GAM, Partai Aceh & “Ancaman” Partai Nasional

 

ACEHTREND.CO, Banda Aceh- Pada pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak 2012, Partai Aceh keluar sebagai pemenang. Kala itu PA  mengusung pasangan Zaini Abdullah yang merupakan Menteri Luar Negeri Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Muzakir Manaf mantan Panglima Teuntra Neugara Aceh (TNA) yang setelah damai ditransformasikan ke dalam Komite Peralihan Aceh (KPA).

Kala itu, Zaini Abdullah-Muzakir Manaf (Zikir) berhasil unggul dari Incumbent Irwandi Yusuf, dengan perolehan suara 1.327.695  atau (55,75%) persen. Sedangkan Irwandi Yusuf-Muhyan Yunan yang maju dari jalur perseorangan (jalur independen) memperoleh suara 694.515 atau 29,18 persen. Walau sempat menggugat, karena pilkada kala itu penuh dengan kekerasan, Irwandi tidak mampu “membatalkan” kemenangan PA yang mampu meraih angka gilang gemilang.

Di sisi lain, mantan wakil Irwandi, Muhammad Nazar yang maju dengan Nova Iriansyah, hanya mampu mengumpulkan dukungan rakyat sebesar 182.876 suara atau 7,65 persen. Kala itu pasangan ini diusung Partai Demokrat, PPP dan SIRA.

Kemudian Pasangan Prof Darni M. Daud _Ahmad Fauzi dan Teungku Ahmad Tajuddin-T Suriansyah masing-masing 96.767 suara (4,07 persen) dan 79.330 suara (3,33 persen). Kedua pasangan ini maju melalui jalur perseorangan.

***

Pada Pilkada 2017 dukungan terhadap PA merosot, Partai Aceh yang mengusung Muzakir Manaf –TA Khalid pada saat itu berada di urutan kedua perolehan suara terbanyak dengan jumlah 766.427 suara dari enam pasangan calon.

Kali ini, dominasi PA kembali disalib oleh Irwandi-Nova Iriansyah yang diusung Partai Demokrat dan beberapa partai politik lainnya. Mereka berhasil mengumpulkan suara yang mencapai 898.710 suara dari 2,4 juta lebih suara sah.

Kemudian diikuti pasangan Tarmizi Karim – T. Maksalmina Ali dengan perolehan suara 865 suara.

Berikutnya pasangan Zaini Abdullah – Nazaruddin yang hanya memperoleh 167.910 suara, pasangan Zakaria Saman – T. Alaidinsyah 132.981 suara dan Abdullah Puteh – Said Mustafa 14.908 suara.

***

Sejak pilkadasung 2006, personal-personal dari rahim Gerakan Aceh Merdeka (GAM) terus mendominasi main actor perpolitikan Aceh. Mereka yang dianggap merupakan representasi mayoritas rakyat, mendapatkan dukungan luas akar rumput. Bukan hanya di level propinsi, tapi juga di berbagai kabupaten/kota, di mana GAM pernah kuat, di sana dukungan kepada pengikut Tengku Hasan di Tiro, membumi.

Namun, pasca pileg 2009, yang mengantarkan PA sebagai satu-satunya partai lokal terbesar di Aceh yang mampu menjadi penguasa parlemen di pusat propinsi maupun di daerah, perpecahan mulai terjadi. Banyak mantan kombatan, eks GAM sipil, yang kemudian beralih ke berbagai faksi politik lain. Tidak sedikit pula yang menyerahkan diri ke pelukan partai nasional, dengan berbagai alasan.

Hasil dari perpecahan ini mulai bisa dibaca pada pileg 2014. Walau jumlah kursi di DPRA bertambah menjadi 81, PA hanya mendapatkan 29 kursi. Mereka kehilangan empat kursi. Padahal di pileg 2009, mereka mampu meraih 33 kursi dengan total jumlah kursi DPRA hanya 69.

***

Pilkada dan pileg tentu dua hal yang berbeda. Di pilkada boleh saja anak ideologi Hasan di Tiro masih bisa saling bertukar posisi, tapi tidak demikian dengan pileg. Setiap kehilangan kursi PA, tidak berarti itu beralih ke Partai Nasional Aceh (PNA) kini menjadi Partai Nasional Aceh dengan singkatan yang sama (PNA adalah grup politik lain yang mayoritas anggotanya adalah mantan TNA GAM).

Sejumlah parta nasional seperti Golkar, NasDem, Demokrat, PAN, PPP, merupakan ancaman serius. Apalagi, partai-partai itu semakin selektif menempatkan calon anggota legislatif. Suara dukungan rakyat selalu akan mengalir ke mereka. Apalagi dengan berkembangnya adagium bahwa PA dan PNA sama saja.

“Saya tidak lagi melihat partainya, tapi sudah melihat orangnya. Tak penting dari partai apa seorang caleg maju, tapi siapa caleg itu. Sudah tidak masanya lagi menipu pemilih,” ujar Abdullah (45) warga Aceh Besar.

Hal yang senada juga dikatakan oleh Ibrahim bin Musa (50) warga Bireuen. “saya sayang kepada PA, tapi kalau calon yang dimajukan, pintar kita daripada dia, kan lebih baik pilih parnas. Di DPR bukan bertempur dengan senjata, tapi bertempur dengan akal dan pikiran, demi membela kepentingan rakyat. Lagian, baik parlok maupun parnas, semua anak bangsa Aceh. Hanya beda warna baju saja,” katanya. []

 

 

KOMENTAR FACEBOOK