber: Bahasa dan Politik Rekayasa Pada Zaman Orde Baru Soeharto ( Dalam buku Kajian Serba Linguistik, editor Bambang Kaswanti Purwo) oleh Dr Mely G.Tan.
Koleksi Museum Pustaka Peranakan Tionghoa.

Catatan: Tulisan ini dikutip oleh redaksi dari status Facebook yang bersangkutan. Termasuk juga foto yang dipublish.

KOMENTAR FACEBOOK