Merawat Kenangan Perang Melalui Jejak Setapak di Tanah Rencong

Pelucnuran buku Jejak Setapak di Tanah Rekcong. Banda aceh, Rabu (29/3/2018). Foto: Masrian Mizani /aceHTrend.

ACEHTREND.CO, Banda Aceh – “Sejarah akan dilupakan kalau tidak ditulis, dan dalam buku ini sejarah ditulis secara mengalir dan segar dari versi para pelakunya.” Itulah sepenggal pesan singkat yang diukir oleh Siti Rahmah di spanduk berukuran 1×2 meter di tempat acara bedah buku “Jejak Setapak di Tanah Rencong” hasil karyanya.

Dalam penyampaiannya, Siti Rahmah mengatakan, pembuatan buku yang disajikan dalam bentuk pengungkapan tabir sejarah konflik Aceh itu membutuhkan waktu 10 tahun. Bilangan tahun yang demikian dipergunakan untuk mengumpulkan data dan riset terhadap perjalanan para tokoh di dalam karyanya itu. “Satu tema saya habiskan selama enam bulan melakukan riset,” ungkap Siti Rahmah di hadapan para tamu audien, Rabu (28/3/2018) di Gampong Pango, Kecamatan Ule Kareng, Banda Aceh.

Siti Rahmah menjelaskan, hadirnya karya keempat miliknya, sebagai pengingat akan pentingnya sejarah perjalanan konflik di tanah rencong. ”Dalam buku itu saya mencoba untuk mengungkapkan perjalanan tokoh-tokoh dan para aktivis Aceh yang ikut andil dalam proses perdamian Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan Negara Republik Indonesia. Di samping itu saya juga mengungkapkan sebuah pembuktian atas eksistensi inong bale (janda) dalam perjalanan konflik di tanah Serambi Mekah,” papar perempuan beranak satu tersebut.

Terakhir Siti Rahmah menyebutkan, selama terjadinya perdamaian gencatan senjata di Aceh, banyak para generasi muda Aceh “buta” sejarah disebabkan kurangnya pembukuan yang dilakukan oleh masyarakat Aceh itu sendiri.

“Semoga dengan hadirnya buku ini setidaknya bisa menjadi pedoman dan bahan bacaan bagi generasi muda Aceh yang kian luntur akan pengetahuan sejarah bangsanya sendiri,” pesan Siti Rahmah.

Sementara itu, Prof Yusni Sabi selaku akademisi dan juga orang yang ikut disirahkan dalam buku tersebut menyampaikan apresiasi terhadap Siti Rahmah yang sudah mau melakukan riset terhadap perjalanan konflik di Aceh. Menurut Yusni, siapapun generasi Aceh yang memiliki prestasi, maka patut untuk diberikan apresiasi.

“Saya berpesan kepada generasi Aceh, apabila Anda tidak mau dilupakan, maka tulislah sesuatu yang orang lain dapat membacanya. Sebab apa yang Anda tulis hari ini akan menjadi sejarah untuk lima sampai 10 tahun kedepan. Dan dalam buku yang dicetus oleh Siti Rahmah, saya mendapatkan sebuah daya tarik luar biasa, sebab dalam buku tersebut Siti Rahmah tidak menulis tentang sosok tokoh-tokoh besar, akan tetapi melainkan dia mencoba untuk mengungkapkan peran orang – orang kecil yang mampu membawa orang-orang besar di kala konflik melanda Aceh,” sebut Prof Yusni.

Kemudian Prof Yusni berpesan agar generasi Aceh memiliki buku tersebut, Sebab menurut Prof Yusni, buku karya Siti Rahmah tersebut diracik dengan sangat sederhana, namun memiliki makna yang sangat mendalam untuk melihat kilas balik sejarah perjalanan konflik Aceh.

“Sejarah adalah sumber pembelajaran terbesar. Konflik adalah maut, siapa saja boleh bermain untuk kepentingan pribadi di kala itu. Kini konflik sudah usai, maka mari kita belajar dari sejarah kelam. Untuk kedepan mari kita konflik dengan cara intelektual, diplomasi tanpa harus menggunakan senjata,” pesan Prof Yusni.

Acara yang berlangsung sejak pukul 15:00 WIB tersebut, juga ikut dihadiri oleh para pelaku sejarah dalam buku tersebut, di antaranya, Prof Yusni Sabi, Aktivis perempuan Aceh Cut Farah, Juru runding Teuku Kamaruzzaman (Ampon Man), sang penerjamah perdamaian Imran dan puluhan tamu undangan lainnya. [ ]

Keterangan poto;
Dari arah kiri ke kanan, Siti Rahmah, Cut Parah, Teuku Kamaruzzaman (Ampon Man) dan Prof. Yusni Sabi

KOMENTAR FACEBOOK