Soal Hukum Syariat Di Aceh, Leumo Grop Paya Guda Cot Iku

Foto: Tribunnews.com

TGK MAKNU: Allahu Allah Allahu Rabbi
Sayang seukali Aceh Mulia
Germo di luar datang ke mari
Mengelola prostisusi di dunia maya

Prostisusi online canggih seukali
Sulit dimengerti kalangan tua
Si orangtua hanya ketahui
Jadi mahasiswi anak mereka

APA KAOY: Cukup, Teungku Maknu. Tak usah diteruskan.

POLEM: Jeh? Kenapa distop, Apa Kaoy? Padahal enak seukali irama nyang Teungku Maknu deundangkan.

APA KAOY: Polem hanya menikmati irama, tidak menyimak isi syair. Polem baru datang, jadi tidak mengerti tentang topik nyang seudang kami bicarakan.

POLEM: Memangnya Apa Kaoy dan Teungku Maknu seudang meungobrol tentang apa?

TGK MAKNU: Begini, Polem. Tadinya kami seudang membahas tentang beurita tertangkapnya MRS alias Andre, germo prostisusi online asal Sumatera Utara, beserta 7 orang wanita PSK, oleh personel Polresta Banda Aceh di salah hotel kawasan Aceh Besar beberapa hari lalu.

POLEM: O…, tau saya itu. Seulalu saya ikuti beuritanya. Ke 7 orang wanita PSK tersebut, meunurot beurita di surat haba, adalah masih berstatus mahasiswi di Banda Aceh. Dan mareka itu berasal dari beberapa daerah di Aceh. Karena harganya mahal, sampai jutaan, maka pelanggan mareka itu lebih banyak dari kalangan Pejabat Pomeurintah dan pengusaha. Iya begitu kan, meunurot nyang diberitakan?

TGK MAKNU: Ternyata suka juga Polem mengikuti beuritanya, ya?

POLEM: Ya, saya suka itu. Bah beu idrop keudeh. Makanya saya tanya, kenapa Apa kaoy stop tadi ketika Teungku Maknu seudang bersyair tentang itu?

APA KAOY: Saya meurasa sedih, Polem.

POLEM: kenapa haros seudih? Kon aneuk droeneuh, dan kon syedara droeneuh.

APA KAOY: Sedih, karena mareka itu adalah para mahasiswi nyang seudang menuntut ilmu. Sedih, karena para orangtuanya di kampung adalah saudara-sauadara kita juga. Sedih, karena para orangtuanya di kampung nyang mareka tau bahwa anak-anaknya adalah pergi kuliah di Banda Aceh, atawa di Kota-Kota lainnya. Orangtua mareka di kampung mungkin bekerja banting tulang dan berdoa siang-malam untuk anaknya nyang seudang menuntutut ilmu di kota-kota. Para orangtua di kampung, bahkan mungkin juga di kota, banyak nyang tidak mengerti tentang kecanggihan alat komunikasi seukarang nyang digunakan oleh anak-anaknya. Terpikir hal-hal seperti itulah maka saya sedih, Polem. Poh soh-soh keudeh.

POLEM: Tak perlu seudih begitu. Kan mareka nyang terlanjor di jalan salah itu sudah ditangkap seukarang. Pasti nantinya akan diproses seucara hukom nyang berlaku di daerah kita. Mungken mareka akan dihukom cambok nanti. Kita doakan saja semoga seutelah itu mareka sadar dan tidak mengulangi lagi.

TGK MAKNU: Meunurot beurita surat haba seulanjutnya, reuncana hukom cambuk terhadap mareka itu mulai di tentang oleh salah satu organisasi yang bergerak dalam bidang pemberdayaan dan pemenuhan hak perempuan.

POLEM: Peu hak? Hak bagi perempuan untuk boleh berbuat seuperti itu. Untuk kaum laki-laki juga tidak dibolehkan untuk menggunakan hak berbuat seperti itu. Mau berbuat juga? Silakan. Tapi ingat, bahwa seutiap nyang dilarang itu pasti hukomnya, berdosa. Terbebas dari hukom di dunia, Tuhan pasti akan menhukom juga di akherat. Kon nyo meunan, Teungku Maknu?

TGK MAKNU: Beutoi, Polem. Na neu deungo, Apa kaoy? Ternyata Polem bijak seukali berbicara hari ini.

APA KAOY: Kiban geu neuk teurapkan hukom nyang berlaku di daerah kita? Na teingat neuh kasus Pak Untung Sangaji, mantan Kapolres Aceh Utara, menangkap para LBGT deungon maksud untuk membina? Itupun mendapat sorotan sampai dunia Internasional, karena dianggap meulanggar HAM.

TGK MAKNU: Na teingat neuh, Polem? Tentang peraturan Pomerintah Kabupaten Aceh Besar nyang ingin meneurapkan wajib berjilbab bagi para pramugari? Itu juga kan dipermasalahkan juga oleh segentir pihak luar?

POLEM: Nyan keuh, seulalu begitu mareka-mareka itu. Asal menyangkut tentang penerapan hukom syariat di Aceh mareka itu persis seperti kata Nek Tu kita lam hadih maja, “Leumo grop paya, guda cot iku”. Seulalu saja mareka suka ikut campur persoalan sesuatu aturan nyang diterapkan Aceh untuk kebaikan daerahnya. []

Banda Aceh, 30 Maret 2018.

KOMENTAR FACEBOOK