Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, Mahyuddin Adan Meninggal dalam Pesawat

Mahyuddin Mahmud Adan penulis buku Mendekap Damai Aceh (kanan) bersama Saifuddin Bantasyam pada acara bedah buku Mendekap Damai Aceh: To See The Reality di Sultan Selim Banda Aceh, Rabu (20/7). Mahyuddin adalah salah satu konektor perdamaian Aceh. Foto: ACEHKITA.

ACEHTREND.CO, Banda Aceh-Kabar duka datang menyentak, Mahyuddin Adan meninggal dunia. Dikabarkan, tokoh konektor perdamaian Aceh meninggal dunia kala berada dalam pesawat, beberapa menit jelang landing di Tanoh Serambi Mekkah, Senin (26/3/2018) pukul 08.45 WIB. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

Mahyuddin Adan, pria kelahiran Pidie 9 Agustus 1945 bukanlah sosok asing dalam kisah damai Aceh. Sudah umum diketahui, untuk merintis jalan damai Aceh, Mahyuddin Adan dikenal sebagai “Orangnya Jusuf Kalla.” Soalnya, bersama Dr. Dr. Farid Husain, Mahyuddin Adan menjalani tugas membangun jembatan dialog antara GAM dan RI sejak 2003.

Wajar saja jika Mahyuddin Adan memiliki koneksi dengan orang penting di luar Aceh. Sejak 1963, lelaki yang tampak kekar di usia tuanya sudah merantau untuk kuliah di ITB Bandung. Bahkan, sejak kuliah pula, Mahyuddin Adan sudah merintis jalur bisnis. Tidak tanggung-tanggung, koneksi bisnisnya hingga menjadi rekanan TNI/Polri di wilayah Jawa Barat.

Tapi, tentu saja bukan karena relasi bisnisnya lalu Jusuf Kalla memilihnya untuk memulai kerja merintis jalan damai. Mahyuddin Adan, sebagaimana pernah diakui oleh Farid Husain, adalah sosok yang paham dan kenal para petinggi GAM sehingga memungkinkan untuk melakukan perjalanan masuk dan keluar hutan bahkan pergi ke luar negeri untuk membangun keneksi RI dan GAM.

Meski begitu, Mahyuddin Adan tidak hanya melihat sisi damai Aceh sepenuhnya karena keberhasilan manusia. Kapada awak aceHTrend, penulis buku “Mendekap Damai Aceh: To See The Reality” pernah berkata bahwa “Perdamaian Aceh bukanlah semata-mata kepiawaian manusia…”.

Menariknya, sosok yang juga menjadi aktor pembebas tiga mantan GAM yang sudah 12 tahun dipenjara di Thailand ini pernah mengajak agar orang Aceh tidak sibuk dengan menyoal siapa aktor utama perdamaian melainkan mengajak semua orang Aceh untuk menjadi aktor utama dalam menjaga perdamaian Aceh.

Kepergian Mahyuddin Adan dalam pesawat seperti isyarat bahwa ada tugas konektor lebih tinggi yang akan dilakukkannya dalam penerbangan menghaadap Ilahi Rabbi. Semoga kelurga dan kita yang masih ada di Aceh dapat menjalankan pesannya, menjadi aktor menjaga perdamaian Aceh.

KOMENTAR FACEBOOK