Literasi Media Untuk Cegah Radikalisme

ACEHTREND.CO, Banda Aceh: Radikalisme merupakan fenomena yang membutuhkan penangganan serius dan langkah antisipatif yang cermat, salah satunya dari sisi pemberdayaan kelompok rentan terhadap konsumsi media terutama kaum muda.

Hal tersebut disampaikan oleh pakar komunikasi FISIP Unsyiah, Rahmat Saleh, M.Comm sebagai pemateri pada acara workshop dengan tema Metode Komunikasi dan Bahaya Kelompok Radikal Untuk NKRI di di Aula Serba Guna Polda Aceh, Banda Aceh, Kamis (22/3).

“Faktanya radikalisme mengincar kaum muda sebagai sasaran rekruitmen, oleh karena itu penting sekali untuk membekali mereka dengan pemahaman yang baik dan benar tentang media dan konsumsi konten media. Literasi media berkontribusi untuk mencegah radikalisme”, ujar Rahmat.

Menurutnya, literasi media termasuk literasi digital mutlak diperlukan mengingat Indonesia memiliki jumlah media terbesar di dunia.

“Data Dewan Pers menunjukan bahwa Indonesia memiliki 47.000 media dan khusus mengenai media online, dari 43.000 media, hanya 234 media yang memenuhi syarat UU Pers. Bayangkan apa jadinya kalau sumber informasi yang begitu berlimpah kemudian disusupi dengan pemikiran-pemikian radikal yang mengancam keutuhan NKRI”, kata dosen Jurusan Komunikasi FISIP Unsyiah.

Rahmat menggambarkan Indonesia termasuk pengguna media sosial yang besar dan aktif, sementara karakteristik netizen Indonesia itu ibarat orang yang sangat haus dan lapar akan informasi, “semuanya langsung ditelan tanpa sempat dikunyah dengan baik, dan lebih parah lagi cenderung latah untuk me-repost informasi yang belum tentu benar atau justru Hoax”, paparnya.

Dalam kesempatan itu, Rahmat yang juga pernah menjabat sebagai Komisioner Komisi Penyiaran (KPI) Aceh, mengingatkan penting sekali untuk “membumikan Pancasila” terutama dikalangan pelajar, mahasiswa dan pemuda.

“Pacasila semestinya bukan semata-mata untuk dihafal saja tetapi mampu dipahami, dihayati dan diamalkan dalam keseharian. Nah, diperlukan cara-cara yang kekinian supaya anak muda terutama generasi milenial dapat memahami Pancasila dengan lebih mudah dan menyenangkan”, tegasnya.

Pada sesi akhir pemaparannya Rahmat mengungkapkan bahwa radikalisme saat ini juga harus direspon dengan merangkai pesan-pesan yang lebih kreatif untuk memunculkan deradikalisasi.

“Pesan-pesan melawan radikalisme perlu dibuat sekreatif mungkin dan menyentuh sisi sanubari anak-anak milenial karena mereka lah yang menjadi sasaran empuk gerakan radikal”, tutupnya.

Acara tersebut dihadiri oleh ratusan peserta dari pihak kepolisian dan diisi oleh pemateri dari Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh serta Badan Kesbangpolinmas Aceh.

KOMENTAR FACEBOOK