Prostitusi Online dan “Kameng Landok”

Foto: veterantv.com

Selalu saja ada yang menarik di tanah ini. Setumpuk isu hilang, bertumpuk isu yang lain bermunculan. Terbang ke udara dan akhirnya menyebar menyisir setiap jengkal tanah yang digelari sebagai negeri syariat. Tanah ini tidak pernah sepi dari kebetulan-kebetulan yang disengaja dan rekayasa-rekayasa yang tak disadari. Dan kita pun larut dalam keasyikan itu.

Baru-baru ini, beranda media sosial kebanjiran informasi tentang prostitusi yang katanya telah sukses dibongkar. Temuan praktik prostitusi ini tidak hanya di satu tempat, tapi dia beranak pinak dan menyebar. Jika dulu praktik ini dilakukan secara “manual”, saat ini, seiring dengan kecanggihan teknologi informasi, ia pun menemukan wujudnya yang baru. Orang-orang menyebutnya sebagai prostitusi online.

Di alam digital seperti sekarang ini, proses migrasi prostitusi dari pola “manual” ke online tentu tidak dapat dibendung. Kita memang dituntut agar mampu menyesuaikan diri dengan guliran zaman agar kita tidak tergilas. Demikian pula dengan praktik prostitusi pun harus mengikut arus zaman, semakin lama semakin mudah.

Saat ini, sebagaimana telah kita lihat, hampir semua aktivitas dilakukan melalui online, mulai dari pengiriman surat (email), pemesanan tiket pesawat, ujian masuk pegawai negeri, penyebaran dakwah, permainan judi, dan berbagai aktivitas lainnya. Selain itu, kita juga sudah dikenalkan dengan ojek online yang bisa dipesan melalui aplikasi tertentu.

Dengan demikian, sebagai manusia online yang hidup di zaman online, kita tidak perlu pura-pura terkejut ketika mendengar adanya prostitusi online. Jika selama ini prostitusi online dilakukan via group WathsApp atau telpon, bukan tidak mungkin dalam beberapa hari ke depan akan ada aplikasi prostitusi yang bisa didownload gratis di internet. Kita tentu patut “berbangga” dengan capaian ini, sebab kita telah benar-benar “teronlinekan.”

Dalam kondisi inilah, teknologi telah benar-benar membantu manusia dalam segala lini. Jika dulu teknologi hanya mampu membantu para petani membajak sawah atau membantu para astronot terbang ke bulan, maka saat ini, teknologi telah mampu memuaskan birahi, tidak hanya melalui bayangan video film “Si Unyil” yang kita download di laman web tertentu, tapi saat ini kita sudah benar-benar bisa mengakses “boneka India” hanya dengan menekan tombol android dan keluarlah si “putih licin.”

Namun di balik semua itu, saya ingin menyapa beberapa oknum pengusaha dan pejabat kita yang kononnya (menurut informasi media), juga menjadi pelanggan tetap bagi para PSK yang sedang heboh baru-baru ini. Tentu kita semua merindukan wajah-wajah mereka terpampang di koran-koran, sebagaimana terpampangnya wajah-wajah PSK dengan kondisi “menyedihkan.” Kita juga ingin nama-nama mereka disebut dan disebar luas agar kita mudah mengenal mereka. Siapa tahu mereka bersedia membagi trik dengan kita terkait mekanisme mendapatkan si “putih licin.”

Sebagaimana kita ketahui, kebutuhan kita akan syariat adalah demi tegaknya keadilan. Tapi sayangnya, yang terjadi hari ini adalah ketidakadilan, di mana informasi tentang oknum PSK dan germo disebarluas, bahkan diviralkan. Sementara para pemburu birahi dan penjaja “gotgot panyang ulee alias kameng landok itu justru bebas bersembunyi, atau mungkin disembunyikan?

Kita selalu saja disuguhkan berita terkait pembongkaran praktik prostitusi di sana dan di sini. Uniknya yang berhasil dibongkar hanya pelaku prostitusi (PSK), sementara pasangannya para kameng landok nyaris tak pernah terbongkar. Jika pun terbongkar hanyalah dari kelas kameng pijuet (kelas bawah), sedangkan kameng tumbon (elit) selalu saja sukses “melompat pagar.”

PSK dan Kameng Landok

Dari ragam informasi yang disajikan media, kita terpaksa membuat kesimpulan bahwa latarbelakang kelahiran PSK disebabkan oleh faktor ekonomi dan juga minusnya pemahaman agama. Di sini patut dicatat bahwa kekeringan ekonomi, jika tidak dipagari oleh pemahaman agama, dapat menyebabkan seseorang terjerumus dalam kubang maksiat semisal PSK.

Nah, bagaimana dengan para kameng landok? Jika PSK bermaksiat karena keringnya ekonomi, sebaliknya para kameng landok justru bermaksiat karena suburnya ekonomi. Seperti dicatat beberapa media, biaya pemuas birahi itu tidak bisa didapatkan gratis, tapi butuh siraman rupiah, entah rupiah itu hasil kerja banting tulang, atau mungkin hasil mencoleng uang negara, kita tidak tahu.

Atau mungkin para oknum pejabat seperti disebut si germo yang tertangkap, sedang melakukan pemberdayaan ekonomi kepada para oknmum PSK? Jika dugaan ini benar, maka pola pemberdayaan ekonomi semacam ini patut diapresiasi sebab menyentuh langsung ke sasaran, tidak meleset, tapi melesat!

Pertanyaannya kemudian, dapatkan prostitusi dihilangkan? Pastinya ramai orang kita yang akan menjawab dengan serentak: “dapat.” Bagaimana caranya? Tentu akan ramai pula yang berteriak: “tangkap PSK, beri hukuman berat, kalau perlu arak di pusat-pusat kota dan rajam” dan serumpun jawaban lainnya.

Tapi pernahkah kita mengajukan pertanyaan pembanding, agar keadilan itu tegak? Mampukah kita bertanya bagaimana caranya memberantas para kameng landok dan mengurung gotgot panyang ulee dalam sangkar? Sejauh ini, nampaknya pertanyaan semacam ini nyaris tak pernah terdengar.

Padahal, sebuah market besar akan tutup dengan sendirinya jika tidak memiliki pelanggan. Sebagai contoh, dua market besar di daerah saya (Bireuen),terpaksa tutup karena sepi pengunjung walau pun barang dagangannya terbilang lengkap dan menarik.

Demikian juga dengan prostitusi, selama para kameng landok ini masih ada di Aceh, maka selama itu pula praktik prostitusi akan tumbuh subur. Prostitusi tidak akan pernah lenyap hanya dengan menangkap PSK, sebab pendatang-pendatang baru akan terus bermunculan jika kameng landok telah berkerumun.

Mari kenali kameng landok di sekitar kita. Atau (mungkin) kita sendiri kameng landok?

KOMENTAR FACEBOOK